Tak ada senyum mekar tanpa berbalas riang
Hanya palsu yang nampak di riuhnya kebahagiaan
Aku terjerembab jatuh dalam pusaran rumah ibu
Petrikor. Setiap kali dia datang, aku merasa nyaman. Aromanya lembut penuh ketenangan. Setiap kali gemerisik hujan turun di pelataran, aku membuka jendela kamar. Merasakan aromanya yang pekat. Di saat itu mataku terpejam. Seolah tak ada beban pikiran yang bergelayut di kepalaku. Hanya ada suara rintik hujan yang perlahan membawa ribuan pasukannya. Riuh tapi tenang. Aku menyukainya. Senyumku mengembang tiap kali mereka datang. Tapi terkadang, senyumku selalu surut tiap kali mendengar teriakan dari balik pintu kamar. Bukan hal baru. Teriakan itu menjadi hal biasa bagiku setiap kali kakakku pulang membawa prestasi baru.
Namaku Erlita Senja. Bukan karena papa, mamaku atau kakek nenekku penyuka senja. Nama itu terpasang begitu saja di belakang namaku. Kata mama, nama itu tersemat dari proses kelahiranku. Ya, aku lahir saat senja menampakkan dirinya. Tapi aku tak suka senja. Bagiku senja pertanda bahwa gelap akan menyergap. Meskipun kata Sheila On 7 dalam lirik lagunya Jangan takut akan gelap karena gelap melindungi kita dari kelelahan. Tapi tetap saja aku tidak suka gelap. Setiap malam, lampu kamarku akan selalu menyala hingga pagi. Padahal katanya tidak baik menyalakan lampu saat tidur, itu akan membuat otak sulit untuk mencapai tidur yang lebih dalam dan mempengaruhi otak. Tapi kata siapa aku tidur? Seringkali aku terjaga di depan layar laptopku hingga dini hari.
Seperti malam ini, aku duduk sendirian di depan layar laptop. Mataku tertuju pada sebuah foto di sebuah akun media sosial teman sekelasku, Arini. Tanpa ragu, jemariku mulai bergerak, mengetik kata-kata yang sengaja aku siapkan untuk melukai hati Arini. Dalam sekejap, rahasia-rahasia yang terpendam, rumor yang difabrikasi, dan komentar pedas menghiasi kolom komentar Arini.
Aku menekan tombol enter” lalu komentar-komentar itu mengundang teman lain turut serta meninggalkan jejak di akun media sosial Arini.
***
"Sssst ... sssst ... Kavin!"
Kavin menoleh ke belakang, aku tepat berada di belakang bangkunya. Dengan cepat aku memperlihatkan layar ponselku.
"Apa?" Kavin memelankan suaranya serendah mungkin.
"Lihat ini!"
Kavin masih terlihat bingung dengan tingkahku. Kavin kembali menghadap ke depan. Dia tidak menggubris omonganku.
"Kavin, coba lihat. Pengikutku naik nih!" volume suara kunaikan dan mencoba memperlihatkan lagi ponselku kepada Kavin. Tapi kali ini bukan hanya Kavin yang menoleh, seluruh kelas ikut melihat ke arahku termasuk Ibu Rike guru kimia kami.