Suara teriakan anak-anak di depan rumah membangunkan tidurku. Sinar matahari tidak bisa masuk sempurna karena gorden di jendela masih tertutup. Aku meraih ponsel yang semalaman diisi daya. Baterainya sudah penuh, sementara jam di layar menunjukkan pukul 08.00.
Aku berjalan ke dalam hendak ke kamar mandi. Saat melewati kamar tengah, kulihat Ibu masih tidur. Seragam kerjanya tergantung di dekat pintu kamar. Ibu bekerja sebagai pramusapa di TransJakarta.
Aku mencuci muka, lalu keluar mengambil uang sepuluh ribu yang ada di atas dispenser. Setelah itu aku pergi ke warung Mama Ida untuk membeli nasi uduk. Mama Ida memberiku satu gorengan tempe secara gratis.
Aku kembali masuk ke dalam rumah dan menghabiskan sarapanku. Setelah itu aku mandi, berganti pakaian, lalu memasukkan pakaian kotor ke dalam kantong plastik sebelum kusimpan lagi di dalam tasku.
Semuanya sudah selesai. Aku masuk ke dalam sebentar. Kali ini aku berdiri lebih lama di depan kamar, menatap Ibu yang masih tertidur. Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Putra pamit dulu, Bu,” kataku pelan sekali, seperti bisikan yang hanya bisa kudengar sendiri.
Setelah itu aku pun keluar rumah.
Perjalanan ke apartemen Ayah berlawanan arah dengan saat aku pergi ke kontrakan Ibu. Aku tetap naik angkutan umum menuju stasiun KRL, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta sampai stasiun tujuan. Apartemen Ayah berada di kota yang sama dengan tempat aku tinggal bersama Nenek, hanya berbeda kabupaten.
Perjalanan kali ini memakan waktu lebih dari satu jam. Saat kulihat ponsel, jam sudah menunjukkan pukul 09.50.
Dari stasiun aku berjalan kaki menuju apartemen Ayah yang memang letaknya tidak jauh. Di sepanjang perjalanan, aku sudah mengirim pesan kepada Ayah kalau aku sudah hampir sampai.
Begitu masuk ke lobi apartemen, Ayah sudah menungguku. Ia mengenakan kaus, celana pendek, dan sandal tebal.
“Yah,” panggilku.
Ayah tersenyum tipis. Ia merangkul pundakku sebentar saat kami berjalan menuju lift. “Udah sarapan kamu?” tanyanya.
“Udah, Yah,” jawabku pendek.
Lift terbuka, lalu kami masuk ke dalam. Ayahku berusia empat puluhan. Namanya Dodi. Kulitnya putih bersih dengan rambut pendek yang selalu dipotong rapi. Aku tidak pernah benar-benar tahu pekerjaannya apa. Yang kutahu, Ayah bekerja di sebuah kantor besar di pusat kota.
Setelah keluar dari lift, aku mengikuti Ayah menyusuri lorong apartemen hingga kami berhenti di depan pintu unitnya.
“Oh ya,” kata Ayah sambil mengeluarkan kartu akses dari dompetnya. “Di dalem masih ada temen Ayah. Nanti kamu di kamar aja, ya. Jangan keluar-keluar.”
Aku mengangguk.
“Main PS aja di dalem,” lanjutnya. “Entar kalau laper, kamu WA Ayah aja.”
Aku kembali mengangguk. “Iya, Yah.”
Ayah tersenyum tipis, lalu menempelkan kartu itu ke panel di samping pintu. Pintunya terbuka. Kami pun masuk ke dalam.
Teman Ayah terlihat sedang duduk di kursi meja makan. Seorang pria yang lebih muda dari Ayah, usianya sekitar tiga puluhan. Aku sudah sering melihatnya. Hampir setiap minggu, setiap kali aku datang ke apartemen, dia juga datang. Ayah memanggilnya Ken.
Seperti yang Ayah minta, aku langsung masuk ke kamar yang memang biasa kupakai selama menginap di apartemen itu. Saat berjalan melewati ruang tengah, aku hanya melihat Ken sekilas.
Ayah tidak pernah mengenalkannya lebih jauh kepadaku. Aku juga tidak pernah tahu apa hubungan Ken dengan Ayah. Sama seperti yang selalu diingatkan Nenek, aku tidak boleh ikut campur urusan kedua orangtuaku. Karena itu aku tidak pernah bertanya.
Sesampainya di dalam kamar, aku meletakkan tasku di bawah meja. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu dikunci dari luar. Ayah memang selalu mengunci pintu kamar kalau aku sedang berada di apartemen dan Ken datang.
Di atas meja sudah ada televisi dan PS3. Itu yang paling kusukai kalau menginap di apartemen Ayah. Aku bisa bermain seharian tanpa diganggu. Aku melepas jaket, duduk di pinggir kasur, lalu menyalakan televisi dan PS. Setelah mengambil stik, aku langsung masuk ke dalam permainan.
Waktu berjalan tanpa terlalu kupedulikan. Di dalam kamar itu tidak ada jendela. Kalau tidak melihat jam di ponsel, aku tidak pernah tahu sekarang sudah siang atau sore.
Di tengah permainan, aku mendengar suara tawa dari luar kamar. Tidak terlalu keras, tapi masih bisa kudengar.
Aku menghentikan permainan, lalu berjalan mendekati pintu. Kutempelkan telingaku di sana. Aku mendengar Ayah dan Ken sedang tertawa. Lalu terdengar suara seperti bagian tubuh yang ditampar. Sekali. Dua kali. Lama-lama aku tidak bisa menghitungnya lagi.
Aku sempat khawatir mereka sedang bertengkar. Namun tidak lama kemudian, suara tawa mereka terdengar lagi. Sesekali ada suara yang sedikit lebih keras, lalu langsung disusul suara seperti seseorang mengingatkan kalau aku sedang ada di dalam kamar. Setelah itu suara mereka kembali mengecil.
Aku tidak terlalu memikirkannya. Aku kembali duduk di depan televisi dan melanjutkan permainan PS.
Beberapa waktu kemudian, pintu kamarku terbuka. Ayah masuk sambil membawa satu bungkus ayam goreng dengan nasi cepat saji kesukaanku dan segelas soft drink. “Put, udah siang. Makan dulu,” ucapnya sambil meletakkan makanan itu di atas meja.
Aku menjeda permainan di PS. “Iya, Yah.”