Putri Yashna

Arif Sufyan
Chapter #5

Pemuda Gunung

Langkah kaki boots tebal yang berdecit di atas lantai semen luar ruangan langsung memecah keheningan pagi. Pintu ruang kerja Michiru terbuka dengan sentakan kasar, membawa serta aroma angin pegunungan yang segar dan bau jaket parasut yang lembap.

"Mich, kau gila? Meneleponku jam empat pagi dan memintaku datang membawa peralatan navigasi lengkap seolah-olah kita akan melarikan diri dari kejaran intel negara?"

Pemuda itu berdiri di ambang pintu. Postur tubuhnya tegap, kulitnya terbakar matahari khas orang yang menghabiskan separuh hidupnya di puncak gunung, dengan rambut hitam berantakan yang basah oleh embun pagi.

Namanya Anggara.

Ia meletakkan ransel carrier berkapasitas 60 liter di lantai dengan bunyi debup yang berat, sebelum akhirnya matanya tertuju pada sosok yang duduk di sudut ruangan.

Anggara terdiam. Tangannya yang baru saja hendak melepas jaket langsung menggantung di udara.

Yashna menatapnya dari balik meja. Meski ia mengenakan kemeja flanel kedodoran, aura keanggunan seorang putri dinasti Elvara tidak bisa disembunyikan. Mata peraknya berkilat waspada, dan jari-jarinya secara refleks meraba liontin safir di dadanya, menilai apakah pemuda yang baru datang ini adalah ancaman atau kawan.

"Siapa dia, Mich?" bisik Anggara, suaranya turun dua oktav. "Dan demi Tuhan, kenapa matanya berwarna perak seperti itu? Apa ini model draf fiksi barumu?"

"Dia Yashna." Michiru memotong cepat, melangkah di antara mereka berdua untuk meredakan ketegangan. "Dan percaya atau tidak, ini bukan fiksi. Dia jatuh dari langit semalam, tepat di depan mobilku."

Anggara menggelengkan kepala, tertawa pelan.

"Jatuh dari langit? Jangan bercanda—"

"Aku tidak punya waktu untuk bercanda, Anggara." Michiru meraih tablet digitalnya dari atas meja, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Anggara. Layar tablet itu menampilkan pindaian manuskrip kuno abad ke-17 yang bersanding dengan tabel aksara Elvara yang baru saja ia susun bersama Yashna semalam.

"Dia adalah pemilik sah dari simbol-simbol mati yang selama ini kita teliti di situs bukit."

Lihat selengkapnya