PUZZLE KEGILAAN

Sandi Purnama
Chapter #5

BAB 5: BERCAK TINTA DARI YANTI

Titik Nadir di Gang Sempit

​Langkah kakiku terasa berat saat menapaki gang sempit yang becek di pinggiran Bandung itu. Bau air got yang menggenang bercampur dengan uap lembap dinding-dinding bata tua, menciptakan rasa pusing yang familiar di kepala. Kontrakan ini bukan sekadar tempat tinggal; ia adalah monumen kehancuran martabat keluarga kami setelah perceraian orang tuaku dan kebangkrutan yang memisahkan kami dari rumah masa kecil.

​Kini duniaku menyusut menjadi kotak beton kusam dengan langit-langit rendah yang seolah siap runtuh setiap kali badai datang. Kontrakan ini berderit setiap kali angin malam bertiup, dan dindingnya terlalu tipis untuk menyembunyikan rahasia. Di sini, isak tangis di tengah malam bukan lagi hal pribadi, melainkan resonansi kolektif dari kemiskinan yang baru kami kenal.

​Kehancuran ekonomi ini terasa seperti luka terbuka yang tak pernah benar-benar kering. Lemari Jati Nenek, satu-satunya benda pusaka yang berhasil kami selamatkan dari rumah tua, kini teronggok di pojok ruang tamu yang sempit. Ia tampak terlalu agung, terlalu besar, dan terlalu penuh dengan memori untuk ruangan sekecil ini. Lemari itu menjadi jangkar terakhirku, satu-satunya bukti fisik bahwa aku pernah menjadi bagian dari sesuatu yang mulia sebelum Ayah menukarnya dengan asap kemenyan Abah Oblak dan janji-janji kosong kejayaan.

​Punggung Ibu dan Isak yang Tertelan

​Ibu adalah pahlawan yang tidak pernah diberi medali. Di siang hari, ia berdiri di balik etalase kios sembako milik orang lain, menghitung recehan dengan mata yang kian hari kian kehilangan binar kehidupan. Namun, saat senja tiba, perjuangannya baru benar-benar dimulai. Dapur sempit kontrakan yang pengap itu berubah menjadi medan perang pesanan katering.

​Aku sering berdiri di ambang pintu dapur, menatap punggung Ibu yang semakin membungkuk di depan uap penggorengan. Aroma masakan Ibu—yang dulu di meja makan rumah tua pernah disebut Ayah sebagai "Senjata Rahasia"—kini kembali memenuhi ruangan, namun aromanya terasa getir. Masakan itu bukan lagi simbol cinta di meja makan yang hangat, melainkan simbol kelangsungan hidup yang harus dibungkus plastik bening dan dijual demi menyambung esok hari. Di tengah desis minyak panas, aku sering mendengar isak tangis kecil Ibu yang ia coba samarkan dengan suara benturan panci dan sudip besi.

​Depresi di Antara Huruf yang Mati

​Adikku, Wati, adalah cermin dari trauma yang paling dalam. Ia baru saja masuk SMP, namun keceriaannya telah lenyap ditelan kepindahan paksa dan perpisahan orang tua kami. Di kamarnya yang pengap, ia menghabiskan waktu berjam-jam dalam kesunyian yang mencekam. Poin paling memilukan adalah ketika aku melihatnya duduk mematung di meja belajar kayu yang sudah reyot.

​Di depannya, buku pelajaran selalu dibiarkannya terbuka, namun tak seuntai kalimat pun yang ia sentuh. Matanya hanya menatap kosong ke arah deretan huruf itu, seolah ia sedang mencari jalan keluar dari realitas ini namun tidak pernah menemukannya. Huruf-huruf dan angka-angka itu telah mati baginya, persis seperti bayangan angka merah yang dulu menghantuiku di masa SD. Wati mengalami depresi bisu, sebuah luka yang tidak berdarah namun merobek segalanya dari dalam.

​Aku mencoba menjalani peran gandaku sebagai mahasiswa dan pencari nafkah sampingan. Aku berjuang memahami teori-teori perkuliahan di kampus, sementara pikiranku tertinggal pada tagihan listrik kontrakan dan nasib Wati yang kian memprihatinkan. Beban ini membuatku merasa seperti sedang membawa gunung di pundakku, membuat setiap langkah kakiku di koridor kampus terasa asing, berat, dan melelahkan.

Lihat selengkapnya