Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #13

Kak Intan

Rasanya sedikit tidak biasa menjalani Senin pagi bersama Ibu. Aku sudah selesai mandi, sementara Ibu masih tertidur di atas kasur.

Aku berdiri di depan cermin, memperhatikan diriku yang mengenakan seragam pramuka. Perasaanku masih dipenuhi rasa senang karena bisa semalam lebih lama bersama Ibu, meski tetap ada rasa waswas membayangkan apa yang akan terjadi saat sampai di sekolah nanti.

Setelah semuanya siap, aku mengenakan jaket, lalu menyampirkan tas ke pundak. Aku menoleh ke arah Ibu yang masih tertidur. “Putra berangkat sekolah dulu, Bu,” ucapku pelan, nyaris seperti bisikan.

Aku pun keluar dari kontrakan, berjalan kaki menuju depan gang untuk memesan ojek online ke stasiun terdekat. Aku sengaja berangkat lebih pagi agar tidak ketinggalan kereta.

Untungnya, kali ini aku sampai di sekolah tepat waktu. Namun sejak melangkah masuk melalui gerbang, beberapa murid menatapku dengan wajah heran. Tatapan mereka tertuju pada celana cokelat yang kupakai. Aku tetap berjalan seolah tidak memedulikannya.

Sesampainya di kelas, Aini sudah lebih dulu datang. Ia sedang merapikan seragamnya di dekat bangku. Dari lapangan sudah terdengar suara guru yang meminta semua murid segera bersiap untuk upacara. Aku meletakkan tas di atas meja, lalu melepas jaket.

Saat melihatku, kedua mata Aini langsung membulat. “Put? Kok pake pramuka?”

“Iya,” responsku pendek.

“Kenapa?”

“Gua abis dari kontrakan Ibu gua. Belum sempet pulang ke apartemen,” jawabku.

“Yah, bakal dihukum lu,” ucap Aini.

Teman-teman sekelasku mulai berhamburan keluar saat suara guru di lapangan terus memanggil semua murid untuk segera berbaris.

“Lu keluar sana. Tutup pintunya. Gua nggak ikut upacara,” kataku.

Aini langsung berdecak. “Jangan. Yang ada hukuman lu makin berat sama guru. Udah seragam salah, nggak ikut upacara.” Perkataannya terdengar masuk akal.

Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Ya udah, deh,” ucapku berat sambil berjalan keluar dengan seragam pramuka tanpa dasi dan tanpa topi.

Baru saja ingin masuk ke barisan kelas, anak-anak dari kelas lain sudah lebih dulu menatapku dengan wajah heran. Beberapa anak kelas enam bahkan terdengar meledekku pelan. Aku berusaha mengabaikan semuanya.

Tak lama Bu Nurul menghampiriku. “Putra, kenapa pakai seragam pramuka?”

Aku kembali memberikan jawaban yang sama seperti kepada Aini.

Bu Nurul menghela napas pelan. Ia tidak memarahiku, namun tetap memintaku berdiri di barisan depan bersama tiga murid lain yang juga sedang mendapat hukuman. Ada yang tidak memakai topi, ada yang tidak memakai topi dan dasi. Meski begitu, tetap saja aku yang paling menarik perhatian.

Untungnya persoalan itu tidak berlarut-larut. Setelah upacara selesai, aku diperbolehkan masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Saat duduk di bangkuku, aku sempat melirik ke kursi Eko yang masih kosong.

Menjelang jam istirahat, Bu Nurul yang mengajar di kelas kami sudah bersiap keluar. Namun sebelum itu, ia sempat menyampaikan satu pengumuman. “Anak-anak. Pengambilan rapor akhir semester untuk kenaikan ke kelas enam akan dilaksanakan tanggal 20 Juni. Tolong disampaikan ke orangtua atau wali kalian, ya. Paham?”

“Paham, Bu Nurul,” jawab kami hampir bersamaan.

Setelah itu Bu Nurul keluar dari kelas.

“Siapa yang bakal ngambil rapor lu nanti, Put?” tanya Aini.

Aku berpikir sebentar. “Kak Intan mungkin.”

Aini tampak heran. “Siapa tuh?”

“Penghuni kosan di kos Ayah gua,” jawabku. “Waktu itu dia juga yang bantuin gua ngambil HP yang disita.”

Aini mengangguk kecil, lalu tak bertanya lagi.

Jam sekolah berakhir pukul 12.00. Aku dan murid-murid lain berjalan keluar menuju gerbang sekolah. Aini pulang berboncengan dengan ayahnya. Tak lama, ojek online yang kupesan pun datang.

Setengah jam kemudian aku sampai di apartemen. Aku meletakkan tas, mengeluarkan pakaian kotor, lalu berganti pakaian.

Sekitar pukul tiga sore, saat sedang bermain PS di kamar, ponselku berbunyi. Aku segera menjeda permainan saat melihat nama Ayah muncul di layar. “Iya, Yah?”

Lihat selengkapnya