Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #16

Mediasi

Seperti yang diminta Ayah, akhir pekan ini aku tidak ke kontrakan Ibu. Aku hanya bolak-balik ke apartemen dan rumah sakit. Selama Ayah dirawat, aku selalu tidur menemaninya di ruang inap. Sesekali aku membantu Ayah membeli keperluan, mengambil makanan di bawah, dan membantunya berjalan ke kamar mandi karena kedua kakinya yang masih terasa kaku.

Berangsur-angsur kesehatan Ayah semakin membaik. Luka-luka di wajahnya mulai mengecil, terutama lebam di sekitar pipi dan pelipisnya. Setiap ada dokter yang masuk, aku selalu bisa mendengar kabar yang melegakan tentang perkembangan kondisi Ayah.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya Ayah diperbolehkan pulang di hari kedua belas sejak dipindahkan ke ruang inap. Dengan begitu, sudah dua minggu aku tidak ke rumah kontrakan Ibu.

Aku membawa tas berisi pakaian-pakaian Ayah dan barang-barang lainnya, termasuk obat-obatan. Aku berjalan di lorong rumah sakit menuju lift. Di sampingku, Ayah sudah bisa berjalan sendiri walaupun gerakannya masih perlahan. Ia bahkan sudah mampu membawa sendiri tas laptopnya.

Langit di luar sudah gelap, tetapi rumah sakit masih cukup ramai. Jam di ponselku menunjukkan pukul 19.00. Kami menunggu sebentar di lobi utama. Tak lama kemudian taksi online datang, membawa kami kembali ke apartemen.

Di sepanjang perjalanan, Ayah lebih banyak menatap layar ponselnya. Tiba-tiba wajahnya tampak sumringah. “Wah… kosan laku nih kayaknya, Put.”

Aku langsung menoleh. Ada rasa mengganjal di dadaku. “Laku, Yah?”

Ayah mengangguk kecil. “Harganya udah cocok sama Pak Sugeng.”

“Terus… penghuni kosan yang di sana gimana?” tanyaku.

“Kalo emang jadi, bakal Ayah kasih pemberitahuan satu bulan sebelumnya biar mereka bisa cari tempat baru,” jawab Ayah.

Hatiku terasa sesak. Bayangan kos-kosan itu kembali muncul di kepalaku. Tempat itu menyimpan hampir semua kenanganku bersama Nenek. Sebentar lagi, mungkin semuanya benar-benar akan menjadi milik orang lain.

Sekitar satu jam kemudian kami sampai di apartemen. Ayah langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sementara aku membereskan barang-barang yang kubawa. Obat-obatan kususun rapi di atas meja agar mudah dijangkau.

Tak lama kemudian Ayah keluar dari kamar. “Put, tolong gantiin perban Ayah.”

Aku mengangguk, lalu mengambil perlengkapan dari rumah sakit yang kusimpan bersama obat-obatan, lalu duduk di belakang Ayah.

Ayah membuka sebagian kausnya. Di punggung bagian samping masih terlihat bekas luka akibat gesekan benda tajam saat peristiwa pengeroyokan itu. Warnanya sudah mulai mengering, tetapi masih tampak jelas.

Aku melepaskan perban lama dengan hati-hati.

“Pelan-pelan, Put,” kata Ayah.

Aku hanya mengangguk. Ini bukan pertama kalinya aku melakukannya. Selama Ayah dirawat di rumah sakit, aku sudah beberapa kali membantu mengganti perbannya.

Setelah selesai memasang perban yang baru, Ayah merapikan kembali kausnya. “Besok kamu ikut Ayah ke kantor polisi, ya.”

Aku sedikit terkejut. “Kantor polisi?”

Ayah menatapku lurus. “Kamu tahu siapa yang udah bikin Ayah masuk rumah sakit?”

Tentu aku tahu. Aku ingin langsung menjawab, tetapi kembali teringat pesan Ayah beberapa waktu lalu agar tidak membahas Ken. “Kalo aku bilang… nggak apa-apa, nih, Yah? Ayah nggak marah?”

Ayah mengangguk. “Bilang aja.”

Aku menurunkan sedikit suaraku. “Ken.”

Kedua mata Ayah membulat. “Kamu tahu dari mana?”

“Dari berita,” jawabku singkat.

“Hah? Berita di mana? TV?”

Aku menggeleng. “Bukan. Berita di media online.”

Lihat selengkapnya