QAI

Fajar Laksana
Chapter #2

Benturan di DPRAI

Ratusan orang berkumpul di depan gedung DPRAI (Dewan Perwalian Rakyat dan Artifisial Intelejen) dengan mengenakan pakaian serba hitam. Setiap dari mereka membentangkan kertas-kertas dengan berbagai macam tulisan yang intinya menuntut dikembalikannya peran manusia secara utuh. Sebagian yang lain membentangkan spanduk kain berukuran besar, yang isi tulisannya kurang lebih sama, lalu beberapa orang lainnya lagi membentuk formasi lingkaran dan membakar satu mobil Tesla di tengah.

Nyanyian-nyanyian yang mendesak pengembalian fungsi manusia tidak henti-hentinya dilantunkan. Puluhan mobil listrik turut menyertai keberadaan mereka dengan mengeluarkan suara sirine yang begitu nyaring.

Hentak ratusan kaki berderap mendekat ke gerbang depan gedung DPRAI, peluh-peluh merambati kulit wajah orang-orang, teriakan demi teriakan dilontarkan tanpa lelah, dan asap-asap membumbung ke langit, menjadi awan, menutup sapuan cahaya di ufuk barat. Kegilaan demi kegilaan terjadi, dan berangsur-angsur menggila.

Di antara mereka ada seorang lelaki yang datang untuk mengembalikan martabat keluarganya setelah seorang humanoid masuk ke lingungan tempat mereka tinggal dan mengambil peran sebagai pimpinan pondok pesantren yang sebelumnya dikelola mendiang bapaknya.

Hadir juga di antara ratusan orang tersebut, sekelompok buruh yang menuntut agar pekerjaan mereka dikembalikan pada tangan manusia. Selain itu, ada seorang perempuan dengan membawa luka menganga di hati sebab kedua anaknya yang masih balita mati akibat perawat humanoid di rumahnya mengalami eror lalu membunuh mereka. Perempuan itu datang demi meminta ganti darah pada pemerintah.

Lihat selengkapnya