"Selamat pagi, anak-anak!" seru seorang pria berusia empat puluh tahun dengan suara baritonnya yang mantap. Logat Medan yang kental langsung memenuhi seisi ruangan begitu beliau melangkah masuk ke dalam kelas.
Semua siswa pun serentak bangkit dari duduk mereka, menyambut sang guru dengan salam yang kompak. Arkan, sang Ketua Murid yang sudah tiga tahun setia mengabdi dalam jabatannya, segera memimpin dengan sigap untuk memberi salam penghormatan.
"Baik anak-anak. Duduklah! Buka halaman tiga ratus dua. Kita masuk bab terakhir pelajaran PKN sebelum kalian benar-benar bertarung dengan Ujian Sekolah nanti," jelas Pak Edi tegas. Ia lalu meletakkan tasnya di meja, dan segera mengambil spidol. "Ini akan saya bahas secara mendalam, dan kalian harus simak baik-baik karena ini adalah inti dari semuanya," tambahnya sembari menuliskan judul besar di papan tulis dengan tulisan yang rapi dan tegas, CINTA TANAH AIR.
Di barisan paling depan, Salma segera membuka bukunya dengan gerakan pelan. Pikirannya melayang mundur, mengingat kembali masa-masa awal transisinya ke kelas dua belas. Saat itu, ia sempat merasa ragu ketika mengetahui aturan duduk di kelas harus berpasangan dua-dua, dan Alisa justru mengajaknya untuk menempati bangku di garda terdepan.
Bagi Salma yang terbiasa mencari aman di kerumunan, duduk tepat di hadapan meja guru adalah sebuah ancaman besar. Rasanya seperti menempatkan diri di bawah pengawasan radar yang tajam, yang siap mendeteksi setiap kesalahan, setiap lamunan, atau bahkan setiap coretan tidak penting di buku catatannya. Ia merasa tidak akan punya ruang untuk bersembunyi dari interogasi sang pengajar.
Namun, keraguan itu perlahan luntur seiring waktu. Duduk di depan ternyata bukan tentang menjadi target, melainkan tentang keberanian untuk terlihat. Alisa, dengan ketenangan dan kecerdasannya, membuktikan bahwa jarak yang dekat dengan papan tulis justru memberikan kejernihan—bukan hanya bagi penglihatan, tapi juga bagi pemahamannya. Kini, bangku depan bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan satu-satunya tempat di mana ia bisa sedikit lebih fokus dan tidak terlalu hanyut dalam hiruk-pikuk dunianya sendiri.
Dan, duduk di samping Alisa, si sang juara bertahan peringkat pertama, membawa dampak positif yang tak terduga. Semangat belajar Alisa yang membara seolah menular lewat udara, memicu dirinya untuk tidak mau kalah dalam mencatat dan menyimak. Alisa sering kali membantunya menyederhanakan penjelasan yang rumit, menjadikannya mentor sebaya yang paling sabar.
Namun, meski lingkungan belajarnya sudah jauh lebih kondusif, ada beberapa benteng yang tetap kokoh tak tergoyahkan dalam kepala Salma. Sampai saat ini, ia masih menaruh kebencian yang mendalam pada Matematika. Baginya, deretan angka rumit dan rumus-rumus yang berbelit itu seperti bahasa asing dari planet lain yang menolak untuk masuk ke logikanya.
Tak jauh berbeda dengan Bahasa Inggris, mata pelajaran yang satu itu pun selalu ia hindari dengan enggan. Meski ia rajin menulis dan mahir merangkai kata dalam bahasa ibu, ia merasa jiwanya tidak pernah selaras dengan struktur tata bahasa asing yang menurutnya terlalu membingungkan. Baginya, angka dan kosakata asing itu adalah hal yang mengganggu dunianya yang sudah penuh dengan imajinasi dan rasa.
Salma sadar, meski ia sudah berani duduk di depan, perjuangannya menaklukkan "dua musuh bebuyutan" itu masih merupakan perjalanan panjang yang belum menemui titik terang. Sama seperti perasaannya kepada Randu. Hingga detik-detik mau lulus sekolah sebentar lagi, tak sekecil pun hatinya bisa melupakan sosok Randu yang jelas-jelas tak pernah memberikannya kesempatan untuk singgah.