Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #8

Telur Ceplok

Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Sampai akhirnya hari Jumat sore tiba. Seperti yang sudah disepakati, sore itu aku kembali naik KRL menuju kota tempat kontrakan Ibu berada.

Aku sampai menjelang magrib. Saat melewati warung Mama Ida, warung itu masih buka. Namun yang sedang berjaga bukan Mama Ida, melainkan orang lain yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku terus berjalan menuju kontrakan Ibu. Sesampainya di depan pintu, aku melihat sepasang sepatu berukuran besar tergeletak di teras. Itu bukan sepatu Ibu. Aku baru saja hendak mengetuk pintu ketika pintunya tiba-tiba terbuka dari dalam.

Ibu langsung muncul. Begitu melihatku, ia berdecak pelan. “Ya ampun… udah dateng aja sih, lu.”

Aku sedikit menundukkan kepala. Sebelum benar-benar mengalihkan pandangan, mataku sempat melihat ke dalam ruang tamu. Di sana ada seorang pria yang usianya kira-kira sama dengan Ayah. Pada saat yang sama pria itu juga menoleh ke arahku. Aku langsung kembali menunduk.

“Tunggu di depan dulu, deh,” lanjut Ibu. “Gua lagi ada tamu.”

Aku memberanikan diri mengangkat kepala sedikit. “Depan mana, Bu?”

Ibu mendengus. “Ya depan mana, kek. Pinggir jalan atau di mana. Dua jam-an lagi baru balik lagi.”

Aku kembali menunduk sambil mengangguk.

Baru beberapa langkah berjalan, suara Ibu kembali menghentikanku. “Eh… tunggu, tunggu.”

Aku menoleh lagi.

Kali ini Ibu menurunkan suaranya. “Nunggunya jangan di warungnya Ida. Ntar gua kena omongan lagi.”

Aku mengangguk sekali. Lalu aku kembali berjalan. Di belakangku, pintu kontrakan sudah tertutup lagi.

Aku terus berjalan sampai keluar dari gang. Sesampainya di pinggir jalan, aku tidak tahu harus menunggu di mana. Aku terus berjalan tanpa tujuan selama beberapa menit.

Jalan raya sore itu masih cukup ramai. Kendaraan terus lewat bergantian. Di sepanjang trotoar berjajar pedagang kaki lima dengan gerobaknya. Di sela-selanya ada toko-toko kecil dan minimarket.

Sampai akhirnya pandanganku tertuju pada sebuah toko es krim. Di bagian depannya tersedia beberapa meja dan kursi. Sepertinya aku bisa menunggu di sana. Aku pun masuk. Keadaannya sedang cukup sepi.

Aku memesan satu gelas es krim, lalu memilih duduk di pojok ruangan. Setelah menyalakan ponsel, aku mulai memainkan game online seperti biasanya sambil sesekali menyendok es krim ke mulutku.

Waktu berlalu. Dua ronde berhasil kumenangkan. Kini es krimku tinggal setengah gelas. Sedari tadi beberapa pengunjung datang dan pergi, tetapi tidak ada yang benar-benar kuperhatikan.

Aku kembali fokus ke layar ponsel. Sampai tiga orang dewasa masuk ke dalam toko. Entah kenapa perhatianku ikut tertuju kepada mereka. Dua orang perempuan dan satu orang pria.

Mereka berbicara sambil memesan es krim di dekat kasir. Beberapa bagian obrolannya masih bisa kudengar dari tempatku duduk. “Minum es dulu, deh, biar kepala lu dingin,” kata perempuan yang memakai kerudung.

Perempuan yang satunya tidak memakai kerudung. Wajahnya terlihat merah padam, seperti sedang menahan marah.

Tidak lama kemudian perempuan berkerudung itu menyodorkan segelas es krim kepadanya. “Nih.”

“Orang mau ngelabrak suami gua, malah lu suruh makan es krim,” gerutu perempuan yang tidak memakai kerudung itu.

Lihat selengkapnya