Trang!'
Ledakan itu seperti dua gunung batu yang saling dihantamkan. Gelombang kejutnya menghempaskan tubuh Yashna hingga terdorong ke belakang, menyapu debu-debu di atas lantai marmer. Matanya terbelalak.
Senter ponsel Michiru yang tergeletak di lantai menyorotkan seberkas cahaya miring, menampakkan pemandangan yang mustahil. Kapak raksasa milik prajurit zirah hitam itu tertahan di udara, berjarak sejengkal dari kening Yashna, membentur sekat pelindung transparan berwarna biru muda yang berdenyut keras.
Perisai itu tercipta dari Busur Pusaka di tangan kanan Yashna.
Tanpa sadar, jemari sang Putri telah mencengkeram erat gagang kayu hitam busur tersebut tepat saat kotak kaca lumpuh. Sentuhan itu laksana menyiramkan bahan bakar ke atas bara api yang sekarat di dalam tubuhnya. Prana yang tadinya beku kini mendidih, merambat melalui urat-urat lengannya, menyalakan tanda keperakan di pelipisnya dengan pendaran yang menyilaukan
"Yashna! Menunduk!"
Teriakan Michiru memecah keheningan yang tegang.
Prajurit elite Danava yang berzirah serigala itu menggeram kencang, otot-otot lengannya yang bersisik hitam menegang saat ia menarik kembali kapak gandanya untuk ayunan kedua. Kali ini, asap hitam yang menyelimuti bilah senjatanya berputar lebih pekat, siap mengoyak perisai pelindung yang mulai melemah.
Yashna tidak menunggu serangan itu mendarat. Mengandalkan memori otot dari ratusan pertempuran di Elvara, ia berguling ke samping, merapatkan tubuhnya pada panggung batu.
Brak!
Kapak hitam itu menghantam lantai marmer tempat Yashna berdiri sedetik lalu, menghancurkan batu alam itu hingga menjadi serpihan tajam yang berterbangan. Getarannya merontokkan beberapa butir batu bata dari langit-langit kuno.
Di sudut ruangan, Anggara berusaha bangkit dengan kepala pening akibat hempasan gelombang energi barusan. Matanya menangkap pemandangan mengerikan itu di bawah temaram pendar biru busur pusaka. "Makhluk apa ... demi Tuhan, makhluk apa itu?!" bisiknya dengan tenggorokan kering. Tangannya gemetar saat meraba tanah, mencari ranselnya.
"Jangan banyak tanya, Ga! Bantu aku!" Michiru berteriak dari balik pilar. Ia menyeret tubuhnya yang lecet, mencoba meraih tas belanja berisi beberapa botol cairan kimia pembersih pameran yang sempat ia bawa dari ruang logistik atas.
Yashna bangkit berdiri di atas panggung batu, memosisikan busur raksasa itu di depan dadanya. Tangan kirinya bergerak refleks menarik tali busur yang tak kasatmata. Seutas benang cahaya biru tercipta dari udara kosong begitu jarinya menyentuh poros lengkungan. Menjelma sebuah anak panah cahaya, membidik tepat ke celah helm serigala musuh.
Wush!
Tali busur dilepaskan. Anak panah cahaya itu melesat membelah kegelapan lorong bawah tanah, meninggalkan jejak pendaran biru yang menyilaukan. Namun, prajurit zirah hitam itu bergerak dengan kecepatan yang sulit dinalar. Ia mengangkat lengan kirinya yang dilindungi pelindung lengan besi tebal.
Blam!
Anak panah itu meledak tepat di atas pelindung lengannya, menyebarkan percikan energi biru yang membakar sebagian asap hitam di sekelilingnya, tetapi gagal menembus zirah baja tersebut. Makhluk itu hanya mundur satu langkah, kepalanya mendongak, mengeluarkan tawa parau yang bergaung mengerikan di dinding batu.