Langit Cerah di Lembah Mawar…
POV: Thomas Kecil dan Nenek Dora
Mentari mengintip di ufuk timur di Lembah Mawar ketika dua bayangan merayap menembus hutan.
“Krek…”
Sebuah ranting kecil patah diinjak kaki. Seorang bocah laki-laki berjalan di antara batang pohon-pohon. Dia memegang sebuah ranting kering.
Bocah itu mengayunkan rantingnya ke kiri ke kanan, menebas rumput liar yang menghalangi langkahnya.
“Whff…”
Rumput berayun dan roboh ke kiri dan ke kanan, membuka jalan bagi bocah itu. Dia terus melangkah perlahan sambil mengayunkan rantingnya.
Begitu sampai di ujung ladang rumput, bocah itu berdiri diam sebentar. Bibirnya melengkung ke atas. Lalu, tangannya terangkat ke atas.
“Hore! Aku bisa merasakan kekuatanku berkembang. Hehe…” Dia membusungkan dadanya dengan bangga. “Sebentar lagi, aku bisa menyusul pahlawan. Red tunggu aku–Aduh.”
Thomas membayangkan dia berdiri memegang pedang perak dengan gagah di depan Sister Red – pahlawan bayangan yang telah menyelamatkanya dari pedagang budak.
Rambut perak pahlawan itu berkibar terkena angin lembah. Lalu, Red tersenyum lembut dan menepuk pundaknya.
“Kerja bagus, Thomas. Kau sudah menjadi pahlawan sepertiku,” kata Red dalam imajinasinya.
“Puk—“
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk kepala bocah itu. Tidak menyakitkan tapi cukup membangunkannya dari lamunan liarnya. Bocah itu berbalik dan mendongak.
“Nenek… jangan pukul aku,” rengek Thomas kecil.
“Berhenti bermain-main!” Nenek Dora mendesah. “Kau belum mengumpulkan kayu bakar satu pun. Apa kau ingin makan telur mentah tanpa direbus?”
Thomas merenggut. “Jangan salahkan aku, nek! Aku belum menemukan kayu.”
Dia menunjuk ke tanah hutan yang ditumpuhi rumput hijau.
“Hanya ada rumput di tanah ini, Nek,” keluhnya.
“Kau terlalu banyak main-main, Thomas.”
Nenek Dora menunjukkan kayu bakar yang dibawanya di punggungnya.
“Lihat! Nenek udah mengumpulkan kayu kering,” katanya tegas.
Thomas menunduk. Namun, pipinya mengembung.
“Iya, Nek. Aku akan cari kayu kering. Jangan marah!”
…
Nenek Dora terdiam sejenak. Dia menghela nafas ringan, lalu menepuk kepala cucunya lembut.
“Nenek tidak marah. Ambil saja kayu kering yang berserakan di tanah. Tak usah pilih-pilih.”
“Nenek harus cepat karena kios buah tidak bisa menunggu.”
“Baik, nek,” kata Thomas sambil mengangguk.
Thomas kecil berjalan menyisir ke sisi lain ladang rumput. Rumput tinggi menutupi jalannya. Dia membuka rumput terakhir, lalu–
Mata hitamnya melebar. Di depannya, terbentang tanah yang lapang yang terang di antara rimbunnya hutan.
“Wow… sini banyak sekali kayu berserakan,” kata Thomas kaget.
Matanya menyipit, kepalanya bergerak dari kiri ke kanan. Thomas menoleh ke belakang dan memanggil Neneknya.
“Nek… sini kayu keringnya berserakan,” teriak Thomas.
“Nenek datang, nak–“
Langkah kaki terhenti di depan ladang kayu itu.
“Ini–“ matanya berkelip.
Nenek Dora melihat ladang gerbang sejauh mata memandang di tengah hutan belantara. Ribuan batang pohon dipotong rapi. Batang-batang pohon itu disusun rapi di tanah yang telah ditumbuhi rumput liar.
“Ini pembalakan liar–“ Nenek Dora menelan ludah. “Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?”
Matanya menyipit melihat batang-batang kayu yang sudah melapuk, dibuang sia-sia.
Nenek Dora melangkah perlahan menampaki tanah gersang itu. Dia berhenti di depan tumpukan kayu.
Bahu gemetar ketika dia melihat seorang pria berkerah beranda berbaring lemah, bersandar tumpukan kayu itu. Pakaiannya lusuh ditumbuhi rumput dan jamur liar.
Pria itu tertunduk. Matanya terpejam. Tanaman rambat telah melilit tubuhnya.
Dan di sekitar pria itu berbaring belasan kesatria. Zirah besi mereka berkarat dimurnikan alam. Pedang berkarat dan kapak tumpul berserekan di sekitar mereka.