PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #41

KEJUJURAN SOAL RANDU

​Bel istirahat berdentang nyaring, memicu sorak-sorai tertahan dari tiap sudut kelas. Dalam sekejap, koridor sekolah berubah menjadi lautan abu-abu putih yang riuh. Gelombang murid berhamburan keluar, sebagian besar langsung melesat menuju kantin demi memuaskan perut yang sudah berdemo sejak jam pelajaran kedua, sementara gerombolan siswa laki-laki berlarian menuju lapangan, saling panggil untuk segera memulai pertandingan bola rutin mereka.

​Salma masih terdiam di bangkunya, tangannya tanpa sadar mendekap tas sekolahnya lebih erat.

​"Sal, kantin yuk? Laper banget nih, tadi pagi nggak sempat sarapan," ajak Risa sambil menepuk bahu Salma, membuyarkan lamunannya.

​Salma mendongak, melihat Risa, Alisa dan Vita yang sudah berdiri siap di samping mejanya.

"Gimana buku kamu? Udah ketemu, Sal?" Tanya Alisa.

Salma mengangguk. "Udah, kok." jawabnya singkat.

​"Ketemu dimana? Terus maksud kamu yang isinya ada nama Randu itu, apa?" tanya Kayla penuh selidik. Matanya menyipit, mencoba menggali informasi lebih dalam dari ekspresi wajah Salma yang mulai tidak menentu.

​"Iya, bener!" sahut Kinan dengan anggukan mantap. Rasa ingin tahunya sudah di ujung tanduk. Ia bergerak lebih dekat, menatap Salma seolah sedang menginterogasi tersangka utama. "Ah! Apa jangan-jangan, kamu... diam-diam suka sama Randu. Iya, kan?"

​Pipi Salma seketika memanas. Rona merah merambat cepat dari leher hingga ke telinganya, menciptakan kontras yang jelas di wajahnya yang biasanya pucat.

​"E-enggak... itu cuma... anu," gagap Salma. Lidahnya mendadak kelu, seolah semua kosakata yang biasa ia susun dalam tulisan mendadak menguap entah ke mana. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana sosok Randu mulai menyelinap di antara spasi dan baris kalimat yang ia tulis.

​Sementara itu, Vita, yang merupakan satu-satunya orang di meja itu yang telah membaca isi diari tersebut secara utuh, hanya diam memperhatikan reaksi Salma yang tampak seperti kepiting rebus.

Ada senyum tipis yang penuh arti tersungging di bibir Vita. Ia tahu betapa jujurnya perasaan Salma yang tertuang dalam buku itu—tentang bagaimana Randu perlahan mulai memberikan warna baru yang berbeda dari memori kelabu tentang Adit.

"Aduh." Gumam Vita seketika sambil memegang bawah perutnya. "Siapapun, anter aku ke toilet, yuk!"

Kinan dan Kayla yang tadi sedang asyik menginterogasi Salma langsung menoleh. Perhatian mereka teralih seketika dari urusan Randu ke wajah pucat Vita.

​"Kenapa, Vit?" Tanya Kayla.

​"Kayaknya aku mau pipis, nih. Gak kuat nahan," jawab Vita, sambil sedikit berakting meringis seolah benar-benar sudah di ujung tanduk. Ia melirik Salma sekilas, memberikan kode lewat kedipan mata bahwa ia sedang memberikan jalan keluar bagi sahabatnya itu dari "sidang" teman-temannya.

​Risa, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, langsung beranjak dari kursinya dengan sigap. "Eh, bareng aku aja yuk! Aku juga udah merasa nggak enak nih, sekalian mau benerin kunciran rambut," sahut Risa tanpa curiga.

​Vita sempat tertegun sejenak. Rencana awalnya adalah membawa Salma pergi agar mereka bisa bicara berdua, atau setidaknya membebaskan Salma dari cecaran pertanyaan Kayla dan Kinan. Namun, semangat Risa yang tiba-tiba ini justru membuat situasi jadi berbeda.

​"Eh, iya... ayo, Ris," ujar Vita akhirnya, berusaha tetap tenang meski rencananya sedikit meleset. Ia melirik Salma yang masih tampak tegang, lalu otak cerdiknya berputar mencari alibi baru agar Salma bisa punya alasan untuk sendiri, setidaknya menenangkan diri sebelum teman-temannya kembali melakukan "sidang" yang lebih intens.

​"Tapi, mumpung kita mau berdiri nih, mending sekalian aja," lanjut Vita sambil menoleh ke arah Alisa, Kayla dan Kinan. "Kantin kayaknya makin penuh, mending kalian bertiga buruan ke kantin. Biar Salma aja yang nitip jajanan. Gimana? Ntar, aku sama Risa nyusul.

​Vita mengedipkan sebelah matanya ke arah Salma, sangat cepat. "Gimana, Sal?"

​Risa mengangguk setuju. "Bener juga, ide Vita bagus juga, tuh. Kamu mau nitip jajan apa, Sal? WA mereka, ya!"

Salma mengangguk pelan, bibirnya mengulas senyum tipis. Ia menatap Vita dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam pada sahabat barunya yang benar-benar tahu kapan ia butuh oksigen untuk bernapas di tengah kepungan pertanyaan, meski cepat atau lambat, rahasianya pasti akan mereka ketahui. Namun, setidaknya untuk lima belas menit ke depan, ia punya waktu untuk sendiri. Menenangkan gemuruh di dadanya sebelum kembali menghadapi kenyataan bahwa dunia fiksi dan dunia nyatanya kini sudah benar-benar tumpang tindih.

****

​Sudah beberapa menit Salma duduk mematung di kelas yang kosong melompong. Kesunyian itu seharusnya menenangkan, namun justru membuat pikirannya makin liar melayang. Tiba-tiba, suara derit pintu dan langkah kaki yang terburu-buru membuatnya tersentak.

​Salma menoleh dan mendapati Randu berdiri di ambang pintu. Napas lelaki itu tersenggal-senggal, peluh membasahi dahi dan seragamnya setelah bertanding di lapangan. Alih-alih langsung menuju bangkunya, Randu justru melempar senyum tipis yang terasa begitu intens.

Lihat selengkapnya