Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #3

Asuh Anak

Saat ini aku duduk di depan ruang jenazah. Di depan ruangan itu ada deretan kursi besi yang menempel di lantai. Lampunya terang. Sesekali terdengar roda ranjang pasien melintas di lorong, disusul langkah para perawat dan petugas rumah sakit yang bergantian lewat. Tempat itu tidak terasa seram, hanya terasa sangat sunyi.

Kulihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 03.30.

Di sampingku hanya ada Kak Intan yang masih menemaniku. Beberapa jam yang lalu, tepat setelah tengah malam, dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan memberi tahu kalau Nenek sudah meninggal sebelum sempat sampai di rumah sakit.

Saat mendengar itu aku menangis sejadi-jadinya. Sekarang tangisku memang sudah reda, tetapi dadaku masih terasa sesak.

Aku masih tidak percaya. Kalau Nenek sudah tidak ada siapa yang nanti menyiapkan baju sekolahku? Siapa yang membangunkanku setiap pagi? Siapa yang mengingatkanku supaya tidak main game terus?

Aku terus menatap pintu ruang jenazah. Ayah dan Ibu belum datang. Terakhir, Ayah mengirim pesan kalau mereka sedang dalam perjalanan.

Di sampingku, Kak Intan menguap untuk entah yang ke berapa kali. “Orangtua kamu masih lama, Put?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan.

Kak Intan menatapku dengan tatapan sayu. “Tapi kamu udah chat mereka, kan?”

Aku mengangguk. Keadaan kembali sunyi beberapa saat.

“Put,” panggil Kak Intan pelan. “Nanti kalau orangtua kamu dateng, bangunin Kakak aja ya, kalau Kakak ketiduran.”

Aku menoleh ke arahnya. “Iya, Kak,” jawabku dengan suara yang masih serak.

Satu jam berlalu. Suara azan Subuh mulai terdengar dari masjid di luar rumah sakit.

Di sampingku, Kak Intan sudah tertidur. Sementara aku sendiri sebenarnya juga mengantuk, tetapi setiap kali memejamkan mata, yang terbayang selalu wajah Nenek yang tadi kulihat. Aku jadi tidak bisa benar-benar tidur.

Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari ujung lorong. Ibu sudah tiba bersama Ayah. Di samping mereka ada seorang petugas rumah sakit yang berjalan lebih dulu.

Aku segera berdiri.

Wajah Ibu terlihat berantakan. Matanya merah, wajahnya kaku, seperti menahan sesuatu sejak tadi. Ia sempat menoleh ke arahku sekilas, tetapi tidak berhenti. Petugas membuka pintu ruang jenazah, lalu Ibu langsung masuk ke dalam. Beberapa detik kemudian, suara tangis Ibu pecah dari dalam ruangan.

Aku tidak ikut masuk. Aku tidak mau mengganggu, hanya berdiri di depan pintu sambil kembali menangis pelan. Air mataku jatuh lagi tanpa bisa kutahan.

Ayah berhenti di sampingku. Ia memelukku sebentar tanpa berkata apa-apa.

Di saat yang sama, Kak Intan terbangun. Mungkin karena mendengar suara tangis dari dalam ruangan. Ia mengusap wajahnya, lalu berdiri. “Pak Dodi udah sampe.”

Ayah mengangguk singkat. “Kamu yang nemenin Putra di sini?”

“Tadi bareng sama tiga penghuni kos lainnya, Pak,” jawab Kak Intan. “Tapi mereka udah pada pulang jam dua belasan tadi. Soalnya besok pada kerja. Ini saya temenin Putra karena kebetulan besok libur, terus kasian aja sama dia sendirian.”

Ayah tersenyum tipis. “Makasih.”

Seorang petugas rumah sakit berjalan menghampiri Ayah sambil membawa beberapa lembar dokumen dan sebuah pulpen. “Tanda tangan di sini, Pak.”

Ayah membaca dokumen itu sebentar sebelum membubuhkan tanda tangannya.

“Langsung dibawa ke alamat tujuan, kan, Pak?” tanya petugas itu.

“Iya,” jawab Ayah. “Nanti perempuan yang di dalam itu naik sama kalian, ya. Dia yang ngarahin jalan.”

Petugas itu mengangguk, lalu berjalan pergi.

Lihat selengkapnya