Bel sekolah berbunyi dengan nada yang terasa lebih panjang dari biasanya, menandakan berakhirnya jam pelajaran Pak Edi sekaligus menutup sesi "kuliah cinta" yang tak terduga itu. Kelas yang tadinya hening mendadak bising oleh geseran kursi dan obrolan tentang rencana makan siang.
Salma segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan gerakan cekatan, seolah-olah setiap detik yang ia habiskan di dalam kelas adalah ancaman bagi pertahanan mentalnya yang mulai retak.
"Sal, ke kantin yuk?" ajak Vita yang beberapa semester ini, duduk di bangku belakang Salma bersama Kayla.
"Duluan aja, Al." Jawab Salma. "Males ke kantin."
"Tumben." Sahut Ayla datang mendekat. "Oh atau mau nitip aja?"
"Boleh." Angguk Salma.
"Yuk, gaaas!" sahut Risa dengan semangat.
Gadis itu bahkan lebih nekat dari Salma. Bersama Kinan, ia duduk di meja paling depan, tepat berhadapan langsung dengan meja guru.
Begitu mereka pergi, satu per satu sosok di dalam kelas pun lenyap, menyisakan keheningan yang mendadak terasa mencekik. Namun, Salma tidak benar-benar sendirian, kesunyian itu justru membawa ia kembali menuju bayang-bayang yang sedari tadi coba ia usir. Ia lalu beranjak dari bangkunya, langkahnya terasa berat saat ia berjalan menyusuri koridor yang mulai ramai di duduki barisan para murid yang asyik menonton pertandingan bola.
Ya. Pandangan Salma tertuju ke arah lapangan. Di bawah terik matahari, ia melihat Randu tengah bermain bola bersama teman-temannya. Harus diakui, melihat Randu beraksi di lapangan selalu menjadi pemandangan yang paling indah baginya. Cara Randu menggiring bola, gerakannya yang tangkas saat mengecoh lawan, hingga cara ia menyeka keringat di dahi, semuanya terasa seperti potongan adegan film yang selama ini Salma simpan rapat di memorinya.