Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #4

HP Disita

Hari demi hari terus berjalan. Aku juga harus mulai terbiasa menjalani semuanya sendiri. Tidak ada lagi Nenek yang membangunkanku setiap pagi. Tidak ada lagi yang menyiapkan sarapan sebelum aku berangkat sekolah. Semua harus kulakukan sendiri.

Suasana di rumah kos sebenarnya tetap sama. Lorongnya masih ramai, penghuni masih saling menyapa, dan setiap sore masih terdengar suara orang-orang yang mengobrol di depan kamar. Hanya saja, bagiku semuanya terasa jauh lebih kosong.

Aku tidak masuk sekolah selama dua hari. Barulah di hari ketiga aku kembali berangkat. Sekarang aku sudah kelas lima SD. Sekolahku tidak jauh dari rumah kos. Biasanya hanya sekitar sepuluh menit kalau naik ojek online.

Saat turun di depan gerbang sekolah, aku melihat teman sebangkuku, Aini, yang sedang turun dari motor ayahnya. Aku menunggunya di depan gerbang. Sejak kelas satu kami selalu sekelas. Aini mengenakan seragam dengan kerudung putih seperti biasanya.

Setelah mencium tangan ayahnya, Aini berjalan menghampiriku. Kedua matanya membulat. “Putra? Ke mana aja lu? Dua hari nggak masuk.”

Aku mengembuskan napas pelan. Kami berjalan berdampingan memasuki sekolah. “Nenek gua meninggal, Ai.”

Aini langsung berhenti. “Nenek lu meninggal? Serius?”

Aku hanya mengangguk dengan wajah yang masih terasa berat.

“Parah banget. Kenapa nggak ngabarin?” tanya Aini.

Aku kembali melangkah menuju kelas. “Nggak tahu. Lupa. Nggak kepikiran.”

Aini segera menyusul di sampingku. “Lu diabsenin sama guru. Soalnya nggak ada kabar, sih.”

Aku hanya diam sampai kami masuk ke dalam kelas.

Selama di kelas, aku tidak bisa benar-benar fokus. Pandanganku memang lurus ke arah guru yang sedang menjelaskan di depan kelas, tetapi pikiranku entah sedang berada di mana. Tanganku terus menulis di buku, namun setelah selesai menulis, aku sendiri tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja kutulis.

Sampai akhirnya bel istirahat berbunyi. Di kelasku ada dua puluh lima murid. Aku dan Aini pergi ke kantin yang letaknya tidak jauh dari ruang kelas. Setelah membeli jajanan, kami kembali lagi.

Baru saja aku masuk ke dalam kelas, salah satu temanku yang sedang jongkok di pojok kelas bersama dua anak lainnya langsung memanggil. “Woy, Putra. Sini.”

Aku menoleh sebentar ke arah Aini, lalu berjalan menghampiri mereka. “Apaan?”

“Lu login, lah. Mabar kita,” pinta temanku yang tadi memanggil. “Soalnya si Eko dongo banget.” Ia menunjuk temanku yang duduk paling samping. “Kita kalah mulu sama anak kelas enam.”

“Iya, iya.” Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu ikut jongkok bersama mereka.

Tidak lama kemudian, kami semua sudah masuk ke dalam game online yang memang biasa kumainkan di rumah. Kali ini kami bermain dengan mode tiga lawan tiga. Lawan kami adalah anak-anak kelas enam yang ruang kelasnya berada tepat di samping kelasku.

Tidak lama setelah aku bergabung dan baru masuk ke dalam room, seorang anak kelas enam membuka jendela kelas yang berada tepat di atas kami. Satu tangannya masih memegang ponsel.

“Jaki, ini siapa player baru? Putra?” tanyanya kepada temanku yang tadi mengajakku bergabung. Tatapannya langsung beralih kepadaku. Kedua matanya tampak sedikit membulat.

“Iya lah. Bakalan kalah lu sekarang,” jawab temanku dengan penuh percaya diri.

Di sekolah, aku memang sudah cukup dikenal jago bermain game itu.

Anak kelas enam tadi langsung masuk lagi ke kelasnya. Sebelum menghilang dari jendela, samar-samar aku mendengar suaranya. “Woy, Putra join… Putra join…”

Permainan pun dimulai. Awalnya pertandingan berjalan cukup seimbang. Namun beberapa menit kemudian, tim kami berhasil menang telak dengan skor tiga kosong.

Begitu permainan selesai, aku dan teman-temanku langsung berlari ke depan kelas enam. Kami menertawakan mereka sambil melompat-lompat.

“Yeh… baru menang sekali aja bangga!” teriak salah satu anak kelas enam.

Temanku langsung mendekat. “Menang sekali tapi langsung tiga kosong!” Ia tertawa keras. Aku dan teman-teman yang lain ikut tertawa.

“Lagian wajar aja tadi kita kalah. Yang satu nggak bisa maen,” sahut temanku yang lain.

“Bacot lu! Baru menang sekali aja udah banyak yapping,” balas anak kelas enam yang lain.

Kami masih terus saling melempar ejekan. Suasana mulai memanas.

Salah satu anak kelas enam tiba-tiba membenturkan tubuhnya ke salah satu temanku. “Mau apa lu? Ribut? Ayo, ribut!”

Suara-suara yang menyuruh mereka berkelahi mulai terdengar dari sekitar. Temanku yang ditantang langsung mendorong anak kelas enam itu. Anak kelas enam tersebut membalas dorongannya. Tidak lama kemudian, mereka saling memukul wajah.

Aku hanya berdiri menonton bersama beberapa anak yang lain. Aku tidak berani ikut campur. Badan mereka lebih besar dariku. Aku takut malah kena pukul.

Untungnya, tidak lama kemudian dua orang guru datang dan langsung melerai. Mereka yang berkelahi dibawa ke ruang guru, sementara kami yang lain diminta bubar dan kembali ke kelas masing-masing.

Saat pelajaran dilanjutkan, hari mulai menuju siang. Seorang guru datang dan meminta izin kepada guru yang sedang mengajar. Setelah itu ia memanggil namaku dan dua temanku yang tadi ikut bermain game saat jam istirahat.

Hatiku langsung berdebar. Aku sempat menoleh ke arah Aini yang terlihat bingung sebelum berdiri dan berjalan keluar bersama kedua temanku menuju ruang guru.

Di sana sudah ada Kepala Sekolah yang duduk di tengah. Aku jarang melihatnya. Ia seorang perempuan yang usianya kira-kira sama seperti Nenek, dengan kerudung tinggi yang selalu dipakainya. Di kursi depan sudah duduk tiga anak kelas enam, sementara kami bertiga dari kelas lima ikut duduk di kursi yang masih kosong. Selain Kepala Sekolah, ada juga dua guru lain, yaitu wali kelas enam dan wali kelasku.

Lihat selengkapnya