Duar!
Bukan petir dari awan hujan yang menyambar kap mobil jip tua itu, melainkan bola api hitam yang melesat dari balik rimbunnya pohon pinus.
Michiru membanting setir ke kiri dengan liar. Ban mobil berdecit keras di atas tanah gembur yang basah, melemparkan lumpur merah ke kaca depan sebelum akhirnya hantamannya terhenti menabrak gundukan akar pohon raksasa.
"Keluar! Sekarang!"
Sebuah suara bariton yang asing, terdengar dari arah kegelapan kabut.
Anggara, yang posisi kepalanya sempat terbentur dasbor, langsung menendang pintu mobil hingga terbuka. Ia menarik Yashna yang masih lemas ke dalam dekapannya, sementara Michiru merangkak keluar dari kursi kemudi dengan napas tersengal.
Di belakang mereka, jip yang baru saja mereka kendarai meledak, mengobarkan api jingga yang aneh. Api yang tidak menghasilkan asap putih, melainkan distorsi udara berwarna kehitaman.
Para Danava pasukan intai Kaelen sudah mengendus posisi mereka.
"Lewat sini kalau kalian masih ingin bernapas!"
Sesosok pemuda dengan jaket hitam muncul dari balik semak belukar. Usianya masih sangat muda, sekitar 23 tahun, dengan potongan rambut cepak militer. Mata tajam pemuda itu bergerak memindai sekeliling. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah pistol supresor standar intelijen, tetapi tangan kirinya ... ini yang luar biasa. Telapak tangan itu memancarkan cahaya dan hawa panas yang membuat embun di sekitarnya menguap.
"Siapa kau?!" Anggara memasang posisi siaga. Tangan kanannya meraba pisau lipat di saku, sementara tubuhnya tetap membentengi Yashna.
Pemuda itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berbalik, menghadap ke arah dua siluet bayangan hitam berzirah tipis yang meloncat dari atas pohon. Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, pemuda itu menyilangkan kaki kirinya ke belakang, merendahkan tubuh dalam posisi kuda-kuda yang kokoh. Sebuah gerakan beladiri pembuka yang sangat mirip dengan Silek Harimau Minangkabau.
Apa yang terjadi berikutnya membuat Anggara dan Michiru terperangah.
Pemuda itu menghentakkan telapak tangan kirinya ke depan. Bukan peluru yang keluar, melainkan gelombang cahaya putih kekuningan yang sangat panas, menyembur dari pori-pori kulitnya, menghantam dada salah satu makhluk bayangan hingga terpental belasan meter dan hangus menjadi abu sebelum sempat menyentuh tanah.
"Aku Fauzan," ucap pemuda itu tenang bahkan setelah melakukan sesuatu yang luar biasa. Napasnya teratur seolah-olah baru saja melakukan peregangan ringan.
"Dan gadis di punggungmu itu adalah alasan kenapa langit kota ini berubah jadi merah," ujarnya tandas.