Pagi itu dimulai dengan perasaan yang tidak nyaman di ulu hati, seperti ada gumpalan benang kusut yang tak bisa kulepaskan. Aku terbangun di bawah selimut yang terasa berat, mendengarkan suara napas yang pendek-pendek dari ranjang di sebelahku. Wati. Adikku tersayang itu sedang terbaring lemah, wajahnya yang biasanya cerah kini memerah karena demam yang menyerang sejak semalam. Nenek sedang sibuk di dapur, suara denting panci dan bau air jahe yang sedang direbus menyeruak masuk ke kamar, namun aroma itu tidak mampu mengusir firasat buruk yang bercokol di kepalaku.
Aku berdiri di ambang jendela rumah, menatap ke luar. Langit Bandung pagi ini tampak berbeda. Ia tampak sangat tinggi, begitu jauh, seperti sebuah kanvas biru maha luas yang sedang berusaha menjauh dan melarikan diri dari sesuatu yang buruk di permukaan bumi. Matahari belum sepenuhnya naik, namun cahayanya sudah terasa pucat.
"Aa... sekolah sendiri tidak apa-apa?" suara Nenek terdengar dari balik pintu.
Aku terdiam. Tidak apa-apa? Sebenarnya tidak. Tanpa Wati, aku merasa seperti kehilangan satu lapisan kulitku. Wati bukan sekadar adik; ia adalah perisaiku. Selama ada Wati di sisiku, anak-anak lain biasanya hanya menjadikanku bahan bisikan. Kehadirannya yang normal dan polos seolah menetralkan keanehanku. Tanpanya, aku telanjang. Aku adalah target yang tak terlindungi.
"Iya, Nek," jawabku singkat, meski suaraku terdengar seperti retakan kayu kering.
Langkah kaki menuju sekolah yang hanya berjarak seratus meter itu terasa seperti perjalanan melintasi padang gurun yang tak berujung. Setiap kali kakiku menyentuh tanah, aku merasa ada batu-batu kecil yang menghuni dalam tubuhku, menyelinap ke setiap sudut rongga dada, membuatnya terasa sesak. Aku berjalan menunduk, menghitung setiap retakan di semen jalanan, berusaha tidak melihat ke arah pohon mahoni di mana "Dia" mungkin sedang mengintai dengan gunting raksasanya.
Namun, ketiadaan Aki Jaga pagi ini membuatku semakin gelisah. Biasanya, aroma kemenyan itu akan muncul sebagai perlindungan, tapi kali ini, udara hanya berbau asap sampah yang dibakar tetangga. Aku mengandalkan diriku sendiri.
Sekolahku bukan sekadar bangunan bata dan kayu. Bagiku, ia adalah sebuah entitas yang terbuat dari suara-suara yang menyakitkan. Ada tawa yang terdengar seperti pecahan kaca, tangis yang menyerupai sirene, dan jeritan-jeritan yang bersahutan di area bermain. Semua itu bercampur menjadi sebuah simfoni kacau yang tidak pernah kumengerti logikanya.
Aku masuk ke dalam gerbang sekolah sendirian. Tanpa jari kecil Wati yang menggenggam kelingkingku, tanganku terasa hampa dan gemetar. Aku langsung menuju kelas, melewati kerumunan anak-anak yang sedang bermain kekejar-kejaran. Mereka berbicara dengan ritme yang tak mampu kuikuti, seolah-olah mereka semua berbagi satu kode rahasia universal yang hilang dari sistem sarafku. Guru-guru, dengan suara monoton mereka saat memberikan instruksi, seakan-akan sedang berbicara kepada udara yang sudah kehilangan napasnya, bukan kepada manusia.
Aku mengambil tempat di pojok kelas, sudut favoritku. Di sana, kegelapan sudut ruangan seolah memberiku pelukan pelindung. Aku mengeluarkan kotak kayu berisi puzzle kecil yang dibagikan Ibu Guru. Potongan-potongan puzzle itu adalah satu-satunya duniaku yang masuk akal. Di sana, segala sesuatu memiliki tempatnya. Jika sebuah kepingan memiliki lekukan ke dalam, maka pasti ada kepingan lain yang memiliki tonjolan keluar untuk melengkapinya. Tidak seperti aku, yang merasa memiliki lekukan di tempat yang salah sehingga tidak pernah bisa pas dengan kepingan dunia mana pun.
Ketika aku memasang satu potongan di tempatnya, ada kepuasan kecil yang mengalir di nadiku. Seolah-olah dengan memperbaiki gambar di atas meja itu, aku sedang berusaha memperbaiki serpihan-serpihan jiwaku yang mulai retak. Namun, di luar dunia kecilku, kelas ini tetaplah sebuah ruang kaca yang dingin. Di dalamnya, teman-teman sekelasku saling mengamati dengan mata yang predatoris, seolah mereka sedang mencari titik terlemah pada diriku untuk diserang.
Ruang Tanpa Perisai
Hari berganti dengan lambat. Jam di dinding kelas berdetak seperti palu yang menghantam paku. Aku terus menunduk, fokus pada puzzle-ku, berusaha menjadi tak kasat mata. Namun, tanpa Wati yang biasanya duduk di kursi kecil di pojok sebagai pengalih perhatian, keberadaanku menjadi terlalu mencolok. Aku adalah anomali yang diam. Aku adalah sasaran empuk.
Di tengah pelajaran, ketika Ibu Guru harus keluar ruangan sebentar karena ada panggilan dari kepala sekolah, atmosfer kelas langsung berubah. Keheningan yang tadi dipaksakan kini pecah menjadi keriuhan yang liar. Anak-anak mulai berdiri di atas meja, berlarian seperti angin topan kecil yang merusak segalanya. Suara tawa mereka mulai terdengar lebih tajam, lebih mengancam.
Aku meringkuk lebih dalam ke kursiku. Aku memeluk puzzle di dadaku seolah itu adalah perisai baja yang bisa menahan serangan peluru. Aku menutup mata, mencoba memanggil Aki Jaga di dalam hati. Aki, di mana? Aki, tolong... Namun, yang kudengar hanyalah suara gesekan langkah kaki di lantai semen yang kasar, mendekat ke arahku.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan mejaku. Aku tidak berani mendongak, namun aku bisa merasakan hawa dingin yang bukan berasal dari alam gaib, melainkan dari kebencian murni sesama manusia.
"Lihat ini, si anak aneh sendirian," suara itu kasar, milik salah satu teman sekelasku yang badannya lebih besar.
Aku tetap diam. Aku hanya ingin menghilang. Aku ingin masuk ke dalam kepingan puzzle dan menjadi gambar mati saja. Tapi mereka tidak mengizinkanku. Mereka tidak pernah mengizinkanku untuk sekadar "ada" dalam diam.
"Dia tidak punya mulut, ya? Kenapa tidak pernah bicara?"
Aku merasakan sebuah tangan kasar menjambak kuncir rambutku. Rasa sakit itu menjalar ke kulit kepala, memaksaku untuk mendongak. Di sana, aku melihat mereka. Sekelompok anak yang berdiri melingkariku. Mereka tersenyum, namun senyuman itu tidak kukenali sebagai ekspresi keramahan. Senyuman mereka adalah garis pisau yang tipis, tajam, dan penuh dengan niat yang tidak pernah baik.