Cahaya matahari yang jatuh di halaman Sekolah Dasar tempatku kini menuntut ilmu terasa terlalu terang, hampir-hampir menyakitkan mata. Ia terlalu kontras dengan hatiku yang menggumpal dalam bayang-bayang kecemasan yang tak kunjung usai. Di luar sana, dunia terlihat mengkilap: tembok sekolah yang baru dicat, seragam putih-merah anak-anak yang silau, dan tawa yang memantul di dinding selasar.
Namun, di dalam diriku, semuanya buram. Aku merasa seperti kaca jendela yang dipenuhi noda hujan di tengah hari yang terik. Aku bisa melihat dunia, tapi dunia tak bisa melihatku dengan jernih.
Seragam SD yang kaku ini terasa seperti kulit baru yang dipaksakan. Kainnya yang kasar bergesekan dengan kulitku, membuat setiap gerakanku terasa kikuk, salah, dan tidak wajar. Langkahku menuju gerbang sekolah setiap pagi tidak pernah terasa ringan. Bagiku, jarak lima ratus meter itu telah bermutasi menjadi pendakian tangga tanpa ujung yang menuju ke puncak menara tinggi yang sunyi.
"Ibu ada di sini, Sandi. Jangan takut," ucap Ibuku.
Tangannya menggenggam jemariku. Genggamannya hangat, aku tahu ia mencintaiku dengan seluruh jiwanya, namun aku juga merasakan kerapuhan di sana. Ibuku adalah wanita yang lembut, tapi kelembutannya sering kali terasa seperti sehelai daun kering yang mencoba menutupi badai besar. Kalimatnya yang bermaksud menenangkan justru menjadi pengingat bahwa di luar sana, ada sesuatu yang memang pantas untuk ditakuti.
Saat aku melintasi ambang pintu kelas, dunia mendadak berubah menjadi monster yang lebih ramai, lebih cepat, dan jauh lebih bising daripada yang pernah kubayangkan di masa TK. Anak-anak lain tampak seperti roda-roda gerigi mesin yang saling terhubung; mereka berputar tanpa henti, berbicara dengan kata-kata yang meloncat-loncat seperti percikan api yang sulit kutangkap maknanya.
Setiap kali Pak Guru berdiri di depan, menggoreskan kapur di papan tulis, aku merasakan dinding-dinding kelas seolah bergerak perlahan, menghimpitku ke tengah, mempersempit ruang napasku.
Ikan-Ikan yang Melompat dari Kolam
Pelajaran adalah siksaan lain yang bersifat abstrak. Huruf-huruf dan angka-angka di papan tulis itu sering kali tidak mau diam. Di mataku, mereka berubah menjadi bayang-bayang hitam yang hidup, melompat-lompat seperti ikan kecil yang mencoba keluar dari kolam air yang keruh. Aku memandangi mereka dengan kening berkerut, mencoba sekuat tenaga menangkap makna di balik simbol-simbol itu, tetapi semuanya selalu melarikan diri tepat sebelum aku sempat mencernanya.
"Ini mudah sekali, Sandi. Lihat, satu ditambah satu sam dengan satu..." suara Pak Guru menggantung di udara.
Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan antara kasihan dan tidak sabar. Namun bagiku, soal-soal matematika itu adalah pintu baja yang terkunci rapat, dan aku tidak pernah diberikan kuncinya. Ketika teman-temanku di baris depan sudah selesai mengerjakan tugas dengan sorak-sorai kecil, aku masih terpaku. Tanganku membeku di atas pensil. Aku merasa seperti sebuah batu yang tenggelam di dasar sungai yang arusnya terlalu deras; aku hanya bisa melihat segala sesuatunya lewat begitu saja tanpa bisa ikut mengalir.
Ketidakmampuanku memahami angka dan huruf ini mulai membangun dinding baru yang lebih tebal dari sekadar rasa malu. Ini adalah rasa asing yang absolut. Aku merasa sedang berada di sebuah planet di mana semua orang berbicara dengan bahasa isyarat yang tidak pernah kupelajari.
Tragedi Helai-Helai Identitas
Namun, badai yang sebenarnya datang dalam bentuk instruksi administratif yang dingin. Suatu pagi, di bawah terik upacara bendera, Bapak Kepala Sekolah berdiri di podium. Suaranya datar, tanpa emosi, namun kata-katanya menyayat batin sekeras silet.
"Aturan sekolah adalah mutlak. Anak laki-laki harus rapi. Tidak boleh ada yang berambut panjang, apalagi berkuncir. Besok, semua harus sudah dicukur bersih."
Duniaku runtuh saat itu juga. Kuncir rambut panjangku, yang selama ini terikat rapi oleh tangan Nenek atau Ibu, adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa "benar". Di tengah semua hal yang salah dalam diriku—ketidakmampuanku bicara, ketakutanku pada suara bising—kuncir itu adalah jangkar identitasku. Ia adalah satu kepingan puzzle yang paling kusayangi. Dan sekarang, sekolah ingin merenggutnya.