Putri Yashna

Arif Sufyan
Chapter #6

Jalur Logistik Museum

"Tiga belas kamera, dua sensor gerak di selasar utama, dan satu pintu baja dengan pengunci biometrik. Dan itu baru di lantai atas, Mich."

Suara Anggara memecah keheningan di dalam kabin mobil yang remang-remang. Hujan pagi telah berhenti, menyisakan butiran embun di kaca jendela. Jalanan aspal kota mulai terlihat hidup dengan lampu-lampu kekuningan dan beberapa pedagang yang mulai menata gerobak.

Anggara duduk di kursi depan, jari-jarinya menari cepat di atas layar tablet yang terhubung ke dasbor mobil, memeriksa cetak biru Museum Kebudayaan yang telah ia retas. Cahaya layar menerangi wajahnya yang menegang.

Michiru, dengan tangan terampil di atas kemudi, melirik tajam ke arah spion tengah sebelum membanting setir tajam ke belokan jalan yang lebih sempit.

"Aku tahu, Ga. Karena itulah kita tidak akan lewat pintu utama, apalagi lantai dasar. Fokus ke jalur pembuangan logistik di sebelah barat, dekat area bongkar muat kargo."

Yashna duduk membisu di kursi belakang. Tubuhnya terbalut jaket tebal parasut hitam kebesaran yang diberikan Anggara. Bahkan, bau pinus basah masih tertinggal pada kainnya. Rambut peraknya yang panjang telah diikat cepol ke atas, disembunyikan di bawah topi rajut gelap. Matanya yang keperakan memantulkan sorot lampu jalan, menyimak patah-patah percakapan dua sahabat barunya dengan penuh konsentrasi. Meskipun ia tak memahami sebagian besar kata yang mereka ucapkan, intonasi dan bahasa tubuh mereka sudah cukup baginya untuk menyadari bahwa mereka sedang bersiap menembus benteng berlapis, atau sesuatu yang tidak mudah.

"Sihir ilusi, kalian tidak menggunakan?" tanya Yashna, suaranya parau. Baru beberapa jam belajar bahasa dunia ini, susunan kalimatnya masih terbalik-balik. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memegang sandaran kursi. "Di Elvara, pelindung kastil yang paling lemah pun menggunakan kekuatan kanuragan berlapis-lapis. Makhluk besi ... kotak bergambar ini ... tidak cukup kuat untuk menahan kekuatan prana."

Michiru tertawa kecil.

"Di dunia ini, kami mengandalkan listrik dan silikon, Yashna. Tak ada prana atau kanuragan di sini. Hanya sirkuit yang bisa diputus jika kita cukup pandai, "jawabnya, lalu ia berkata kepada Anggara, "Periksa akses pintu kargo."

"Pintu kargo barat terbuka pada pukul lima pagi untuk jadwal truk pemasok," lapor Anggara, matanya tak beranjak dari layar. "Tapi ada dua penjaga bersenjata yang berpatroli setiap lima belas menit. Jika kita ingin menyelinap, kita butuh pengalih perhatian yang sangat rapi."

Michiru menghentikan mobil perlahan di sebuah gang gelap, sekitar seratus meter dari dinding belakang kompleks museum. Gedung museum itu berdiri megah, dan merupakan struktur raksasa peninggalan era kolonial dengan pilar-pilar batu yang tebal.

"Kita gunakan celah itu," bisik Michiru sambil mencabut kunci mobil. Ia menoleh ke belakang, menatap Yashna. "Yashna, dengarkan aku. Di dalam gedung itu tidak ada tentara pemilik prana ataupun kanuragan, tapi mereka punya senjata logam yang menembakkan peluru dalam kecepatan kilat. Kau paham? Peluru. Logam. Cepat."

Michiru menirukan suara desingan dan ledakan dor menggunakan tangannya, menunjuk dada Yashna.

Yashna mengangguk pelan. Ia menyentuh dada kirinya, membayangkan anak panah logam dari bumi yang bisa menembus jantungnya jika ia lengah.

"Yashna paham," ucapnya terbata, "Bergerak dalam bayangan."

Anggara mematikan layar tabletnya, menyelipkannya ke dalam ransel sebelum membuka pintu mobil. Udara dingin pascahujan langsung menyergap mereka. Tanpa banyak bicara, ketiga orang itu bergerak layaknya bayangan yang menyelinap dari gang satu ke gang lainnya, merapat pada dinding-dinding beton yang lembap.

Setibanya di dekat area bongkar muat kargo, mereka bersembunyi di balik tumpukan kontainer sampah besi berukuran besar. Bau busuk sampah kota menusuk hidung Yashna. Ia menahan napas, menatap tajam ke depan.

Lihat selengkapnya