Putri Bayangan

Fitri Areta
Chapter #2

SEPERTI AWAN GELAP

Sesak menghunjam dalam pilu tangis

Awan gelap membumbung saat sebuah kabar datang

Rintiknya turun membasahi pipiku

 

Suara nada pesan berdentangan. Timbul tenggelam. Aku hanya melirik layar ponselku sejenak. Nama grup Keluarga Sastro muncul di bilah pemberitahuan. Aku masih saja sibuk mengecat kuku kakiku. Tidak mempedulikan pesan masuk yang berdesakan di WhatsApp-ku. Setelah usapan terakhir cat di kuku jari kelingkingku, tanganku meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja. Aku mulai penasaran obrolan apa yang sedang terjadi. Lima puluh pesan belum terbaca dari grup Keluarga Sastro.

Papa   : Selamat untuk anakku Mala. Keren anak papa.

Tante Mita     : Wah, ada apa nih?

Papa   : Mala lolos beasiswa dari Universitas Wijaya.

Mama : Anak siapa dulu dong?

Om Dion        : Mala selamat ya... Makan-makan nih..

Kak Mala       : Terima kasih semuanya. Semua berkat dukungan semuanya.

Kak Danang : Asyik. Nanti Mala satu kampus sama aku.

Mama : Nanti malam pada ke rumah ya... kita makan malam bersama sambil merayakan keberhasilan Mala

Tante Mita     : Siap, kakak.

Aku tutup WhatsApp tanpa lagi membaca kelanjutan obrolan di grup. Aku mengakui bahwa aku iri dengan Kak Mala. Seharusnya aku bangga mempunyai kakak yang cantik juga pintar tapi aku merasa sebaliknya. Kesal dan sedih setiap Kak Mala mendapatkan prestasi. Aku juga ingin seperti Kak Mala yang selalu membanggakan mama dan papa.

"Lita, ayo keluar. Dari tadi kamu di kamar terus. Ucapkan selamat sama kakak kamu." Terdengar suara mama di balik pintu sambil mengetuk-ngetuk pintu agar aku segera keluar.

"Iya, Ma," sahutku malas.

Aku memang kesal tapi setiap kali mama memanggil, aku tak pernah mengabaikannya. Aku selalu patuh meskipun bagiku patuh saja tidak cukup bagi mama.

Daun pintu kubuka perlahan, nampak mama dengan senyumnya menyambutku.

"Ayo itu ke Kak Mala. Minta tips supaya nanti kamu bisa mengikuti jejaknya," mama menarik tanganku dan menggandengnya. Menuntunku berjalan ke ruang tengah. Ayah dan Kak Mala terlihat sedang asyik mengobrol.

“Hai, Kak. Selamat ya." Sapaku kepada Kak Mala.

Kak Mala berdiri menghampiri dan memelukku.

"Terima kasih, Adik Sayang," ucap Kak Mala dengan senyum gembira.

Lihat selengkapnya