Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #1

Bersama Ibu

Setiap Sabtu sore, Nenek selalu lebih sibuk dari biasanya. Ia setengah jongkok di depan lemari bajuku. Pintu lemarinya sudah terbuka lebar. Satu per satu baju yang sudah dilipat rapi dimasukkan ke dalam tasku. Tiga kaus, tiga celana, dan tiga celana dalam. Tas yang biasanya penuh buku pelajaran dan alat tulis sekarang kosong karena semuanya sudah dikeluarkan sejak siang.

Aku berdiri beberapa langkah darinya. Ponselku kupegang mendatar. Jempolku sibuk bergerak di atas layar. Suara tembakan dari game online memenuhi telingaku. Sesekali aku melirik ke arah Nenek, lalu kembali menatap layar.

“Entar kalau udah di tempat Ibu atau di tempat Ayah, jangan main gim mulu,” kata Nenek.

Aku hanya mendengarnya separuh.

“Put, denger, nggak?”

“Hmm…” Aku menjawab sekenanya. Barusan musuh hampir ketemu, tinggal sedikit lagi.

“Putra?” panggil Nenek lagi.

Musuh tiba-tiba muncul dari balik tembok. Belum sempat melakukan apa pun, layar langsung berkedip merah. Karakterku tertembak. “Aduh! Mati, kan…”

“Putra!” Kali ini suara Nenek sedikit lebih keras. “Mulut Nenek sampe berbusa manggil kamu.”

Aku mengembuskan napas pendek, lalu mengangkat kepala. “Iya, Nek. Putra denger.”

Nenek menghela napas pelan. Ia berdiri dengan gerakan yang pelan, satu tangannya menekan pinggang setiap kali selesai jongkok agak lama. Setelah itu ia mengangkat tasku. “Nih.”

Tas itu dipakaikannya ke pundakku. Beratnya langsung terasa menarik sedikit bahuku ke belakang.

“Kuat, kan?” Nenek memastikan.

Aku mengangguk.

Nenek lalu merapikan resleting jaketku yang miring, menepuk-nepuk bahuku sebentar sampai lipatannya rapi. Baru setelah itu aku memasukkan ponsel ke kantong celana.

“Awas, hati-hati naro HP-nya,” ucap Nenek.

“Iya,” sahutku. Lalu aku baru ingat sesuatu. “Nek, katanya mau ngajarin Putra buka pintu pake kunci.”

“Oh iya,” Wajah Nenek langsung berubah ingat. “Sini.”

Kami berdiri di depan pintu.

Nenek menutup pintunya lebih dulu, lalu memasukkan anak kunci ke lubangnya. “Nih, lihat baik-baik.” Tangannya memegang gagang pintu, sementara tangan satunya lagi memutar kunci pelan. “Ini tinggal diteken dikit…” Ia mencontohkan dengan perlahan. “... terus diputer.”

Suara kunci yang baru saja terbuka terdengar. Pintunya kemudian didorong pelan ke depan.

Sekarang giliranku. Aku mengambil kuncinya dari tangan Nenek. Lalu memasukkannya seperti yang diajarkan. Sedikit kutekan, lalu kuputar. Langsung berhasil. Aku sedikit terkejut karena ternyata cukup mudah.

Nenek tersenyum kecil. “Gampang, kan?”

Aku mengangguk. “Iya,” ucapku masih memandangi kunci yang ada di tanganku. “Tapi kenapa Ibu nggak bisa ya, Nek?”

Nenek ikut melihat ke arah pintu sebentar, lalu mengangkat bahu. “Nggak tahu, tuh,” ia tersenyum tipis. “Emang dari dulu dia begitu.”

Sebelum pergi, aku mencium punggung tangan Nenek.

Baru beberapa langkah meninggalkan kamar kos, suara Nenek kembali memanggil. “Put.”

Aku segera menoleh.

Nenek masih berdiri di depan pintu sambil menatapku. “Inget apa selama di tempat Ibu sama Ayah?”

Aku mengembuskan napas pelan. Pertanyaan itu lagi. Selama lima tahun terakhir, Nenek selalu menanyakannya setiap kali aku pergi menginap ke tempat orangtuaku. “Iya, Nek. Putra inget,” jawabku agak jengkel.

“Apa?”

“Anak baik itu yang nggak banyak minta,” kataku seperti sedang menghafal. “Kalau Ayah lagi capek kerja, jangan ditambah bebannya. Kalau Ibu lagi banyak pikiran, jangan suka ditanya-tanya.”

Nenek menggerakkan wajahnya sedikit ke depan. “Apa lagi?”

Aku berpikir sebentar, mencoba mengingat sisanya. “Kalau ada kerjaan yang bisa dikerjain, kerjain sendiri, jangan nunggu disuruh. Jangan lupa bilang makasih kalau habis dikasih makan.”

Nenek tersenyum lalu mengangguk. “Ya udah. Kamu hati-hati di jalan, ya.”

“Iya, Nek.” Aku pun berjalan keluar dari kamar kos.

Aku dan Nenek tinggal di rumah kos milik Ayah. Bangunannya besar, memiliki dua lantai. Kata Nenek, ada lima puluh kamar di sini. Bahkan masih ada beberapa yang kosong. Tapi Ayah tetap tidak mau tinggal di sana. Katanya, lebih enak menerima uang sewanya setiap bulan daripada ikut menempatinya.

Aku pernah dengar Nenek bilang kalau Ayah tidak mau tinggal di sini karena selalu mengingatkannya pada Ibu kandungnya yang sudah meninggal enam tahun lalu.

Di depan rumah kos sudah ada Bapak ojek online yang tadi kupesan. Begitu aku menghampirinya, bapak itu langsung menyerahkan sebuah helm. Aku memakainya, lalu naik ke jok belakang. Tujuan kami ke stasiun KRL yang jaraknya hanya sekitar lima belas menit dari rumah kos.

Di usiaku yang baru sebelas tahun, aku memang harus bisa melakukan banyak hal sendiri sejak Ayah dan Ibu tidak lagi tinggal bersamaku. Lima tahun lalu aku belum benar-benar mengerti apa yang terjadi. Aku hanya tahu mereka tidak pernah pulang bersama. Tapi sekarang aku paham, mereka sudah bercerai.

Motor berhenti tepat di depan pintu masuk stasiun. Aku turun, melepas helm, lalu mengembalikannya. “Makasih, Pak.”

“Iya, sama-sama, Dek.”

Aku mengangguk kecil sebelum masuk ke dalam stasiun. Dari saku celana, aku mengeluarkan kartu elektronik. Kartu itu kutempelkan ke mesin di pintu masuk. Terdengar bunyi bip, lalu penghalangnya terbuka, dan aku pun masuk ke dalam.

Aku sudah hafal caranya. Namun hampir setiap kali naik KRL, selalu ada yang memperhatikanku. Kadang hanya melihat sekilas. Kadang benar-benar memastikan.

Lihat selengkapnya