Siang hari aku duduk di bawah pohon di halaman sekolah, tidak jauh dari tiang bendera. Tubuhku sedikit gemetar sambil menatap ke arah ruang Kepala Sekolah yang pintunya masih tertutup rapat. Beberapa menit yang lalu, Kak Intan masuk ke sana sebagai wali yang akan mengambil ponselku. Sekarang jam sekolah sudah selesai, tetapi aku masih harus menunggu.
Sekitar lima menit kemudian, pintu ruang Kepala Sekolah terbuka. Kak Intan keluar dengan jaket dan tas selempang kerjanya yang masih dipakai. Begitu melihatnya, aku langsung berdiri. Kak Intan berjalan ke arahku, begitu juga aku yang segera menghampirinya.
Saat jarak kami sudah dekat, Kak Intan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Itu ponselku.
Aku hampir melompat kegirangan. “Yes! Makasih banyak, Kak,” kataku sambil menerimanya.
“Sama-sama,” jawab Kak Intan.
Setelah itu kami berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Namun sebelum sampai di depan gerbang, Kak Intan berbelok ke arah parkiran motor. “Kamu bisa pulang sendiri, kan? Aku mau lanjut kerja soalnya.”
Aku mengangguk. “Bisa, Kak.”
Kami pun berpisah.
Aku berdiri di depan gerbang sekolah sambil memesan ojek online. Tidak lama kemudian, Kak Intan keluar dari area parkir dengan motornya. Saat melewatiku, ia membunyikan klakson pelan sebelum melaju ke arah yang berlawanan dengan jalan pulangku.
Beberapa menit kemudian, ojek online yang kupesan datang. Aku pun naik dan pulang ke rumah kos.
Hari-hari berlalu tanpa benar-benar kurasakan berbeda, kecuali perasaan kehilangan karena Nenek sudah tiada. Setiap minggu semuanya masih berjalan seperti biasa. Hari Sabtu aku menginap di rumah Ibu, lalu hari Minggu di apartemen Ayah.
Kini sudah satu bulan berlalu. Selama itu juga aku yang mengurus rumah kos milik Ayah. Sejauh ini semuanya masih bisa kutangani. Setiap akhir bulan aku hanya perlu mengirim pesan kepada para penghuni kos agar mentransfer uang sewa ke rekening Ayah.
Sampai suatu malam, saat aku sedang tidur lelap, suara ribut-ribut dari luar membangunkanku. Awalnya aku tidak berani keluar. Yang kudengar hanya langkah kaki dari banyak orang di lorong.
Tidak lama kemudian pintu kamarku diketuk berkali-kali. Tubuhku langsung menegang.
“Put, ini aku. Buka, Put,” itu suara Kak Intan.
“I-iya, Kak,” jawabku terbata-bata sambil bergegas membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, pandanganku langsung tertuju ke ujung lorong. Di depan salah satu kamar sudah berkumpul belasan bapak-bapak berseragam.
“Siapa penjaga kosannya? Panggil, panggil,” terdengar salah satu dari mereka berkata.
Kak Intan langsung menoleh ke arah suara itu. “Ini, Pak,” sahutnya agak keras.
Salah seorang bapak itu mengangkat tangan memberi isyarat agar kami mendekat. “Sini!”
“Ada apa, sih, Kak?” tanyaku pelan. Dadaku mulai berdebar.
“Penghuni cewek kos yang di ujung itu digerebek Satpol PP,” jawab Kak Intan sambil mengajakku berjalan ke arah kerumunan. Dari ujung lorong terdengar suara seorang perempuan yang sedang menangis sambil berteriak marah. “Dia bawa orang ke kamarnya,” lanjut Kak Intan. “Cowok. Udah punya istri.”
“Pelakor bangsat!” teriak seorang perempuan dari dalam kamar kos.
Aku dan Kak Intan kini sudah berdiri di belakang belasan petugas Satpol PP. Salah satu dari mereka menoleh ke arah kami dengan wajah heran. “Mana penjaga kosnya?”
Kak Intan melirik ke arahku. “Ini, Pak.”
“Ini? Anak kecil?” Petugas itu langsung mengernyit.