Putri Yashna

Arif Sufyan
Chapter #10

Sumpah Darah

Udara di aula timur membeku. Detik seolah ditarik paksa menjadi lambat ketika tangan raksasa berlapis baja hitam itu bergerak turun, bersiap meremukkan tulang leher Yashna. Bau belerang menyengat dari tubuh prajurit elit Danava tersebut, juga asap hitam yang pekat sehingga membuat mata Michiru berair dari balik punggung Anggara.

Yashna tidak mundur selangkah pun. Mata peraknya menatap lurus ke dalam sepasang lingkaran merah membara di balik helm serigala itu. Di tangannya, Busur Pusaka yang terbuat dari kayu hitam masih terasa dingin dan membisu. Namun, di dalam rongga dadanya, sesuatu yang lebih purba dari sihir sedang bergolak, darah dinasti Elvar yang menolak untuk tunduk pada kepada para pengkhianat.

Jika dunia ini hampa akan prana, maka biarlah ragaku yang menjadi bahan bakarnya. Demikian Yashna akhirnya memutuskan.

"Anggara, Michiru ... mundur!"

Yashna berteriak dalam bahasa bumi yang patah-patah, tetapi nadanya memiliki resonansi kepemimpinan yang begitu agung sehingga kedua sahabatnya itu secara refleks melangkah mundur ke belakang pilar arca.

Sebelum prajurit zirah hitam itu sempat menyentuh kulitnya, Yashna mengangkat tangan kirinya ke atas bilah atas Busur Pusaka. Tanpa ragu, ia meremas ukiran runcing Aksara Kanuragan yang paling tajam pada busur itu dengan telapak tangannya sendiri.

Sret!

Darah segar berwarna merah kental mengalir deras dari telapak tangannya, membasahi sulur-sulur ukiran kayu hitam kuno di badan busur. Darah seorang putri mahkota. Darah keturunan murni dari dinasti Elvar, sang pencipta gerbang dua dunia.

Seketika, Busur Pusaka itu bergetar hebat di dalam genggamannya. Suara dengungan bernada tinggi—seperti nyanyian ribuan tawon —pecah mengisi seluruh ruangan bawah tanah yang luas. Ukiran-ukiran sulur kuno di sepanjang lengkungan busur tidak lagi memancarkan cahaya biru redup, melainkan menyala dengan warna biru elektrik yang sangat terang, menyerap darah Yashna sebagai kunci aktivasi senjata yang telah tertidur selama ribuan tahun.

Pruuuummm!

Sebuah gelombang prana murni meledak keluar dari poros busur, menghantam dada Danava berzirah hitam itu dalam jarak dekat. Hantaman energi tersebut begitu masif hingga zirah baja legam sang prajurit mengeluarkan suara berderit nyaring, memaksa tubuh raksasanya terdorong mundur tiga langkah ke belakang, lantas menghantam pintu kayu ganda hingga engselnya retak.

Yashna terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Pengorbanan darah itu memicu Transformasi Mode Tempur pertamanya di Bumi, meskipun dalam skala yang belum sempurna.

Otot-otot di lengan dan kakinya mengencang, memberi kekuatan instan yang menghapus rasa sakit akibat cederanya. Kulitnya yang pucat mulai memancarkan cahaya keperakan samar, menyatu dengan aura prana mistis yang mengelilingi tubuhnya. Rambut silvernya yang panjang kini berubah kemerahan, dan berkibar liar di udara seolah-olah ditiup angin badai yang tak kasat mata, mengikuti setiap embusan napasnya yang memburu.

Prajurit zirah serigala itu menggeram murka, menggelengkan kepalanya yang didera rasa sakit. Mata merahnya menatap ngeri pada transformasi di depannya.

"Sumpah darah dinasti," desisnya dengan nada yang tak lagi meremehkan. Danava tersebut sekarang dipenuhi kewaspadaan tinggi.

Lihat selengkapnya