Putri Yashna

Arif Sufyan
Chapter #3

Secangkir Kehangatan

Suara detak yang ritmis—tik, tok, tik, tok—menjadi hal pertama yang didengar Yashna saat siuman. Suara itu konstan, kering, dan mekanis. Di atas kepalanya, sebuah benda putih berbentuk bundar dengan jarum-jarum hitam yang berputar di dinding menjadi sumber suara asing tersebut.

Yashna tidak langsung membuka mata. Ia melatih indranya terlebih dahulu, mencoba merasakan aliran prana di sekitarnya. Kosong. Sudut batinnya mengkerut kecewa; dunia ini masih tetap hampa dari daya sakti alam semesta. Namun, setidaknya ia tidak lagi merasakan aspal dingin yang basah atau hantaman angin malam yang menusuk tulang.

Ia berbaring di atas permukaan yang empuk. Kulitnya menyentuh lembaran kain halus berbau harum kelopak bunga yang belum pernah ia kenal—bukan Aethel, melainkan sesuatu yang lebih segar, mirip perasan jeruk dan tumbuhan tropis.

Yashna membuka matanya perlahan. Langit-langit di atasnya datar, dicat putih bersih, berjarak hanya beberapa meter dari wajahnya. Sangat berbeda dengan langit-langit aula Elvara yang melengkung tinggi dengan ukiran batu meteor. Di sudut ruangan, sebuah tabung kaca panjang memancarkan cahaya putih yang stabil dan terang, menerangi setiap sudut tempat itu tanpa bantuan api setitik pun.

"Ah, kamu sudah bangun?"

Suara perempuan yang semalam terdengar di tengah hujan kini kembali. Yashna tersentak, otot-otot tubuhnya secara refleks menegang. Ia langsung mendudukkan diri dengan cepat, sebuah gerakan mendadak yang memicu rasa nyeri hebat di perut dan pergelangan kakinya.

Yashna mengabaikan rasa sakit itu. Matanya yang sewarna perak menatap waspada ke arah sudut ruangan. Di sana, dekat sebuah meja kayu yang dipenuhi tumpukan kertas dan pecahan batu kuno, berdiri gadis berambut hitam pendek yang semalam menolongnya. Gadis itu tidak lagi mengenakan pakaian tebal cokelatnya, melainkan sepotong kain putih tipis longgar dan celana biru ketat. Di tangannya, ia memegang sebuah wadah keramik kecil yang mengepulkan asap tipis.

"Jangan takut," kata gadis itu pelan, melangkah maju dengan sangat hati-hati, seolah-olah takut mengejutkan seekor rusa liar yang terluka. Ia mengangkat kedua tangannya yang bebas, menunjukkan bahwa ia tidak membawa senjata.

"Aku Michiru. Kamu aman di sini. Ini rumahku."

Yashna tidak mengerti satu patah kata pun. Bahasa yang keluar dari bibir gadis bernama Michiru itu terdengar seperti rentetan bunyi klik dan vokal yang asing di telinganya. Yashna meraba lehernya dengan panik. Liontin safir dari ayahnya masih ada di sana, tergantung lesu tanpa pendaran prana. Zirah peraknya telah dilepas, digantikan oleh jubah kain tebal berwarna abu-abu yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang tinggi semampai.

"Di mana ... Kaelen?" Yashna memaksakan diri berbicara. Suaranya parau, menggunakan bahasa tinggi Elvara yang mengalun seperti nyanyian kuno. "Di mana tempat ini? Apakah ini tanah Yaua?"

Lihat selengkapnya