PUZZLE KEGILAAN

Sandi Purnama
Chapter #1

BAB 1: GUNTING DAN BAYANGAN HITAM

Bandung, 1990. Kota ini, dalam ingatan kolektif orang lain, mungkin adalah tempat yang sejuk dengan jajaran pohon flamboyan yang berbunga kemerahan dan arsitektur kolonial yang anggun. Namun bagiku, Sandi, seorang bocah berusia lima tahun yang lahir pada tahun 1985, Bandung tidak pernah benar-benar memiliki warna. Jika hidup adalah sebuah televisi, maka duniaku adalah layar tabung kuno yang terus-menerus mengalami gangguan sinyal—pudar, keabu-abuan, dan terkadang bergetar secara tidak wajar.

Aku sering menghabiskan waktu dengan menatap tirai jendela di rumah kami yang terletak di sudut jalan yang sunyi. Di mataku, cahaya matahari yang masuk ke sela-sela kain gorden tipis itu bukan sekadar cahaya. Ia membawa ribuan, mungkin jutaan, debu mikroskopis yang menari-nari dalam berkas sinar—sebuah fenomena yang belakangan kuthak-athik sebagai Tyndall effect. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memperhatikan makhluk-makhluk debu itu. Bagiku, mereka seperti hantu kecil yang terperangkap dalam dimensi cahaya, bergerak kacau namun memiliki ritme tersendiri.

Usia lima tahun seharusnya adalah masa di mana seorang anak berlarian dengan lutut yang luka karena jatuh dari sepeda, atau suara tawa yang memenuhi halaman saat bermain petak umpet. Namun, bagiku, eksistensi adalah tentang bagaimana aku bisa bertahan di dalam hening yang absolut. Aku merasa ada sebuah tirai transparan, setipis selaput telur namun sekuat baja, yang memisahkan diriku dengan apa yang orang dewasa sebut sebagai "realitas".

Aku adalah "Aku". Sandi. Seorang bocah dengan rambut berkuncir—sebuah ciri fisik yang sering kali membuatku merasa ganjil di antara anak-anak laki-laki sebayaku. Rambut itu bukan sekadar gaya, ia terasa seperti antena yang menangkap frekuensi-frekuensi yang tidak diinginkan. Aku merasa dunia di luar kepalaku terlalu bising. Suara klakson mobil di kejauhan, suara gesekan sapu lidi di halaman, bahkan suara detak jam dinding di ruang tamu, semuanya masuk ke telingaku dengan volume yang tidak proporsional. Terlalu kasar. Terlalu menuntut.

Apakah aku antisosial? Mungkin para ahli jiwa di masa depan akan memberikan label itu padaku. Namun bagiku, menjauhi orang lain adalah satu-satunya cara untuk menjaga agar struktur batinku yang serapuh porselen tidak pecah berserakan. Menarik diri adalah cara aku mencintai diriku sendiri.

Pagi itu, ubin semen di rumah kami terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku duduk bersila di atasnya, membiarkan rasa dingin itu merambat dari pangkal paha hingga ke tulang belakang. Rasa dingin itu adalah pengingat bahwa aku masih berpijak di bumi, meskipun pikiranku sering kali melayang jauh ke tempat-tempat yang tidak bernama.

Di depanku, berserakan kepingan-kepingan puzzle kayu. Ini bukan sekadar permainan bagiku. Ini adalah ritual suci. Puzzle adalah satu-satunya benda di dunia ini yang tidak menghakimiku. Ia tidak pernah bertanya mengapa aku tidak suka bicara, ia tidak pernah memaksaku untuk tersenyum hanya demi kesopanan sosial, dan ia tidak pernah menuntutku untuk menjadi sesuatu yang bukan diriku.

Setiap kepingan memiliki lekukan yang unik. Aku suka meraba pinggirannya yang kasar, mencium bau kayu pinus yang samar, dan mencoba membayangkan di mana posisi mereka dalam skema besar gambar tersebut. Puzzle adalah duniaku yang bisa kukendalikan. Di dalam kotak puzzle, kekacauan bisa diselesaikan. Jika ada bagian yang hilang, dunia terasa kiamat. Namun jika semua terpasang, untuk sesaat, aku merasa utuh.

"Aa, Wati ikut..."

Suara itu lembut, namun di telingaku yang sensitif, ia memecah lamunanku seperti batu yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang. Aku menoleh perlahan. Wati, adik perempuanku yang baru berusia tiga tahun, berdiri di ambang pintu kamar. Sinar matahari pagi membingkai tubuh kecilnya, membuatnya tampak seperti siluet malaikat yang tersesat di rumah tua kami.

