Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #18

Tak Ada Jawaban

Sabtu malam KRL masih ramai walaupun jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Aku duduk di pojok kursi dengan tubuh bersandar ke samping. Pandanganku tertuju pada seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun yang sedang duduk di pangkuan ibunya. Di samping mereka ada seorang pria yang sepertinya ayahnya, serta seorang anak lain yang usianya kira-kira seusiaku. Mereka tampak seperti baru pulang dari tempat wisata. Anak kecil itu membalas tatapanku. Aku pun tersenyum tipis.

Malam ini tujuanku bukan ke apartemen Ayah, melainkan ke rumah kos. Aku sampai di stasiun terdekat sekitar pukul 21.50. Jalanan di depan stasiun masih cukup ramai. Seorang pengemudi ojek online yang sudah kupesan sebelumnya menungguku di pinggir jalan. Kami pun langsung berangkat.

Sekitar lima belas menit kemudian kami tiba. Begitu turun dari motor, aku sedikit terkejut melihat pagar kos terbuka lebar. Di depan terlihat beberapa mobil bak kecil dan motor yang dipenuhi barang-barang pindahan. Aku berjalan masuk dengan perasaan bingung.

Seorang penghuni kos, pria muda yang sedang memanggul kardus besar, menoleh ke arahku. “Woy… ini Putra, nih.” Ia mengatakannya kepada penghuni kos lain sambil terus berjalan keluar membawa kardusnya.

Aku memperhatikan ke sekeliling. Hampir semua pintu kamar di lantai bawah maupun lantai atas terbuka. Lampu-lampu menyala terang. Puluhan penghuni kos, baik laki-laki maupun perempuan, sedang sibuk mengangkat kardus, koper, kasur lipat, dan berbagai barang lainnya.

Dua perempuan berjalan menghampiriku. “Put, Ayah lu kebangetan banget. Masa ngasih tau kosan dijual mendadak kayak gini? Sebelumnya juga nggak ada pemberitahuan. Sekarang gua telepon juga nggak diangkat-angkat.”

Aku terperanjat. “Dijual?”

“Kamu nggak tahu emangnya?” tanya perempuan satunya.

Aku mengangguk, lalu menggeleng pelan. “Putra tahu… tapi nggak tahu kalo sekarang udah laku. Ayah pernah bilang bakal ngasih tahu penghuni kos dulu sebelum dijual.”

Perempuan pertama berdecak kesal. “Mana ada. Yang ada tuh lihat.” Ia menganggukkan dagunya ke arah halaman depan.

Aku menoleh. Di sana terlihat tiga pria berkemeja rapi sedang duduk di sofa sambil berbincang serius.

“Dari siang mereka di situ,” lanjut perempuan itu. “Belum pulang-pulang.”

“Mereka siapa, Kak?” tanyaku.

“Orang perusahaan yang beli kosan ini.”

Belum sempat aku berkata apa-apa, pria yang tadi membawa kardus kembali melintas. Kali ini tangannya sudah kosong. Ia tersenyum lebar saat melihatku. “Bilangin ke Bapak lu makasih, ya, Put. Gua jadi dibebasin biaya sewa sisa bulan ini.”

Aku hanya terdiam. Dua perempuan tadi kembali melanjutkan mengangkat barang-barang mereka. Sementara aku masih berdiri di halaman kos dengan perasaan kosong. Aku memandang bangunan itu cukup lama. Tempat yang selama ini memiliki banyak kenangan kini sudah menjadi milik orang lain.

Setelah beberapa saat hanya berdiri tanpa tahu harus berbuat apa, aku pun berbalik. Aku terus berjalan hingga ke pinggir jalan utama tanpa tujuan yang benar-benar jelas.

Setelah berjalan beberapa saat, aku melihat sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam. Aku pun masuk ke dalam. Membeli sebotol minuman dingin, cokelat, dan sebungkus ciki. Di dekat jendela tersedia meja panjang dengan beberapa kursi. Aku memilih duduk di sana. Di sekitarku hanya ada dua orang lain yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Lihat selengkapnya