Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #9

Baju Olahraga

Kembali ke sekolah, aku mulai menjalani hari-hari seperti biasa. Kini aku juga sudah tinggal kembali di apartemen Ayah. Namun entah mengapa, sepanjang pelajaran pagi itu pikiranku terus melayang pada akhir pekan kemarin.

Aku masih ingat bagaimana Ibu beberapa kali tersenyum kepadaku saat berbicara. Kalau mengingatnya, aku jadi ikut tersenyum sendiri.

“Lu kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri? Kesambet, ya?” Suara Aini yang tiba-tiba terdengar di sampingku membuatku sedikit kaget.

Aku berdecak pelan. “Berisik lu, ah.”

Aini memutar kedua bola matanya. “Dih… orang ditanya baik-baik.”

Aku menoleh ke arahnya. “Mana ada lu nanya baik-baik.” Tanpa sadar suaraku sedikit lebih keras.

Guru yang sedang duduk di depan kelas langsung menoleh ke arah kami. “Jangan berisik.”

Aku dan Aini langsung terdiam. Saat ini pelajaran Bahasa Indonesia sedang berlangsung. Kami diminta mengerjakan soal latihan masing-masing.

Baru saat bel istirahat berbunyi, Aini kembali membahasnya. “Put, tadi kenapa lu senyum-senyum sendiri?”

Aku memasukkan buku pelajaran ke dalam tas, lalu mengeluarkan buku untuk pelajaran berikutnya. “Kemarin pas gua ke rumah Ibu gua,” jawabku. “Gua seneng aja karena dimasakin sama dia.”

Wajah Aini langsung ikut berbinar. “Serius? Kok bisa?”

Aku menoleh kepadanya. “Nggak tahu juga, ya. Pokoknya pas sorenya gua kan lagi makan es krim. Nggak sengaja gua nguping ada orang yang katanya mau ngabisin Ibu gua. Terus gua buru-buru ngasih tahu Ibu. Eh, taunya orang yang katanya mau ngabisin Ibu gua itu cuma nanya alamat. Abis itu udah. Ibu gua masakin gua. Dia malah sampe bilang makasih ke gua.”

“Wah… gua ikut seneng ya, Put,” kata Aini.

Aku mengangguk kecil. “Makasih, Ai.”

Setelah itu kami berdua pergi ke kantin. Selama ini hanya Aini yang benar-benar tahu tentang keadaanku di rumah. Ia tahu Ayah dan Ibu sudah berpisah. Ia juga tahu bagaimana mereka memperlakukanku.

Aku sering bercerita kepadanya. Kadang aku juga bertanya apakah semua orangtua memang seperti Ayah dan Ibuku. Aini menggeleng. Katanya, kedua orangtuanya sayang padanya. Mereka selalu ingin merawatnya dan tidak pernah saling melempar tanggung jawab.

Bel istirahat pun berakhir. Kami kembali masuk ke dalam kelas. Pelajaran berikutnya adalah olahraga. Satu per satu teman-temanku sudah berganti pakaian. Ruang kelas mulai sepi karena sebagian besar sudah berjalan keluar menuju lapangan. Hanya Eko yang masih duduk di bangkunya.

Aku menghampirinya. “Ko, nggak ikut olahraga?”

Eko menggeleng.

“Kenapa?” tanyaku heran.

Eko tetap menunduk tanpa menjawab.

Aku memperhatikannya beberapa detik. “Masalah baju lagi?”

Eko akhirnya mengangkat wajah. “Iya, Put.”

Aku mengembuskan napas pelan. “Yaelah… nggak apa-apa kali.”

Eko kembali menggeleng. “Malu aku. Soalnya di kelas ini cuma aku doang yang belum punya baju olahraga.”

“Emang ada yang ngelarang?”

“Nggak sih… tapi ada yang suka ngeledekin,” ucap Eko lesu.

“Siapa?”

Eko menunjuk dengan dagunya ke arah beberapa teman kami yang sedang berkumpul di pojok kelas.

“Tapi lu bawa baju ganti, kan?” tanyaku lagi.

Eko mengangguk. Ia membuka tasnya, lalu mengeluarkan kaus dan celana yang bukan seragam olahraga sekolah.

Aku berpikir sebentar. Tanpa banyak bicara, aku mulai melepas baju olahraga yang sedang kukenakan. Eko menatapku bingung. Setelah baju itu kulepas, langsung kuberikan kepadanya. “Nih, lu pake.”

Kedua mata Eko langsung membulat. “Nggak apa-apa, Put?”

“Nggak apa-apa. Santai aja,” ucapku yakin.

Eko tersenyum lebar. Ia segera berdiri, melepas seragam sekolahnya, lalu mengenakan baju olahraga milikku. Sementara aku memakai kaus yang tadi ia keluarkan dari dalam tas.

“Put, ayo,” panggil Aini dari dekat pintu kelas. “Udah disuruh ke lapangan.”

Aku menoleh. “Iya, sebentar.” Setelah memastikan Eko sudah selesai berganti baju, aku mengangguk ke arahnya. “Yuk, Ko.”

Eko mengangguk. Kami pun setengah berlari menuju lapangan.

Namun sebelum benar-benar sampai, guru olahraga menghentikan langkah kami. Ia sedang berbicara dengan seorang wali murid. Dari posisiku, tubuh orang itu masih tertutup oleh badan guru, jadi aku belum bisa melihat wajahnya.

Beberapa saat kemudian guru olahraga menoleh ke arah murid-murid yang masih berkumpul. “Eko? Eko mana?”

Eko yang berdiri di sampingku langsung mengangkat tangan. “Iya, Pak?”

Guru olahraga bergeser sedikit. Barulah aku bisa melihat orang yang tadi berbicara dengannya. Seorang pria yang masih muda. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Kak Intan.

“Ini ada Kakak kamu,” kata guru olahraga.

Lihat selengkapnya