Wati mengenakan baju kecil yang rapi, hasil setrikaan Nenek yang telaten. Matanya bulat polos, penuh dengan binar keingintahuan yang belum ternoda oleh ketakutan-ketakutan aneh seperti yang kualami. Wati adalah anomali dalam hidupku. Dia adalah adik, sekaligus pelindung batin yang diam-diam menenangkan. Di mana pun aku berada, dia selalu ada di sana. Terkadang ia hanya memegang ujung bajuku dengan jari-jari kecilnya yang hangat saat kami berjalan, atau sekadar duduk dengan tenang di sampingku, memperhatikanku menyusun puzzle selama berjam-jam tanpa pernah merasa bosan.

"Hayu," jawabku singkat.

Suaraku sendiri terdengar asing di telingaku. Kadang-kadang aku merasa seperti seorang pengendali mesin yang sedang mengoperasikan tubuh bocah laki-laki ini dari dalam. Kata-kata itu keluar bukan karena aku ingin bicara, melainkan karena aku tahu itu adalah bagian dari naskah harian yang harus kujalani.

Kelelahan di Atap Rumah

Nenek menyiapkan tas sekolahku yang berwarna biru dan tas kecil milik Wati. Nenek adalah sosok yang tegar, namun jika kau memperhatikannya lebih dekat, seperti aku memperhatikan kepingan puzzle, kau akan melihat garis-garis keriput yang permanen di tubuhnya.

Ayah dan Ibu tidak ada di sini. Mereka harus bekerja di luar kota, berjuang di tempat yang jauh demi memastikan kami bisa makan dan aku bisa bersekolah. Absensi mereka menciptakan lubang besar dalam narasi masa kecilku. Aku merindukan mereka, namun kerinduan itu telah membeku menjadi semacam penerimaan yang dingin. Neneklah yang menjadi jangkar kami, mengurus segala keperluan kami dengan sedikit kata namun penuh pengabdian.

Pagi itu, Nenek tidak banyak bicara. Ia hanya mengusap rambut kuncirku sebentar, sebuah gerakan yang biasanya menenangkanku namun kali ini justru membuat saraf di tengkukku menegang.

"Hati-hati di jalan, Sandi. Jaga adiknya," pesan Nenek dengan suara yang serak.

Aku mengangguk kecil. Aku menggandeng tangan Wati. Kami berjalan keluar rumah, melewati pintu kayu jati yang selalu berderit protestatif setiap kali dibuka. Menuju sekolah Taman Kanak-Kanak yang jaraknya secara fisik mungkin hanya seratus meter, namun bagiku, itu adalah ekspedisi melintasi medan perang yang penuh dengan ranjau sensorik.

Langkah-langkah kecil kami berbunyi pelan di atas tanah berbatu yang masih lembap oleh sisa embun semalam. Bandung tahun 1990 masih memiliki aroma yang khas: perpaduan antara bau tanah basah, asap goreng ikan asin dari dapur tetangga, dan wangi bunga melati yang mekar di pagar rumah orang. Namun, keindahan itu terdistorsi oleh kecemasanku.

Sepanjang jalan, Wati tidak melepaskan genggamannya pada jari kelingkingku. Genggamannya hangat, sangat nyata, seolah ia adalah satu-satunya kabel yang menghubungkanku dengan dunia manusia. Namun, di saat yang sama, aku merasakan getaran lain di udara. Sesuatu yang bergeser di balik pohon-pohon mahoni tua yang berjajar kaku di pinggir jalan. Batang pohon yang hitam dan kasar itu seolah-olah menjadi tirai bagi sesuatu yang lebih gelap.

Di sanalah aku melihatnya.

"Dia".

Ia tidak muncul secara gamblang di tengah jalan. Ia selalu memilih sudut mata pada titik buta di mana cahaya gagal menyentuh kegelapan. Sebuah siluet hitam yang pekat, lebih pekat dari bayangan benda apa pun yang pernah kulihat. Ia tidak memiliki tekstur kulit, tidak memiliki helai rambut, dan yang paling membuatku menggigil: ia tidak memiliki wajah. Bentuknya besar dan tinggi menjulang, seolah-olah terbuat dari asap yang membeku atau kain kafan yang dicelupkan ke dalam tinta hitam paling legam.

Dan di tangannya, ia menggenggam sebuah benda yang seharusnya tidak berada di sana: sebuah gunting raksasa.

Grek... grek... grek...

Bunyi logam yang beradu itu tidak masuk melalui telinga luarku. Ia seolah-olah bergema langsung di dalam sumsum tulang belakangku. Setiap kali bilah gunting berkarat itu mengatup, kepalaku terasa seperti ditusuk jarum panas yang menembus hingga ke ubun-ubun. Aku bisa merasakan tekanan udara berubah setiap kali logam itu bergerak. Bayangan itu meluncur tanpa suara di atas tanah, tidak meninggalkan jejak kaki, tidak menggoyang rumput, namun kehadirannya terasa seberat beban ribuan ton yang menekan pundak kecilku.

Lihat selengkapnya