Langit Cerah di Lembah Mawar…
POV: Caelan El Rose – Putri Kecil Mama
“Lala… lalala…”
Aku bernyanyi di sepanjang jalan. Hari ini, aku mau jamur di hutan bersama Mama.
Pagi ini, Mama membangunkanku. Mama menganti pakaianku. Caelan sayang banget sama Mama.
Mama siapin sarapan buatku. Roti bakar madu, telur, susu – aku suka semuanya. Tapi aku tidak suka sayuran bayam rebus, rasanya tidak enak.
Aku makan disuapi Mama sampai kenyang. Mama juga makan separuh piring sayuran bayam rebus yang aku ngga habisin. Mama baik banget deh. Hehe.
Setelah sarapan habis, Mama tanya aku mau makan siang apa? Aku mau makan barbeque jamur… Mama udah lama tidak masakin aku jamur.
Mama bilang panjual jamur lagi sakit. Aku tidak bisa makan jamur hari ini. Tapi Aku mau makan jamur.
Aku mengembungkan pipi, menyilangkan tanganku sambil duduk kursi di ruang makan. Aku ngga mau pergi dari kursi ini sampai Mama menurutiku.
Mama tersenyum lembut. Mama mengelus rambutku. Rasanya enak banget. Hehe.
Mama bilang Mama akan cari jamur di hutan belakang desa. Mama mendesah. Bibir Mama melengkung ke bawah.
Mama bilang kalau Mama pergi ke hutan, aku akan sendirian di rumah. Aku menggelengkan kepalaku. Aku mau pergi sama Mama.
Mama cuma diam aja ngga kasih jawaban ke aku. Lalu, Mama menatapku.
Aku bisa lihat bayanganku di mata biru Mama. Mama cantik banget. Hehe.
Mama bilang aku boleh ikut tapi aku harus patuh.
Aku mengangguk. Aku tidak mau ditinggal, aku ingin pergi sama Mama.
Mama kasih izin aku ikut. Hore! Aku bisa pergi berpetualang ke hutan bersama Mama. Aku tidak sabar. Hehe.
…
“Lala… lalala…”
"Tirili... trilili.. tiiriilii…"
Suara burung cantik banget. Aku menoleh ke pohon di kanan pinggir jalan. Burung-burung kuning menari-nari di ranting pohon.
“Mama… lihat! Nyonya Burung ikut menyanyi bareng Caelan,” kataku sambil menunjuk burung-burung itu.
Mama tersenyum dan menepuk kepalaku. Aku suka Mama menepuk kepalaku.
“Burungnya suka gadis manis kayak Caelan,” kata Mama lembut.
“Hehe… nyonya burung baik banget, Mom,” kataku riang sambil mengangkat tanganku.
Mama dan aku melihat nyonya burung terbang, lalu hinggap di sarangnya. Nyonya burung mengerami telurnya.
Mama pegang tanganku dan bilang, “Ayo kita lanjutkan perjalanannya, sayang.”
“Baik, Mom,” kataku mengenggam tangan Mama. Tangan Mama halus banget.
Aku terus melangkah di tanah hijau. Wah, hutannya cantik. Banyak pohon rimbun, rumput hijau. Kupu-kupu warna warni. Tapi—
“Hah… hah…”
Dadaku sesak. Dahiku basah.
Mama berhenti. Mata biru melebar, melihat aku ngga kuat jalan.
“Sayang… kalau kamu udah lelah… bilang, Mama?!” Mama menggendongku ke pelukannya. “Mama udah bilang Caelan di rumah aja dulu.”
Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, Mom. Caelan pengen pergi sama Mama. Caelan tidak suka ditinggal sendiri,” kataku sambil cemberut.
Mama tersenyum tipis. Pipiku dicubit Mama. Rasanya geli banget.
“Caelan memang anak Mama. Tapi—” Mama menghembuskan nafas. “Caelan tidak boleh memaksakan diri. Kalau Caelan lelah, bilang ke Mama, mengerti?”
“Aku mengerti, Mom,” kataku mengangguk, lalu peluk Mamaku.
Memeluk Mama rasanya hangat banget. Mama memang terbaik sedunia. Hehe.
Mama menggendong aku. Mama terkadang berhenti, menoleh ke aku dan mengusap dahiku yang basah.
Aku mencubit ujung gaun Mama. “Mom… kapan kita makan jamur?”
Mama mengelus rambut peraku. “Sabar, sayang. Sebentar lagi kita sampai.”
Aku mengangguk. “Caelan akan menunggu, Mom.”
“Bagus. Caelan memang gadis baik.”
Mama melanjutkan perjalanan. Aku menoleh ke atas dan melihat langitnya menjadi lebih gelap.
Pohon-pohonnya tinggi banget. Matahari ditutupi daun-daun.
Tapi aku lihat di sela daun-daun. Tuan matahari masih mengintip dan mengikutiku.
Tuan matahari kayaknya lagi malu. Tuan matahari boleh mengikutiku. Caelan tidak apa-apa.
Aku menoleh ke belakang. Daguku di pundak Mama.
Aku lihat tuan mataharinya mengikuti sampai ditutupi daun-daun. Tuan matahari tidak bisa mengintip lagi.
“Mama… hutannya gelap. Tuan matahari tidak bisa mengintip Caelan lagi,” kataku sambil menunjuk ke atas.
Mama tertawa kecil. Lalu, Mama mengusap wajahku.
“Kita udah tiba, sayang. Di sini, kita bisa cari jamur kesukaan Caelan,” kata Mama lembut.
“Hore! Caelan mau turun, bantu Mama cari jamur. Boleh, Mom?”
“Caelan memang anak baik.” Mama menurunkanku. “Tapi Caelan harus janji sama Mama. Tidak boleh pergi jauh dari Mama.”
“Dan kalau Caelan lelah, Caelan harus bilang Mama, mengerti?”
“Caelan mengerti, Mom,” kataku riang sambil melompat ringan.
Kakiku menjejaki tanah berlumut. Aku berjongkok. Mataku menatap jamur.
Jamurnya tumbuh di batang kayu lapuk. Aku memetik jamur itu dan melangkah kembali Mama.
“Mom… jamur ini bisa dimakan ngga?” tanyaku sambil menyerahkan jamur itu.
Mama mengambil jamurku. Mata birunya menatap jamur itu. Lalu, Mama mendesah perlahan.
“Sayang… jamur ini tidak bisa dimakan,” kata Mama lembut.
Aku menundukkan. “Tapi Caelan mau bantu Mama…”
Mama menepuk kepalaku. “Jangan menyerah, sayang. Caelan bisa cari jamur lagi.”
Mama berdiri diam sejenak. Bibirnya melengkung ke atas.
“Kalau Caelan kesulitan cari jamur, Caelan bisa serahkan ke Mama saja.”
“Tidak, Mom. Caelan mau bantu,” kataku sambil menggelengkan kepalaku.