"Minggir, Mich!"
Anggara menyikut bahu Michiru agar mundur ke undakan tangga terbawah yang masih aman dari jangkauan sensor, memberinya ruang. Tangannya yang gemetar dipaksa bergerak dengan cepat.
Dari dalam kantong kecil di ikat pinggangnya, ia menarik sebuah alat peluncur percikan listrik portabel. Sebuah alat yang ia modifikasi sendiri dan biasa digunakan untuk menguji sirkuit arus kuat. Bentuknya tersamar sebagai sebuah obeng bermata pipih.
Di depan mereka, pintu jeruji besi setebal lengan bayi berdiri angkuh, mengunci jalan keluar menuju aula utama museum. Di balik jeruji itu, lorong pameran terlihat sepi, diterangi lampu darurat yang terus berputar merah. Ironis sekali, kebebasan hanya berjarak satu jengkal, tetapi dipisahkan oleh ratusan kilogram baja tempa.
"Berapa lama, Ga? Dia sudah di belokan tangga!" Michiru mendesak tak sabar. Jari-jarinya mencengkeram erat jeruji besi, matanya melebar menatap kegelapan di bawah kaki mereka.
Dari kedalaman tangga batu, suara srek-srek itu berhenti. Berganti dengan suara dengusan, menghembuskan bau busuk belerang yang semakin pekat menusuk hidung. Langkah kaki berat itu kini terdengar bergaung di dinding lorong yang melengkung. Makhluk zirah hitam itu sengaja memperlambat langkahnya, seperti menikmati aroma keputusasaan yang menguar dari tiga manusia yang terpojok di ujung jalan.
"Dua puluh detik! Jangan ajak aku bicara!" Anggara mendesis. Ujung obengnya menghantam penutup kotak sekering hidrolik di samping pintu dengan bunyi klang beberapa kali.
Penutup besi itu terlepas akhirnya, jatuh ke lantai marmer dan menimbulkan gema yang panjang. Di dalamnya, untaian kabel tebal berlapis karet hitam dan merah teratur rapi, terhubung pada sebuah dinamo silinder yang menggerakkan sistem pengunci otomatis.
Anggara menempelkan ujung alat peluncur percikannya langsung ke terminal utama.
"Mich, Yashna, pegang sesuatu! Begitu arus ini berbalik, dinamonya akan meledak!"
Yashna, yang bersandar pada dinding batu dengan napas yang terputus-putus, menatap busur di genggamannya. Senjata itu terasa berat, dingin, dan mati. Tidak ada lagi pendaran biru di sepanjang ukiran sulurnya. Setiap kali ia mencoba menarik Prana dari inti batinnya, dadanya terasa seperti dihantam palu godam. Itu terjadi karena efek penolakan atmosfer bumi terhadap sisa energi prana Elvara yang ia bawa. Namun, mata peraknya tidak berkedip. Ia menegakkan punggung, menempatkan tubuhnya yang rapuh di depan Anggara dan Michiru, bersiap menggunakan fisiknya sendiri sebagai perisai terakhir jika jeruji itu gagal terbuka.
Sret.
Sebuah bayangan raksasa memanjang di dinding tangga, memotong cahaya merah yang berputar. Sosok prajurit Danava berzirah serigala itu muncul di undakan teratas. Helm besinya yang berbentuk kepala binatang mendongak, sepasang mata merahnya menyala memantulkan cahaya dari celah jeruji. Asap hitam di sekeliling tubuhnya kini bergulung-gulung, memenuhi langit-langit koridor sempit itu dengan kabut gelap yang membuat mata perih.