Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #6

Jadwal Asuh

Setelah pulang dari sekolah, aku langsung menuju rumah Pak RT. Aku memang belum benar-benar diizinkan kembali ke rumah kos. Pagi tadi saja aku hanya sempat ke sana sebentar untuk mengambil seragam sekolah.

Aku baru saja turun dari ojek online ketika melihat mobil Ayah sudah terparkir di depan pagar rumah Pak RT. Dadaku langsung berdebar. Aku mendorong pagar pelan, lalu masuk sambil mengucapkan salam.

Di ruang tamu sudah ada Pak RT, Ayah, dan Ibu. Mereka duduk di kursi yang berbeda. Suasananya terasa tegang. Saat aku masuk, obrolan mereka langsung terhenti.

Aku menghampiri mereka satu per satu. Kucium tangan Ayah terlebih dahulu karena posisinya paling dekat, lalu Ibu, kemudian Pak RT. Setelah dipersilakan, aku duduk di salah satu kursi yang masih kosong.

“Baru pulang kamu, Put,” kata Pak RT.

Aku menoleh ke arahnya sambil mengangguk kecil.

“Mau makan dulu?”

Aku menggeleng. “Belum laper, Pak.”

Pak RT mengangguk pelan, lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada kedua orangtuaku. “Saya ulangi lagi, Dodi… Wulan…” ucapnya dengan suara yang tertahan. “Untuk urusan Putra, Satpol PP sudah menyerahkan ke saya. Karena dari saya sendiri masih menyanggupi untuk memediasi permasalahan keluarga kalian. Tapi kalau sudah tidak bisa lagi, maka mau tidak mau saya akan lapor lagi ke mereka. Dan bukan hal yang mustahil mereka akan melaporkan kalian ke dinas sosial bahkan ke polisi dengan dugaan penelantaran dan eksploitasi anak.”

Ibuku langsung merespons. “Tapi Dodi yang nyuruh Putra jaga kosan. Bukan saya.”

“Lalu kamu ke mana saja saat Putra selama ini jaga kosan?” tanya Pak RT dengan nada tajam.

Ibu seketika terdiam.

Pak RT kembali melanjutkan. “Kalau kalian berdua memang ingin masalah ini diproses secara hukum, ya sudah. Akan saya bikin mudah,” ia mengangkat satu tangan ke arah Ayah. “Dodi kena pidana eksploitasi anak dan penelantaran anak,” lalu tangannya berpindah menunjuk ke arah Ibu. “Dan Wulan kena pidana penelantaran anak.”

Ayah dan Ibu sama-sama menatap Pak RT dengan wajah tegang. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab.

“Mau kalian begitu?” lanjut Pak RT dengan suara yang semakin tegas.

Ayah menggeleng pelan.

“Kalau tidak mau, ya kalian rawat lah anak kalian ini,” tatapan Pak RT bergantian mengarah kepada Ayah dan Ibu. “Masih kelas lima SD loh ini anak. Masa kalian tinggal sendirian buat jagain kos sebesar itu?”

Ruangan kembali hening selama beberapa saat. Aku hanya diam mendengarkan. Kepalaku terus tertunduk sejak tadi.

“Jadi bagaimana?” tanya Pak RT. “Apa kalian mau berkomitmen mengasuh Putra sebagai mestinya kalian sebagai orangtuanya?”

Kali ini Ayah dan Ibu terdiam lebih lama. Sampai akhirnya Ayah yang lebih dulu mengangguk. “Baik, Pak RT.”

Pak RT tersenyum tipis, lalu menoleh kepada Ibu. “Wulan?”

Ibu membalas tatapan Pak RT dengan wajah yang masih mengeras. Namun beberapa detik kemudian ia ikut mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya