Blurb
Sandi: Sadar diri, Nerima, Disolusikan.
Dunia ini absurd dan penderitaan kerap datang tanpa alasan. Sandi mengetahuinya sejak ingatan pertamanya di tahun 1990. Sejak saat itu, hidupnya adalah pertarungan sunyi antara menyerah pada takdir atau belajar menerima retakannya.
Di tengah pencarian makna yang dingin dan melelahkan, Sandi menyadari satu hal: ia tak bisa berdamai dengan dunia jika terus berjalan sendirian.
Jawaban atas penderitaannya tidak ditemukan dalam teori filosofis yang rumit, melainkan pada tatapan Lestari dan tawa anak-anaknya saat merangkai kepingan puzzle kehidupan yang tersisa.
Bukan tentang bagaimana menaklukkan takdir, melainkan bagaimana sebuah keluarga saling menyembuhkan di tengah takdir yang patah.