Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #7

Solidaritas Teman Sekelas

Aku terbangun saat alarm di ponselku berbunyi tepat pukul 05.30. Sekarang aku harus bangun lebih pagi karena jarak dari apartemen Ayah ke sekolah sedikit lebih jauh dibanding saat masih tinggal di rumah kos.

Dengan mata yang masih berat dan tubuh yang masih malas bergerak, aku bangkit dari kasur di kamar yang biasa kutempati setiap menginap di apartemen Ayah.

Aku langsung mandi. Setelah selesai, aku mengenakan seragam sekolah yang kusimpan di lemari kamar. Saat semuanya selesai, jam sudah hampir menunjukkan pukul enam pagi.

Aku duduk di ruang depan sambil memakai sepatu. Pintu kamar Ayah masih tertutup rapat. Aku sempat ingin mengetuk pintunya untuk berpamitan, tetapi sebelumnya Ayah tidak pernah bilang harus membangunkannya kalau aku berangkat sekolah. Jadi aku mengurungkan niat itu.

Aku mengambil sebuah buku yang ada di atas meja, menyobek satu lembarnya, lalu menulis dengan pensil. Yah, Putra berangkat sekolah dulu. Putra mau bangunin Ayah tapi Putra takut ganggu Ayah. Kertas itu kemudian kuletakkan di atas meja makan.

Setelah semuanya selesai, aku keluar dari apartemen dan memesan ojek online di depan lobi untuk berangkat ke sekolah.

Pukul 06.30 aku masih berada di jalan. Aku benar-benar tidak menyangka jalanan pagi itu akan semacet ini. Hampir sepanjang perjalanan mataku terus melirik jam di ponsel. Semakin lama angkanya berganti, perasaanku semakin gelisah.

Aku baru sampai di depan sekolah saat jam menunjukkan pukul 06.50. Gerbang masih terbuka sebagian, tetapi beberapa guru sudah berdiri di depannya untuk menahan murid-murid yang datang terlambat.

Aku turun dari motor dengan perasaan takut. Sempat terpikir untuk kabur saja, tetapi salah seorang guru sudah lebih dulu melihatku dan memintaku menghampiri. Dengan langkah berat aku mendekat. Sudah ada lima anak lain yang berdiri di sana. Kini kami menjadi enam orang.

Tepat pukul 07.00 gerbang sekolah ditutup sepenuhnya. Kami kemudian dibawa ke lapangan dan diminta berdiri di dekat tiang bendera.

“Kalian yang telat, hormat ke bendera,” perintah seorang guru.

Salah seorang anak mengeluh. “Sampe berapa lama, Pak?”

Guru itu langsung menjawab dengan wajah lebih tegas. “Sampe Bapak suruh berhenti. Paham?”

Tidak ada lagi yang bersuara. Kami semua mengangkat tangan memberi hormat ke arah bendera sambil sedikit mendongakkan kepala. Sementara guru yang tadi berjalan masuk ke ruang guru yang letaknya tidak jauh dari lapangan.

Dari enam anak yang dihukum, hanya aku dan Eko yang berasal dari kelas lima. Empat lainnya anak kelas enam. Dua di antaranya bahkan sering bermain melawan kelasku saat game online.

“Kamu kenapa telat, Put?” tanya Eko yang berdiri di sampingku. Logat Jawanya masih terdengar kental.

Aku berdecak pelan. “Kamu… kamu… lu gua aja kenapa, sih. Aneh gua dengernya.”

“Loh ya wajar. Kamu kan orang Jakarta udah biasa lu-gue. Coba kalau aku yang ngomong… Put, kenapa lo telat?” kata Eko sambil menirukan gaya bicara anak Jakarta.

Aku langsung terkekeh. “Iya, Ko. Jangan, deh. Aneh.”

Eko melirik ke arahku. “Iya, kan? Aku udah bilang.”

Aku hanya diam.

Beberapa detik kemudian Eko kembali bertanya. “Kenapa kamu nggak jawab?”

Aku mendelik ke arahnya. “Heh? Apaan?”

Eko berdecak. “Kenapa kamu telat?”

“Oh iya,” kataku sambil sedikit menurunkan suara. “Abis pindahan gua.”

“Pindahan? Emang kamu sebelumnya tinggal di mana, terus sekarang di mana?”

Aku mengembuskan napas pelan. “Nanya mulu lu.”

“Yaelah, tinggal jawab aja lo,” balas Eko lagi dengan gaya bicara sok gaulnya.

Aku kembali tidak bisa menahan tawa. “Sumpah, Ko. Aneh banget.”

Eko ikut tertawa kecil.

“Gua kan sebelumnya tinggal di kosan yang nggak jauh dari sini. Paling sepuluh menitan sampe. Tapi kemaren gua pindah ke apartemen Ayah gua,” kataku. “Jaraknya emang lebih jauh, tapi nggak yang jauh-jauh banget. Gua kira setengah jam sampe, eh taunya macet. Ya udah telat gua jadinya.” Tanganku yang sejak tadi memberi hormat sempat kuturunkan karena mulai pegal. Beberapa detik kemudian kuangkat lagi ke dahi.

Eko menatapku dengan wajah kagum. “Kamu tinggal di apartemen, Put? Wah, keren. Bapak kamu orang kaya, ya?”

“Biasa aja, Ko,” jawabku datar. “Lu sendiri kenapa telat?”

Eko ikut menurunkan tangannya sebentar. Wajahnya terlihat sama pegalnya denganku. “Aku ngebantu Bapakku…”

Lihat selengkapnya