Sesuai chat yang dikirim dari Ayah, acara pernikahan Ibu akan dilaksanakan sehabis isya. Kini, sore hari aku sudah berada di atas KRL. Dilihat dari peta, aku harus turun di stasiun kedua paling ujung sebelum melanjutkan perjalanan dengan ojek online.
Maghrib berkumandang saat aku keluar dari stasiun tujuan. Ramai sekali stasiun itu. Banyak orang membawa tas besar, menenteng kardus-kardus, dan berjalan terburu-buru mengejar kendaraan.
Kondisi jalan di samping stasiun juga tak begitu luas. Mobil pribadi bercampur angkot lokal saling menyalakan klakson. Di pinggir-pinggir jalan, sejumlah ojek pangkalan menawarkan jasa mereka kepada orang-orang yang baru keluar dari stasiun.
Aku berdiri di satu sisi, menyalakan ponsel untuk memesan ojek online. Namun beberapa langkah di sampingku, aku terkejut saat mendengar bentakan marah dari sejumlah pengemudi ojek pangkalan kepada seorang pria berseragam ojek online. Dari perkataan mereka, aku bisa mengerti kalau ojek online tidak boleh berada di area stasiun.
Aku pun keluar dari kawasan itu. Berjalan sekitar seratus meter hingga ke pinggir jalan yang lebih lebar, jauh dari area stasiun. Setelah memesan ojek online, tak lama pengemudinya datang. Kami pun berangkat menuju lokasi tujuan yang menurut peta berjarak sekitar sepuluh kilometer.
Aku mengenakan pakaian yang lebih rapi dari biasanya, sesuai pesan Ayah sebelum berangkat tadi. Sepatu hitam yang hanya kupakai setahun sekali terasa sedikit sempit di kakiku. Di pundakku masih tergantung tas berisi perlengkapan menginap.
Jam di ponselku menunjukkan pukul 18.50 saat kami sampai di lokasi. Lingkungannya tidak begitu ramai. Beberapa bagian jalan bahkan tampak gelap karena lampu penerangan yang tidak merata.
Aku langsung mencari janur kuning, tenda, atau panggung seperti yang biasa ada di acara pernikahan. Namun tidak ada. Sepanjang mata memandang hanya deretan rumah-rumah biasa. Tidak terlihat keramaian ataupun tamu yang berdatangan.
Aku mulai berjalan mengitari sekitar dengan perasaan bingung. Tidak ada orang yang bisa kutanya. Kalaupun ada beberapa orang lewat, aku merasa sungkan untuk menghentikan mereka.
Aku sempat melihat ponselku. Ingin rasanya menelepon Ayah, tetapi aku kembali mengurungkan niat, takut mengganggunya.
Aku terus berjalan. Sekitar dua ratus meter ke satu arah, lalu berputar ke arah lainnya hingga kembali lagi ke titik semula. Jam di ponselku kini menunjukkan pukul 19.25. Aku berhenti di pinggir jalan. Apa aku sebaiknya pulang saja?
Di tengah kebingungan itu, terdengar suara seseorang membuang dahak dengan cukup keras dari depan sebuah rumah di belakangku. Aku spontan menoleh. Pria itu baru saja hendak masuk kembali ke dalam rumah. Aku langsung mengenalinya. Itu Wisnu.
“Om… Om?” panggilku sambil berjalan cepat menghampirinya.
Wisnu menoleh. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan peci hitam di kepalanya. Selama beberapa detik ia hanya menatapku dengan wajah berpikir, seolah berusaha mengingat siapa aku.
“Saya Putra,” kataku.
Kedua mata Wisnu membulat. “Oh… iya, iya. Kamu udah ditunggu sama Ibu kamu di dalem.”
Kami pun masuk ke dalam rumah.
Lampu di teras dan ruang depan menyala redup, membuat suasana terasa temaram. Ruang tamunya tidak begitu luas. Tidak ada pelaminan, tidak ada tenda, tidak ada dekorasi seperti pesta pernikahan yang pernah kulihat. Di sudut ruangan tersedia beberapa dus air mineral, kotak kue, dan nampan berisi makanan ringan.
Aku melihat Ibu yang sudah mengenakan gamis putih dengan kerudung senada. Wajahnya dirias sederhana. Dalam hati aku bertanya-tanya. Apa pernikahannya sudah dimulai? Karena yang kulihat sekarang hanya beberapa pria dan wanita dewasa yang sama sekali tidak kukenal.
Ibu mengangkat tangan ke arahku, memberi isyarat agar aku duduk di belakangnya. Aku mengangguk. Melepaskan sepatu, lalu duduk di atas karpet tipis tepat di belakang Ibu. Beberapa orang di ruangan itu sempat menoleh ke arahku. Aku hanya menundukkan kepala.
Suasana kembali sunyi.
Wisnu kemudian duduk bersila di samping Ibu.
Tak lama Ibu berbisik kepadanya, meski suaranya masih bisa kudengar. “Orangnya masih lama, Bang?”
“Sebentar lagi katanya,” jawab Wisnu.