Putri Yashna

Arif Sufyan
Chapter #4

Rajutan Aksara Kuno

Frustrasi terbesar seorang peneliti adalah saat pintu pengetahuan ada di depan mata, tetapi gemboknya terkunci dalam keheningan.

Demikian juga dengan Michiru. Gadis itu menatap nanar tumpukan kertas kerja yang berserakan di atas meja kayu jati miliknya. Jam dinding berbentuk bundar telah berdetak melewati pukul tiga pagi. Di bawah pendaran lampu meja yang kekuningan, cangkir kopi ketiganya telah mendingin, menyisakan ampas hitam di dasar keramik.

Yashna sendiri duduk dengan punggung tegak di seberang meja. Postur tubuhnya terlihat terlalu kaku dan anggun untuk seseorang yang mengenakan kaus flanel kedodoran milik Michiru. Mata perak Putri Elvara itu menatap tajam setiap gerak-gerik Michiru. Ia lelah, tetapi menolak untuk terpejam.

"Kita coba lagi," bisik Michiru, suaranya serak. Ia memijat pangkal hidungnya yang berdenyut.

Michiru menarik sebuah kotak kayu berlapis beludru hitam dari rak terbawah. Dengan sangat hati-hati, ia mengeluarkan sebuah replika prasasti perunggu berukuran telapak tangan. Itu adalah replika Lempengan batu Yaua-Pramana yang ia temukan di situs penggalian setahun lalu. Permukaan perunggu itu penuh dengan ukiran guratan runcing yang menyerupai sulur tanaman. Bentuk aksara mati yang tak pernah bisa dipecahkan oleh para ahli bahasa dunia.

Michiru meletakkan lempengan itu di tengah meja, tepat di antara mereka berdua. Ia menunjuk dirinya sendiri. "Michiru," katanya pelan.

Kemudian, ia mengarahkan telunjuknya ke arah Yashna. "Siapa namamu?"

Yashna menatap telunjuk Michiru, lalu beralih pada lempengan perunggu di atas meja. Begitu matanya menangkap guratan sulur di atas logam tersebut, pupil mata peraknya melebar. Ada riak emosi yang tertangkap di wajahnya yang pucat. Yashna mengulurkan jemarinya yang lentik, menyentuh pinggiran perunggu itu dengan takzim.

"Prana ..." desis Yashna. Suaranya selembut desau angin malam, tetapi ada penekanan berat pada kata tersebut. Ia mendongak, mengunci pandangan Michiru.

"Yashna. Namaku ... Yashna."

Gadis arkeolog itu menahan napas. Ia dengan cepat menyambar pulpen, menuliskan nama Y-A-S-H-N-A di buku catatannya dengan huruf kapital besar. "Yashna," ulang Michiru, mencoba meniru intonasi anggun tersebut.

Yashna mengangguk sekali. Ia lalu mengetuk salah satu simbol sulur di sudut lempengan perunggu. "Aethel" ucap Yashna, lalu menggeleng lambat. Ia mengetuk simbol di sebelahnya yang berbentuk tiga garis melengkung vertikal. "Prana-Vayu ... Angin."

Lihat selengkapnya