Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #12

Satu Hari Lebih Lama

Sejak pagi setelah sarapan, aku dan Ibu sibuk mengemasi barang-barang. Kini waktu sudah menjelang siang. Tadi pagi Ibu bilang kami akan pindah kontrakan. Masih di kota yang sama, tetapi di kecamatan yang berbeda. Katanya, setelah kejadian semalam, kami diminta pergi dari kontrakan itu.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil bak hitam berhenti di depan kontrakan bersama seorang sopir. Ibu mengarahkan sopir itu untuk memosisikan mobilnya. Wajahnya tampak tidak nyaman, terlebih ketika beberapa tetangga yang melintas memandangnya dengan tatapan yang tidak enak.

Aku, Ibu, dan sopir itu mulai mengangkat barang-barang satu per satu ke atas bak mobil. Setelah bak mobil mulai penuh, sopir mengikat barang-barang yang mudah bergeser dengan tali agar tidak jatuh selama perjalanan.

Saat semuanya sudah siap berangkat, aku hendak berjalan ke warung Mama Ida untuk berpamitan.

“Put, mau ke mana?” tanya Ibu.

Aku menoleh. “Mau pamit sama Mama Ida.”

Ibu langsung menggeleng. “Nggak usah. Kita langsung berangkat aja.” Setelah itu ia naik ke kursi depan, di samping sopir.

Aku terdiam beberapa saat. Pandanganku sempat mengarah ke warung Mama Ida. Namun akhirnya aku menyusul Ibu dan duduk di sampingnya.

Mobil pun mulai melaju. Saat melewati depan warung, kulihat Mama Ida sedang menata roti di rak depan. Aku hampir mengangkat tangan untuk menyapa, tetapi Ibu segera menahan tanganku.

Aku menoleh sekilas ke arahnya.

Ibu tetap menatap lurus ke depan dengan wajah kaku. “Tuh orang yang selama ini ngaduin gua ke Pak RT,” ucapnya dingin. “Perkara gua pulang malem, perkara lu makan di rumah dia, perkara Bang Wisnu. Mulutnya Ida yang bikin gua diusir dari sini.”

Aku hanya berani melirik Ibu sebentar. Aku tidak berani menatapnya terlalu lama, apalagi menanggapi ucapannya.

Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di lingkungan kontrakan yang baru. Matahari siang terasa sangat terik. Aku dan Ibu turun dari mobil bak di mulut sebuah gang yang lebih sempit daripada gang kontrakan sebelumnya. Jalannya hanya cukup dilewati dua sepeda motor.

Kontrakan yang kami tuju berada sekitar sepuluh meter dari mulut gang. Aku, Ibu, dan sopir itu kembali menurunkan barang-barang satu per satu lalu membawanya masuk ke dalam kontrakan.

Lingkungan di sini terasa lebih padat. Banyak anak-anak yang usianya lebih kecil dariku berlarian dan bermain di tengah gang. Beberapa kali aku harus berhenti membawa barang karena mereka tiba-tiba melintas di depanku.

Beberapa jam kemudian semua barang akhirnya selesai dipindahkan dan disusun di tempatnya masing-masing. Letaknya tidak jauh berbeda dengan kontrakan sebelumnya karena ukuran kedua rumah itu pun hampir sama.

Di depan kontrakan, Ibu sedang berbicara dengan seorang pria tua yang kuduga pemilik kontrakan. Sementara aku duduk di kursi ruang depan.

Tak lama kemudian Ibu masuk. “Laper, Put?” tanyanya.

Aku mengangguk. Tanpa sadar bibirku tersenyum tipis saat melihat wajah Ibu yang tidak lagi sekaku tadi pagi.

Ibu duduk di kursi yang berada di depanku. “Mau makan apaan?”

“Apa aja, Bu.”

“Beneran?”

Aku mengangguk cepat.

“Ya udah, bentar.” Ibu mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menggulir layar beberapa saat, lalu berdiri dan meletakkannya di atas meja. “Udah gua pesen makanan, ya. Entar kalo udah sampe diambil aja. Gua mau mandi dulu.”

Lihat selengkapnya