Bau tembaga dan daging terbakar menembus celah-celah pilar marmer putih Aula Agung Elvara.
Langit kerajaan Elvara yang biasanya memantulkan gradasi warna aurora biru-keperakan kini pekat oleh asap hitam. Suara dentang baja dan benturan energi kanuragan terdengar bergemuruh. Di gerbang luar, amuk peperangan semakin mengenaskan oleh jeritan para pengawal yang gugur satu demi satu.
Yashna mencengkeram erat busur kayu cendana di tangan kirinya. Jemarinya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena getaran tanah yang terus-menerus diguncang oleh ledakan dari mantra prana (kekuatan mistik) hitam pasukan pemberontak. Keringat mengalir dari pelipisnya, membasahi beberapa helai rambut peraknya yang kusut dan menempel di pipi.
"Kau harus pergi, Yashna. Sekarang."
Suara itu tandas, serak, dan penuh desakan. Raja Elvar XX berdiri di depan altar singgasana, beberapa langkah di depan putrinya.
Jubah kebesaran sang raja yang biasanya berkilau megah kini robek di bagian bahu, menyisakan noda darah gelap yang mulai mengering. Tongkat kerajaan yang permata intinya sudah retak digenggam di tangan kanan, sementara tangan kirinya bergerak-gerak, menulis aksara kuno di udara. Setiap kali jarinya bergerak, partikel cahaya keemasan terlepas, mencoba merajut robekan ruang di tengah altar—sebuah portal antar dimensi yang perlahan terbuka, berpusing seperti pusaran air
"Tidak, Ayah," bisik Yashna, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia melangkah maju, tetapi rasa sakit di pergelangan kaki kanannya akibat serpihan batu tadi membuat ia hampir tersungkur. "Aku tidak akan meninggalkan Ayah. Pengawal istana bagian barat masih bertahan. Kita bisa memukul mundur mereka jika ...."
"Tidak ada lagi waktu untuk berandai-andai!" Raja Elvar berbalik. Selama ini ia tidak pernah menghardik putrinya seperti itu. Namun, matanya yang biasanya teduh kini memancarkan keputusasaan yang teramat sangat. Ia memegang kedua bahu Yashna dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga membuat Yashna meringis.
"Panglima Kaelen telah menguasai menara pengawas. Seluruh rantai sihir pertahanan kota sudah diputus dari dalam. Ini bukan lagi perang untuk mempertahankan tahta, Yashna. Ini adalah pembantaian."
BOOM!
Pintu gerbang Aula Agung yang terbuat dari besi tempa setebal satu meter berdentang keras. Engsel atasnya rumpang, menciptakan celah tipis yang langsung menyemburkan asap abu-abu. Dari balik celah itu, siluet makhluk-makhluk bayangan bermata merah, yakni monster peliharaan pasukan Kaelen, mulai mencakar-cakar besi, melolong lapar.
Raja Elvar menatap portal di belakangnya yang kini berputar lebih cepat. Pusaran itu memancarkan angin dingin yang berbau asing; bau tanah basah, garam, dan debu besi yang belum pernah Yashna rasakan sebelumnya.
"Portal ini akan membawamu ke koordinat terjauh yang bisa dijangkau oleh sisa energi pusaka istana," kata Raja Elvar, suaranya berkejaran dengan suara hantaman di gerbang. "Ke sebuah dunia di mana kekuatan Prana telah lama tertidur. Kaelen tidak akan bisa melacak jejakmu di sana dengan mudah. Cari Busur Pusaka di tanah Yaua. Cari hubungan kuno yang pernah kita tinggalkan di sana. Hanya itu satu-satunya cara untuk merebut kembali Elvara."
"Tapi Ayah ...." Air mata Yashna akhirnya luruh, membasahi pipinya yang kotor oleh jelaga. Ia melihat ayahnya yang sudah kehabisan napas. Rambut perak sang raja yang biasanya bersinar kini terlihat redup, pertanda energi prana di dalam tubuhnya sudah mencapai batas kritis. Menjaga portal tetap terbuka dalam kondisi terluka adalah tindakan bunuh diri. "Jika portal ini ditutup dari sini, Ayah tidak akan selamat."