BAB 1
Anak yang Dipilih Kehidupan
Malam itu angin berembus pelan melewati hamparan sawah yang mengelilingi sebuah kampung kecil di Sumatera Utara. Dari kejauhan terdengar suara jangkrik bersahutan, berpadu dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an dari surau yang baru saja selesai menunaikan salat Isya.
Di sebuah rumah panggung yang berdiri di tepi pematang sawah, seorang perempuan berbaring lemah di atas tikar pandan. Napasnya tersengal, sementara kedua tangannya sesekali memegang perut yang semakin membesar.
Namanya Sarni.
Namun sebelum kisah tentang bayi yang sedang diperjuangkannya dimulai, ada kisah lain yang telah lebih dahulu mempertemukan dua manusia yang berasal dari dunia yang berbeda.
Bapak Taol bukanlah anak dari keluarga berada.
Ia tumbuh dalam rumah sederhana, terbiasa hidup dengan segala keterbatasan. Sejak kecil ia mengenal arti bekerja keras. Tangan yang seharusnya sibuk bermain, lebih sering membantu orang tua mencari nafkah. Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu berat selama dilakukan dengan jujur.
Meski hidup serba pas-pasan, satu hal yang selalu dijaga keluarganya adalah nama baik.
Bapak Taol tumbuh menjadi pemuda yang santun, rendah hati, rajin beribadah, dan dikenal sebagai sosok yang ringan tangan membantu siapa pun.
Di kampungnya, banyak orang berkata,
"Kalau mencari menantu yang hartanya banyak, Taol bukan orangnya. Tapi kalau mencari menantu yang akhlaknya baik, sedikit sekali yang bisa menandinginya."
Sementara itu, beberapa kilometer dari kampungnya, Sarni menjalani kehidupan yang sangat berbeda.
Ia adalah putri dari seorang tuan tanah yang disegani. Orang tuanya memiliki sawah yang luas, kebun, puluhan kerbau, dan kehidupan yang jauh lebih mapan dibanding kebanyakan warga kampung.
Apa yang diinginkan Sarni hampir selalu dipenuhi.
Bukan karena ia manja.
Melainkan karena ia adalah satu-satunya anak perempuan yang sangat disayangi.
Namun, semakin bertambah usia, satu demi satu teman sebayanya menikah.
Sarni tetap tinggal di rumah.
Usianya terus bertambah.
Di kampung, mulai terdengar bisik-bisik yang tidak pernah ia minta.
"Sayang sekali... cantik, tapi belum juga menikah."
"Jangan-jangan terlalu memilih."
"Kasihan, nanti jadi perawan tua."
Ucapan-ucapan itu tidak pernah disampaikan langsung di hadapannya.
Tetapi cukup sering terdengar hingga sampai ke telinga kedua orang tuanya.
Sang ayah tidak pernah mempermasalahkan usia putrinya.
Namun sebagai orang tua, ia tentu ingin melihat anak perempuannya memiliki pendamping hidup yang baik.
Hingga suatu hari, seseorang menyebut nama Taol.
Seorang pemuda sederhana.
Tidak kaya.
Tetapi dikenal jujur, rajin bekerja, dan taat beragama.
Ayah Sarni tidak membutuhkan waktu lama untuk mengambil keputusan.
"Harta bisa dicari," katanya kepada istrinya.
"Tapi akhlak yang baik belum tentu dimiliki setiap laki-laki."
Melalui keluarga dan tokoh-tokoh kampung, perjodohan itu mulai dibicarakan.
Taol menerimanya dengan penuh hormat.
Sarni pun menerima keputusan orang tuanya dengan lapang dada.
Bukan karena cinta telah tumbuh.
Melainkan karena mereka sama-sama percaya bahwa rumah tangga tidak selalu dimulai dari rasa cinta.
Kadang, cinta justru lahir dari kesediaan untuk saling menerima.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana.
Tak ada pesta besar.