Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #10

Calon Pembeli

Motor ojek online berhenti tepat di depan pagar kosan yang masih tergembok. Dari luar suasananya tidak terlalu ramai. Hanya beberapa pintu kamar yang masih terbuka.

Aku turun, lalu berjalan ke arah pagar. Jemariku menekan kode empat angka pada gembok hingga terdengar bunyi klik. Setelah itu aku mendorong pagar dan masuk.

Dari arah samping, Kak Intan yang sedang berdiri di depan pintunya langsung melambaikan tangan. “Putra.”

Aku mengangkat satu tangan. “Kak Intan.”

Kak Intan tersenyum, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.

Aku baru saja hendak mengunci pagar kembali ketika seorang pria muncul dari luar. Awalnya aku tidak mengenalinya karena jalanan di depan rumah cukup gelap. Namun, saat ia semakin mendekat dan wajahnya tersorot cahaya lampu, aku langsung mengenalinya. “Om?”

Ken berhenti tepat di depan pagar. “Ayah kamu mana?”

“Ayah nggak ke sini. Katanya masih lembur,” jawabku.

Ken mengumpat pelan. Raut wajahnya seketika berubah kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan lalu melangkah pergi.

Aku masih memperhatikannya hingga sosoknya benar-benar hilang di ujung jalan. Barulah setelah itu aku mengunci pagar. Langkahku terasa semakin berat saat berjalan menuju kamarku yang berada paling ujung. Namun, ketika baru sampai di tengah lorong, ingatanku tiba-tiba kembali pada malam saat menemukan Nenek tergeletak di dalam kamar.

Aku langsung berhenti. Dadaku terasa sesak. Aku mengurungkan niat untuk masuk ke kamar. Sebaliknya, aku berbalik menuju teras dekat pagar. Di sana ada sebuah sofa panjang. Aku duduk pelan di atasnya, sementara pandanganku lurus menatap ke sekitar yang mulai sepi.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana. Kucari nama Ayah di daftar kontak, lalu langsung meneleponnya.

Beberapa kali nada dering terdengar sebelum akhirnya panggilanku dijawab. “Iya, Put? Kamu udah di kosan?”

“Udah, Yah,” jawabku. “Ini yang mau beli belum sampe juga, ya? Putra udah di sini belum ada siapa-siapa.”

“Hah? Belum sampe?” suara Ayah terdengar heran. “Tadi pas Ayah nyuruh kamu ke kosan, dia bilang udah sampe.”

Aku hanya diam mendengarkan.

“Beneran kamu nggak ada siapa-siapa di sana?” tanya Ayah lagi.

Aku mengangguk. “Beneran, Yah…” Aku baru teringat sesuatu. “Eh, tapi tadi di kosan ada…” Kalimatku terhenti. Aku teringat Ayah pernah melarangku membahas Ken.

“Ada apa, Put?” tanya Ayah tak sabar.

Aku menggeleng pelan. “Nggak jadi. Nggak ada apa-apa, Yah.”

Suara Ayah langsung meninggi. “Ada apa? Ngomong aja.”

Aku berdeham pelan. “Entar Ayah marah sama Putra.”

“Buruan! Ngomong aja!” bentaknya tiba-tiba.

Tubuhku langsung tersentak. “I-iya, Yah… tadi di kosan ada Om Ken. Dia nyariin Ayah.”

Lihat selengkapnya