Jam dinding di ruangan menunjukkan pukul 16.30 saat dua anggota polisi yang sejak siang ditugaskan mencari keberadaan Ayah dan Ibu kembali. Mereka bergantian berbicara dengan polwan yang duduk di depan komputer.
Aku tidak bisa mendengar semuanya dengan jelas. Hanya beberapa potongan tentang keberadaan Ayah dan Ibu yang ternyata tidak bisa datang hari ini. Beberapa kali polwan itu melirik ke arahku sambil mengangguk pelan. Tak lama kemudian, kedua anggota polisi itu keluar lagi dari ruangan.
Polwan itu lalu menghampiriku. Ia duduk di sofa di sebelahku sambil tersenyum tipis. “Putra… tentang keberadaan Ayah kamu, kamu jangan khawatir. Ayah kamu baik-baik saja. Dia sekarang sedang di luar negeri.”
“Luar negeri?” tanyaku spontan dengan perasaan terkejut.
Polwan itu mengangguk. “Tepatnya di Bangkok. Kabarnya sedang liburan bersama temannya. Alasan kenapa Ayah kamu tidak bisa dihubungi karena HP yang biasa dia pakai untuk komunikasi ditinggal di apartemen. Mungkin nomor kamu disimpan di HP itu.”
Aku hanya terdiam. Entah kenapa, setelah mendengar penjelasan itu, pundakku justru terasa semakin lemas.
“Kalau Ibu kamu sekarang sedang di luar kota, katanya sedang bulan madu,” lanjut polwan itu. “Jadi, mereka berdua belum bisa datang hari ini, tapi menyanggupi datang ke kantor besok siang atau sore.”
Aku tetap diam.
Polwan itu menatapku beberapa saat, lalu mengusap pelan air mataku yang tanpa kusadari kembali jatuh. “Malam ini kamu menginap di sini saja, ya.”
Aku mengangguk kecil.
“Kamu bawa baju ganti?”
Aku melirik tasku yang berada di bawah sofa, lalu mengangguk lagi. “Bawa, Bu.”
Polwan itu mengusap rambutku sebentar sebelum berdiri. “Nanti Ibu bawakan kasur ke sini. Terus, kalau mau mandi bilang, ya, biar ditunjukin tempatnya.”
“Makasih, Bu,” ucapku.
Polwan itu kembali mengangguk sambil tersenyum ramah, lalu keluar dari ruangan.
Sore berganti malam. Sofa-sofa di ruangan itu digeser agar sebuah kasur lipat bisa dibentangkan untukku. Polwan yang berjaga malam berbeda dengan yang tadi siang, tetapi sikapnya sama ramah.
Jam di ponselku menunjukkan pukul 20.00. Aku sudah mandi, sudah berganti pakaian, dan sudah makan malam. Malam ini aku hanya bisa menunggu hari esok, saat akhirnya bertemu dengan kedua orangtuaku.
Keesokan harinya aku izin tidak masuk sekolah. Polwan yang kemarin menanganiku sudah kembali bertugas. Siang itu ia juga memberitahuku kalau wali kelasku sudah diberi kabar tentang kondisiku sehingga aku tidak perlu khawatir soal ketidakhadiranku hari ini.
Jam dinding menunjukkan pukul 13.00 saat aku baru saja menghabiskan makan siang. Aku berdiri sambil membawa kotak nasi berisi sisa sampah. “Bu, saya mau buang ke depan dulu.”
Polwan itu menoleh sekilas lalu tersenyum. “Silakan, Putra.”
Aku keluar dari ruangan. Beberapa langkah di lorong, terdapat tempat sampah. Aku membuang kotak nasi itu ke dalamnya. Baru saja hendak berbalik kembali ke ruangan, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.
Beberapa detik kemudian, Ibu muncul. Begitu melihatku, wajahnya langsung mengeras. “Putra,” panggilnya dengan suara tegas, nyaris terdengar sinis. Ia berjalan cepat menghampiriku. “Ngomong apa aja lu ke polisi? Sampe gua dipanggil.”
Aku langsung menunduk. Tubuhku sedikit gemetar.
“Jawab!” bentak Ibu dengan suara yang tertahan emosi.
Aku tetap menunduk sambil menggeleng pelan. Mulutku terasa berat untuk berbicara.
Belum sempat Ibu berkata lagi, perhatian kami teralihkan. Dari arah bawah tangga terdengar suara seseorang berbicara. Suara itu terdengar sangat kukenal.
Tidak lama kemudian, Ayah muncul di ujung tangga. Wajahnya tampak sedikit terkejut saat melihat aku dan Ibu berdiri berhadapan di lorong.
Pada saat yang sama, pintu ruangan di belakangku terbuka. “Putra, kok kamu lama?” Suara polwan terdengar dari dalam. Namun begitu melihat Ayah dan Ibu, ia langsung berhenti bicara. Tatapannya berubah serius. “Kalian orangtuanya Putra?”
Ayah dan Ibu sama-sama terdiam beberapa saat, seolah masih mencerna situasi yang sedang mereka hadapi.
Polwan itu lebih dulu menoleh kepada Ibu. “Anda Bu Wulan?”
Ibu mengangguk kecil dengan wajah datar.
Lalu polwan mengalihkan pandangannya kepada Ayah. “Dan Anda Pak Dodi?”
Ayah mengangguk cepat, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Benar, Bu,” jawabnya. “Ini gimana ceritanya anak saya bisa sampai di kantor polisi?”
Polwan itu merentangkan tangannya ke arah pintu ruangan. “Sebaiknya kita bahas di dalam.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Silakan tunggu. Saya ingin memanggil anggota yang lain dulu.”
Aku bersama kedua orangtuaku masuk ke dalam ruangan. Aku duduk di sofa. Ayah duduk di sampingku, sementara Ibu duduk di sofa seberang, tepat di hadapanku. Ruangan itu hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas.
Ayah melirik ke arahku. “Put, kamu udah cerita apa aja ke polisi?”
Ibu berdecak kesal. “Tunggu polisi aja, lah. Bentar lagi juga dateng.”
Ayah langsung menoleh ke arahnya. “Gua lagi nggak ngomong sama lu.”
Ibu membalas tatapan Ayah dengan tajam. “Percuma. Sebelumnya juga udah gua tanya. Nih anak cuma diem.”
Kepalaku terus tertunduk.
“Ya lu nanyanya kayak gitu. Takut lah dia,” balas Ayah.
Ibu mendengus pelan. Ia tidak berkata apa-apa lagi, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ayah kembali menoleh kepadaku. “Putra, sebelum polisi pada dateng, coba kamu cerita dulu ke Ayah.” Tangannya menyentuh pelan kepalaku, membuatku mengangkat wajah. Ayah menatapku lurus.