Teng...! Teng...! Teng...!
Dan, sejak kejadian itu... aku menutup semua ruang tentang Adit. Duniaku kini terpusat pada Randu. Aku tahu itu adalah hal memalukan. Ketika Randu menuntut kejujuran, aku akhirnya menyerah pada perasaan yang susah payah kusembunyikan. Lucu, betapa satu tatapan dari Randu mampu menghancurkan benteng yang kubangun bertahun-tahun. Aku merasa sangat kecil, namun Randu... dia hanya menerima kejujuranku seperti laut menerima sungai. Tenang, dalam, dan tanpa riak yang berarti. Sikapnya yang 'biasa saja' justru menjadi siksaan yang paling indah.
Dia adalah magnet yang tidak memiliki kutub penolak. Semakin aku mencoba menjauh karena rasa malu, semakin kuat tarikan gravitasi yang ia ciptakan. Aku terhisap ke dalam porosnya, tergulung dalam aroma maskulin dan keringat yang kini menjadi candu baru bagiku.
Pikiran ini mulai menipu logikaku. Batas antara kenangan dan kenyataan kini memudar total. Aku mulai percaya bahwa mungkin, Adit yang selama ini kusembah hanyalah sebuah draf kasar, tapi Randu adalah bentuk sempurnanya yang akhirnya mewujud.
Sungguh. Aku telah kehilangan kendali atas penaku sendiri. Cerita ini bukan lagi milikku, tapi miliknya.
Sal!" seru seseorang, memecah lamunan Salma di tengah deru mesin motor yang mulai memenuhi area parkir.
Salma menoleh, dan seketika wajahnya yang tadi tampak tegang mendadak berseri-seri. Ia mendapati Vita tengah berlari kecil ke arahnya dengan napas sedikit terengah namun membawa binar mata yang penuh semangat.
"Pagi banget, Sal!" goda Vita sambil merangkul bahu Salma dengan akrab.
"Harus!" Jawab Salma. "Aku gak mau di amuk lagi sama Pak Edi kayak minggu kemaren gara-gara telat masuk kelas."
Vita terkekeh. "Trauma ya, Sal?"
"Yap!" Angguk Salma.
"Well, lagipula... kita udah kelas dua belas, harus lebih rajin si harusnya. Apalagi, bentar lagi ujian."