Beberapa hari berikutnya berlalu. Kini, pada Jumat pagi saat jam istirahat sekolah, aku baru saja menerima pesan dari suster rumah sakit. Kondisi Ayah sudah membaik dan sejak semalam telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Mendengar kabar itu membuatku lega.
Saat ini aku sedang duduk di kantin bersama Aini dan Eko. Makananku sudah habis. Tinggal piring kosong di atas meja. “Ayah gua udah pulih,” kataku pada mereka. “Sekarang udah dipindahin ke ruang inap.”
Wajah Aini langsung berbinar. “Alhamdulillah.”
Eko mengelus bahuku sebentar. “Aku turut seneng ya, Put.”
Aku mengangguk. “Iya, makasih.”
Aku membuka kontak Ayah di ponsel, tetapi jariku berhenti sebelum menekan tombol panggil.
“Kenapa muka lu jadi bingung gitu?” tanya Aini.
Aku menggeleng. “Gua mau nelpon Ayah gua, tapi marah nggak ya kira-kira dia?”
“Nggak kali, Put,” kata Aini. “Coba dulu aja.”
“Tau dari mana nggak bakal marah?” balasku.
Aini berdecak kecil. “Coba dulu aja. Kalo lu nggak coba, nggak bakal tahu.”
“Iya, Put. Kamu coba dulu aja,” tambah Eko.
Aku menarik napas panjang. Dadaku kembali berdebar saat menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar cukup lama. Hampir saja kumatikan ketika akhirnya terdengar suara di seberang.
“Iya, Put?” Itu suara Ayah.
Aku langsung mengembuskan napas lega. “Yah? Ayah udah pindah ruangan, ya?”
“Iya, dari semalem,” jawab Ayah dengan suara yang masih terdengar serak. “Eh, Put. Kamu bisa ke sini, nggak?”
Aku mengangguk cepat meski Ayah tak bisa melihat. “Bisa, Yah.”
“Ayah belum tahu nih kapan pulangnya. Nanti tolong kamu ke apartemen. Ambil empat atau lima stel baju, celana, sama pakaian dalem Ayah. Terus bawa laptop Ayah yang ada di kamar. Sama kebutuhan lainnya,” ucapnya. “Detailnya nanti Ayah kirim lewat WA. Kalo ada yang nggak ada di apartemen, kamu beli aja di minimarket. Nanti uangnya Ayah transfer.”
“Aku nanti di apartemen masuk ke kamar Ayah nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa. Asal jangan berantakan,” ucap Ayah.
“Iya, Yah.”
Panggilan pun berakhir.
Tak lama kemudian daftar barang yang harus kubawa masuk ke WhatsApp. Jumlahnya ternyata cukup banyak. Beberapa bahkan harus kubeli dulu di minimarket. Aku mulai berpikir akan kerepotan membawanya sendirian.
Aku pun menoleh ke kedua temanku. “Entar siang kalian ada yang mau bantuin gua, nggak?”
“Bantuin apaan?” tanya Aini.
“Gua mau ke rumah sakit lagi sambil bawa barang-barang pesenan Ayah gua. Ternyata lumayan banyak. Mesti ada yang dicari juga di minimarket. Belum bawa baju sama laptop. Berat.”
Aini tampak menyesal. “Gua sih mau, Put. Tapi lu bilangnya dadakan. Hari ini gua nggak bisa. Ada urusan.”
Aku mengerutkan kening. “Dih, sibuk lu sekarang.”
Aini tertawa kecil. “Bantuin adek gua bikin prakarya. Dari kemaren nggak selesai-selesai. Besok dikumpulin.”