Putra Tersayang

A. F. Ferdians
Chapter #19

Ayah Menghilang

Aku tertidur di sofa lobi apartemen. Kedua mataku berkedip malas saat melihat jam analog di dinding yang menunjukkan pukul 05.30. Aku menguap panjang sambil mengusap wajah. Ponsel kukeluarkan dari saku celana. Kubuka lagi chat dengan Ayah. Masih belum ada balasan.

Aku mencoba menelepon sekali lagi. Tetap tidak diangkat. Dengan masih menenteng tas berisi pakaian kotor sisa menginap semalam, aku berjalan ke toilet umum di samping lobi untuk mencuci muka. Air dingin itu sedikit menghilangkan rasa kantukku.

Setelah itu aku keluar mencari sarapan. Saldo uang digitalku masih sekitar tiga ratus ribu rupiah, sementara uang tunai yang kubawa sekitar dua ratus ribu. Aku membeli semangkuk bubur ayam yang mangkal di trotoar samping apartemen.

Hari semakin terang. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak masuk sekolah hari ini. Aku kembali lagi ke lobi. Duduk di sofa yang sama. Kali ini aku berharap Ayah akan keluar dari lift untuk berangkat kerja seperti biasanya.

Namun sampai pukul sembilan pagi, ia tak kunjung muncul. Aku menghela napas pasrah. Pesan maupun teleponku tetap tidak mendapat jawaban.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Di kontrakan Ibu masih ada satu stel seragam merah putih yang tertinggal. Setidaknya itu bisa kupakai untuk sekolah besok. Aku pun memutuskan berangkat ke stasiun KRL, lalu menuju kontrakan Ibu.

Hampir dua jam kemudian aku sampai di gang menuju kontrakan. Saat tiba di depan rumah, kulihat Ibu sudah bersiap pergi bersama Wisnu dengan membawa tas yang cukup besar seoalah ingin bepergian. Mereka sama-sama menoleh ke arahku dengan wajah heran.

“Putra? Mau ngapain?” tanya Ibu.

Aku berdeham pelan. “Maaf, Bu. Putra mau ambil seragam merah putih yang ketinggalan di sini.”

Kening Ibu langsung berkerut. “Emang di tempat Ayah lu nggak ada seragam?”

Aku menggeleng. “Dari kemaren Ayah nggak bisa dihubungi.”

Kedua mata Ibu sedikit membulat. “Terus, lu nggak bisa masuk ke apartemennya?”

Aku mengangguk lesu.

Ibu berdecak pelan. “Ke mana itu orang…,” gumamnya sendiri sambil mengeluarkan kunci rumah, lalu menyerahkannya kepada Wisnu. Wisnu membuka pintu kontrakan, sementara Ibu menoleh kepadaku. “Tunggu sebentar.” Ia masuk ke dalam.

Wisnu sudah memakai helm dan menyalakan mesin motornya.

Tak lama kemudian Ibu keluar sambil membawa satu stel seragam merah putih yang sudah dilipat rapi.

Aku segera menerimanya lalu memasukkannya ke dalam tas. “Makasih, Bu.”

Ibu kini menenteng helm di tangannya. “Abis ini lu mau ke mana?”

“Nunggu di apartemen aja paling.” Aku berpaling sambil mengangkat tasku ke pundak. “Putra pamit dulu.”

Saat aku mulai berjalan ke pinggir jalan, terdengar bunyi klakson motor dari Wisnu seoalah menyapaku. Aku menoleh sebentar. Wisnu menganggukkan kepala. Sementara Ibu hanya menatapku tanpa ekspresi. Aku membalas tatapan itu sesaat, lalu kembali berjalan.

Siang hari aku sudah kembali berada di apartemen. Namun sampai saat ini belum juga ada kabar dari Ayah.

Sore berganti malam. Ayah tetap tidak memberikan kabar. Aku mencoba menelepon lagi. Kali ini bahkan tidak ada nada sambung. Yang terdengar hanya pemberitahuan bahwa nomor yang kutuju sedang tidak aktif.

Dadaku mulai terasa tidak enak. Malam itu aku kembali tidur di sofa lobi apartemen. Ponselku kuisi daya menggunakan colokan yang berada di belakang sofa.

Pagi harinya aku hanya mencuci muka di wastafel toilet umum, lalu mengganti pakaian dengan seragam merah putih yang kuambil dari kontrakan Ibu kemarin. Aku sampai di sekolah tepat waktu.

Begitu melihatku masuk kelas, Aini langsung menatap wajahku cukup lama. “Lu nggak mandi, ya, Put? Masih ada belek, tuh.”

Aku spontan mengusap kedua mataku. “Mana? Nggak ada.”

Pagi itu guru belum juga masuk kelas. Belum ada kabar apakah ia izin atau terlambat. Aini kembali sibuk menulis sesuatu di bukunya, sementara Eko sedang mengobrol dengan beberapa teman di belakang.

Aku kembali menoleh ke Aini. “Ai, kemaren pas gua nggak masuk ada PR, nggak?”

Aini menoleh dengan senyum tipis. “Lah? Gua juga nggak masuk.”

Aku sedikit lega. “Oh, lu juga. Kirain gua doang yang nggak masuk. Kenapa lu nggak masuk kemaren?”

Aini kembali menulis. “Kesiangan gua. Lu sendiri kenapa?”

Aku menghela napas pelan. “Ayah gua udah dari hari Minggu nggak bisa dihubungi. Malah dari semalem teleponnya udah nggak aktif.”

“Bukannya udah biasa?” tanya Aini tanpa menghentikan tangannya menulis.

“Iya, sih… Tapi nggak tahu, ya. Gua jadi khawatir aja. Apalagi kalo inget kejadian beberapa minggu lalu Ayah gua dikeroyok sampe masuk rumah sakit.” Aku terdiam sebentar sebelum kembali menatap Aini. “Kira-kira kenapa, ya, Ai?”

Lihat selengkapnya