QAI

Fajar Laksana
Chapter #1

Glitch Suci

Usai memimpin wirid, seorang robot memutar tubuhnya menghadap jamaah Subuh, kemudian memulai kultum. Suaranya lembut, diselingi dengan desir gir yang terdengar lirih dari dalam dadanya. Tepat sepuluh detik menjelang waktu kultum habis dia berucap, “dan sesungguhnya hanya kepada Tuhan, Allah, kita, semua makhluk, berserah diri, sebab semua makhluk adalah milik-Nya. Wassss….”

Salam penutup belum terucapkan secara penuh, namun cahaya mata yang sebelumnya menyala biru dengan berkedip-kedip perlahan redup. Suara gir melambat kemudian berhenti. Kepalanya yang tadinya tegas lurus menatap mata setiap jamaah seketika tertunduk. Dayanya habis.

Jamaah Subuh yang jumlahnya tidak sampai menghabiskan total jari tangan berhamburan pergi dengan sedikit percakapan mengenai hama burung pipit yang mengancam sawah. Samsul beranjak dari duduknya, melangkah mendekat ke imaman, “tinggal salam penutup saja dayanya tidak cukup, harusnya kita minta ganti yang lebih canggih.”

Tangan malas Samsul menarik sebuah kabel yang menjulur, menancapkan ujung kabel ke punggung belakang robot. Lampu indikator yang ada di tangan sebelah kanan robot menyala oranye, tanda bahwa daya robot sedang diisi. Samsul duduk bersandar dinding imaman, menatap robot tersebut dengan mata yang masih mengantuk, sementara itu pagi belum juga menjelang.

“Kalau memang robot ini sudah ada sebelum aku lahir, maka robot ini sudah lawas, dan harus segera diganti, daripada nanti dia salah baca sewaktu ngimami atau memimpin doa, bagaimanapun robot ini bukan manusia,” ujar batin Samsul menelisik wujud tubuh humanoid yang menyerupai manusia. Meski sudah bertahun-tahun akrab dengan robot imam, dan setiap pagi mengecas daya, Samsul masih saja terkagum. Rambut ikal, kulit coklat yang menjebak rangkaian logam beranatomi tubuh manusia, wajahnya yang berwarna sawo matang nampak identik dengan wajah orang Indonesia asli, bahkan tubuh logamnya dibalut kemeja dan sarung. Satu-satunya hal yang membedakan dia dengan manusia adalah matanya yang berwarna biru, dan semua hal di tubuh robot itu yang sungguh presisi.

Tepat lima menit kemudian, terdengar suara nginggg panjang, disusul dengan kepala robot yang mendongak, matanya yang kembali memancarkan warna biru, dan nyala indikator di tangan kanan berubah menjadi hijau, “terima kasih, Samsul.”

“Sudah, biasa saja, aku sampai bosan mendengar ucapan terima kasihmu setiap pagi. Aku mau tidur dulu,” tukas Samsul meninggalkan robot imam sendirian terduduk di tempatnya semula. Ketika hampir sampai di depan pintu, robot tersebut memanggil.

“Samsul…”

Samsul menghentikan langkah, lalu dengan mendengus bertanya, “kenapa Qai?”

Lihat selengkapnya