BRAK!
Suara pintu kargo di belakang mereka yang digedor dari luar berganti dengan lengkingan nyaring yang menyakitkan telinga. Di atas langit-langit lorong, lampu darurat yang tadinya berwarna merah statis kini berkedip-kedip liar, membanjiri dinding beton dengan cahaya merah darah yang mencekam.
"Sial!" umpat pemuda pecinta alam itu. Sepertinya, penjaga di luar sana langsung menekan sakelar darurat manual, memicu peringatan.
Anggara cepat menarik Michiru dan Yashna mundur ke balik pilar fondasi saat sekelompok lampu sorot dari kamera pengawas di langit-langit berputar liar, mencari target.
"Mereka mengunci seluruh sektor." Napas Michiru memburu, matanya terpaku pada layar ponselnya yang menampilkan pemetaan internal museum yang mulai berkedip merah satu demi satu. "Sistem keamanannya menggunakan protokol isolasi berlapis. Jika kita tidak menembus koridor pameran utama dalam tiga menit, pintu tebal di ujung lorong ini akan turun dan mengubur kita hidup-hidup!"
Yashna tidak membutuhkan terjemahan bahasa untuk memahami situasi itu. Bau ancaman di tempat ini begitu pekat. Meskipun tidak ada bau belerang atau raungan monster bayangan Kaelen, bunyi tut ... tut ... tut ... yang berulang dari pelantang suara di dinding memicu insting bertarungnya.
"Ikut Yashna," desis sang Putri.
Ia tidak lagi berjalan pincang. Entah karena dorongan adrenalin atau karena kedekatan jaraknya dengan Busur Pusaka yang mulai merangsang sisa-sisa inti batinnya, gerakan Yashna kembali lentur. Ia melesat memimpin di depan, menyusuri koridor panjang yang menurun. Jaket parasut hitam pemberian Anggara berkibar di belakangnya seperti jubah perang.
Mereka keluar dari lorong logistik dan tiba di sayap barat gedung museum. Sebuah aula luas berkubah tinggi. Lantai marmernya mengkilap, memantulkan cahaya lampu darurat. Di kanan-kiri mereka, berderet lemari-lemari kaca besar yang menyimpan peninggalan masa lalu: bilah-bilah keris berlekuk yang diselimuti kain beludru, arca-arca batu tanpa kepala yang disorot lampu halogen, dan fragmen prasasti kuno yang membisu.
"Tunggu! Jangan lewat tengah aula!" Anggara berteriak setengah berbisik, mencoba meraih ujung jaket Yashna. Namun terlambat.
"Lantainya punya sensor tekanan!" Akhirnya Anggara berseru.
Tepat saat kaki Yashna hendak menginjak ubin marmer bermotif lingkaran di tengah aula, peringatan Anggara membuat tubuhnya menegang di udara. Menggunakan kelenturan fisiknya, Yashna memutar tumpuan tubuhnya di atas satu kaki, melakukan manuver balik yang anggun dan mendarat kembali di batas aman ubin abu-abu.
Namun, embusan angin dari gerakannya yang cepat tadi rupanya cukup untuk memicu sensor lain. Di ujung aula, sebuah palang besi dengan jaring-jaring kawat tebal mulai turun secara otomatis dari langit-langit, bersiap menutup jalan menuju tangga bawah tanah.
"Pintunya menutup!" pekik Michiru.
"Anggara, pegang ini!" Michiru melempar tas ranselnya ke arah Anggara. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya, gadis arkeolog itu meluncur di atas lantai marmer yang licin, mencoba mengganjal palang besi yang hampir menyentuh lantai dengan sebuah balok kayu dekoratif yang ia sambar dari dekat replika arca.
*KRETEK!*