Rasa sakit adalah hal pertama yang merayap kembali ke dalam kesadaran Yashna. Bukan rasa sakit yang tajam seperti sayatan belati Kaelen, atau benturan energi prana yang menghantam tubuh, melainkan rasa ngilu dan merata, seolah-olah setiap sendi di tubuhnya telah diregangkan lalu dipasang kembali dengan posisi yang salah.
Yashna melenguh kecil. Kelopak matanya terasa seberat lempengan baja saat ia mencoba membukanya. Bau pertama yang menyengat hidungnya adalah campuran antara karet terbakar, uap pekat yang asam, dan aroma tanah basah yang membusuk. Sangat jauh dari wewangian kelopak bunga Aethel yang biasa membungkus kamar tidurnya di Istana Elvara.
Ia mencoba bertumpu pada kedua telapak tangannya untuk bangkit. Namun, permukaan di bawahnya terasa sangat kasar dan dingin. Butiran-butiran kerikil tajam menusuk kulit telapak tangannya. Ketika ia menarik tangannya, telapak kulitnya yang keperakan kini ternoda oleh lapisan jelaga hitam yang lengket dan berminyak.
'Di mana aku?'
Yashna memaksakan dirinya untuk duduk, bersandar pada tiang besi silinder yang semalam menghantam punggungnya. Tiang itu menjulang tinggi, menopang sebuah kotak kaca yang memancarkan cahaya kuning pucat yang berkedip-kedip redup. Di atasnya, langit malam tidak lagi menampilkan tarian aurora keperakan yang anggun. Langit di tempat ini mati. Berwarna hitam pekat, kelabu, dan tersedak oleh kabut tebal yang menyembunyikan bintang-bintang.
Bumi. Kata itu terngiang kembali di telinganya, diucapkan oleh suara serak ayahnya sebelum ruang dan waktu terkoyak.
Sebuah raungan keras tiba-tiba memotong kesunyian malam. Yashna tersentak, tangannya secara refleks bergerak ke punggung, mencari tabung anak panah dan busur cendananya. Kosong. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari senjata pelindung dirinya telah hilang di celah dimensi.
Dari kelokan jalan di depannya, dua lingkaran cahaya putih yang sangat terang melesat membelah kegelapan. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga memaksa Yashna melindungi matanya dengan lengan baju zirahnya yang robek. Sebuah kotak besi raksasa beroda empat melesat melewati tempatnya terkapar dengan kecepatan gila, menciptakan embusan angin keras yang menerbangkan rambut peraknya. Binatang besi itu mengeluarkan suara gemuruh dari perutnya, menyemburkan asap abu-abu dari bagian belakang, sebelum akhirnya menghilang di balik kegelapan malam. Kelak Yashna tahu jika 'binatang' itu disebut mobil.
Yashna gemetar. Ia menekan tubuhnya erat-erat ke tiang lampu. Di Elvara, bahkan kereta perang tercepat milik Panglima Kaelen digerakkan oleh kuda-kuda bersayap yang melangkah anggun. Makhluk besi tadi bergerak tanpa kaki, tanpa sayap, meluncur di atas hamparan hitam pekat yang membentang panjang.
"Ayah ..." bisik Yashna, suaranya parau dan kering. Tenggorokannya terasa seperti disumpal pasir.