Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #14

Insiden

Jam menunjukkan pukul 20.00 saat aku sampai di apartemen. Di tanganku ada sebungkus ayam goreng dan segelas minuman bersoda yang kubeli di bawah.

Aku mandi terlebih dahulu, lalu berganti pakaian. Setelah itu, aku makan malam di meja makan dekat jendela. Gorden kubuka setengah sehingga pemandangan lampu-lampu kota di malam hari masih terlihat jelas dari sana.

Sebelumnya aku sudah mengirim pesan kepada Ayah, memberitahukan hasil pertemuanku dengan Pak Sugeng sore tadi. Namun sampai sekarang pesanku belum juga dibalas.

Selesai makan, aku masuk ke kamar. Aku merapikan buku-buku pelajaran untuk besok pagi. Baru setelah itu aku merebahkan tubuh di atas kasur sambil bermain game online di ponsel.

Beberapa ronde berhasil kuselesaikan. Saat baterai ponsel tinggal setengah, jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Ayah belum juga pulang. Namun aku tidak terlalu memikirkannya karena itu sudah biasa. Kadang Ayah pulang tengah malam, kadang pukul empat pagi, bahkan pernah baru pulang keesokan harinya.

Aku meletakkan ponsel di atas meja dekat kasur sambil mengisi dayanya. Tak lama kemudian aku tertidur.

Keesokan paginya aku menjalani rutinitas seperti biasa. Selesai mandi, aku membuat sarapan sereal dan segelas susu. Sambil makan, aku membuka ponsel. Pesan yang kukirim kepada Ayah semalam masih belum dibalas.

Aku sempat berpikir cukup lama untuk meneleponnya. Namun aku ragu. Aku takut mengganggu pekerjaannya. Akhirnya niat itu kuurungkan.

Di sekolah, Eko akhirnya sudah kembali masuk. Ia mengembalikan baju olahraga milikku sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu kegiatan belajar berlangsung seperti biasa.

Hari terasa berjalan begitu cepat. Tahu-tahu aku sudah pulang sekolah dan kembali ke apartemen. Namun, Ayah masih juga belum pulang.

Malam harinya, saat hendak tidur, aku kembali menatap nama Ayah di layar ponsel cukup lama. Akhirnya aku menarik napas panjang, lalu memberanikan diri menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar beberapa kali. Sampai akhirnya seseorang mengangkat telepon. “Halo, Yah?” sapaku dengan dada yang mulai berdebar.

“Iya… halo?” Suara yang menjawab bukan suara Ayah. Itu suara seorang perempuan.

Aku terdiam.

“Apa Anda kenal dengan Bapak Dodi?” tanyanya dengan nada formal.

“I-iya…,” jawabku pelan, sedikit terbatah-batah.

“Apa hubungan Anda dengan Bapak Dodi?” tanya suara itu.

“Saya… anaknya.”

Perempuan itu terdiam sesaat sebelum menjelaskan. Barulah aku mengetahui kalau Ayah sedang dirawat di rumah sakit. Ia masih belum sadar. Perempuan yang menjawab telepon tadi ternyata seorang suster. Katanya, sejak tadi pihak rumah sakit memang sedang berusaha menghubungi keluarga Ayah.

Setelah mencatat alamat rumah sakit yang disebutkan, aku segera mengenakan jaket. Dengan perasaan cemas dan khawatir, malam itu juga aku keluar dari apartemen, lalu memesan ojek online menuju tempat tujuan.

Kondisi jalan yang sudah sepi membuat perjalanan terasa lebih cepat. Sekitar tiga puluh menit kemudian aku sampai di depan rumah sakit.

Aku sempat bingung melihatnya bangunannya yang besar. Aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa untuk bisa bertemu dengan Ayah. Tak jauh dari pintu utama yang bisa terbuka otomatis, aku melihat seorang petugas keamanan berjaga. Setelah bertanya kepadanya, aku diarahkan ke meja informasi di dalam.

Petugas di meja informasi tampak prihatin saat melihatku, mungkin karena aku datang sendirian pada malam hari. Ia kemudian mengantarkanku hingga ke lift. Kami berhenti di lantai tiga.

Setelah menunjukkan ruangan yang harus kutuju, petugas itu berpamitan untuk kembali turun. Tak lama kemudian, seorang suster yang sedang berjaga menghampiriku.

Ia mempersilakanku duduk. “Kamu anaknya Pak Dodi?”

Aku mengangguk cepat.

Suster itu tampak sedikit heran. “Kamu sendirian?”

“Iya, Sus.”

“Maaf, Ibu kamu masih ada?” tanyanya hati-hati.

Aku berdeham pelan sebelum menjawab. “Ibu saya masih ada, tapi Ibu sama Ayah udah cerai.”

“Kalau anggota keluarga yang lain?”

Aku hanya menggeleng.

Suster itu menghela napas pelan, lalu bertanya nama dan umurku. Aku pun menjawab seperlunya.

Setelah perhatian Suster sempat ke komputernya, ia kembali menatapku. “Jadi begini… Ayah kamu dibawa ke rumah sakit ini dalam kondisi cukup parah. Menurut informasi yang kami terima, beliau terlibat perkelahian yang berujung penganiayaan di sebuah diskotik di daerah selatan ibu kota. Sekarang Ayahmu sedang dirawat di ruang ICU.”

Aku terdiam. Perasaan takut dan bingung bercampur menjadi satu. “Terus… sekarang Ayah saya masih belum sadar?”

Suster itu mengangguk. “Iya. Tapi kondisinya sudah mulai stabil dan masih dalam pengawasan dokter. Jadi kamu jangan khawatir, ya.”

“Saya boleh jenguk, Sus?” tanyaku penuh harap.

Suster itu tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Kamu masih di bawah umur, jadi belum boleh masuk ke ruang ICU. Besok kamu boleh datang lagi, tapi menunggunya di ruang tunggu atau melihat dari balik kaca luar.”

“Nggak apa-apa, Sus,” ucapku cepat.

Lihat selengkapnya