Jumat sore aku sudah berada di jalan gang menuju kontrakan Ibu. Seperti biasa aku sampai setelah kumandang maghrib terdengar dari masjid-masjid sekitar.
Saat sedang berjalan di pinggir jalan, tanpa sengaja aku mendengar percakapan tiga orang dewasa yang berada beberapa langkah di depanku. Dua di antaranya perempuan, yang satu memakai kerudung, sementara yang satunya tidak. Seorang pria berjalan sedikit mendahului mereka.
Suara mereka terasa tidak asing. Aku terus memperhatikan dari belakang. Sampai akhirnya aku teringat. Mereka adalah tiga orang yang minggu lalu kulihat di toko es krim. Terutama perempuan yang tidak memakai kerudung itu. Wajahnya masih sama, tampak menahan amarah.
Ketiganya mempercepat langkah. Aku tidak mungkin bisa mendahului mereka, bahkan kalau aku berlari sekalipun.
Sesampainya di depan kontrakan Ibu, perempuan yang tidak berkerudung langsung mengetuk pintu dengan tidak sabar.
Aku berhenti beberapa meter dari sana, memilih memperhatikan dari pinggir jalan.
Tak lama pintu terbuka. Ibu muncul dengan wajah bingung. Namun sebelum sempat berkata apa-apa, ketiga orang itu langsung masuk ke dalam kontrakan tanpa mengucapkan salam.
Suara ribut langsung terdengar. Perempuan yang tidak berkerudung itu berteriak keras. Dari sela pintu dan jendela yang terbuka, aku bisa melihat ia memukul seorang pria yang sudah berada di dalam. Saat kuperhatikan lebih jelas, pria itu ternyata Wisnu.
Keributan itu mengundang sejumlah orang di sekitar kontrakan untuk mendekat. Beberapa tetangga keluar dari rumah masing-masing.
Mama Ida juga keluar dari warungnya. Ia menatap ke arahku. “Ada apaan, Put?”
Aku menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali melihat ke dalam kontrakan dengan perasaan cemas. Aku bahkan belum sempat menjawab ketika perempuan yang tidak berkerudung itu tiba-tiba saja menjambak rambut ibuku, menampar wajahnya, lalu terus memakinya dengan kata-kata kasar.
Aku langsung panik. Tanpa berpikir lagi, aku berlari masuk ke dalam.
Ibu sudah terduduk di lantai, terpojok di dekat dinding. Ia menangis sambil berusaha melindungi kepalanya.
“Dasar pelakor bangsat!” bentak perempuan itu. Saat ia kembali mengangkat tangan hendak memukul, aku langsung berdiri di depan Ibu, melindungi tubuhnya. “Bocah? Ngapain lu? Minggir!”
Aku tetap bertahan. Tidak bergeser sedikit pun.
Perempuan itu terus berusaha memukul ibuku. Tangannya mencoba meraih rambut Ibu. Karena aku berada di tengah, beberapa pukulan ikut mengenai tubuhku. Namun aku tidak peduli. Aku hanya ingin melindungi Ibu.
Di belakangku, Ibu terus berusaha menghindari pukulan sambil memegang pundakku erat-erat. Tangisnya tidak berhenti. Berkali-kali ia memohon ampun kepada perempuan itu.
Tak lama kemudian beberapa orang dewasa masuk ke dalam untuk melerai. Salah satunya Mama Ida. Ia segera menarik perempuan yang tidak berkerudung itu menjauh dari kami.
Saat akhirnya terlepas dari amukannya, aku membantu Ibu berdiri. Memegang tangannya, lalu membawanya masuk ke dalam kamar, sementara tangisnya masih terus terdengar.
Di luar, keributan masih terus terdengar. Ibu duduk di pinggir kasur sambil menundukkan kepala. Beberapa tetangga yang masuk ke dalam kontrakan sesekali menatapnya dengan tatapan sinis sebelum kembali keluar.
Aku mengambil botol minum yang berada di atas kulkas, lalu memberikannya kepada Ibu. “Minum dulu, Bu.”
Ibu menatapku sesaat. Dengan tangan yang masih gemetar ia menerima botol itu, lalu meminum beberapa teguk. Setelah itu aku mengambil kembali botolnya dan meletakkannya di atas kulkas.
Beberapa saat kemudian seorang pria yang usianya agak tua muncul di depan kamar. “Bu Wulan, ayo ke tempat saya. Kita omongin di sana saja.”
Ibu menoleh sekilas ke arahku. Wajahnya masih dipenuhi rasa panik dan ketakutan. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa.