Mentari pagi baru saja menyembul di balik hamparan sawah ketika suara ayam jantan saling bersahutan memecah keheningan kampung. Kabut tipis masih menggantung di atas pematang, sementara embun menempel pada ujung-ujung daun padi yang bergoyang pelan diterpa angin.
Di sebuah rumah panggung yang berdiri kokoh di tepi persawahan, kehidupan telah dimulai jauh sebelum matahari benar-benar menampakkan dirinya.
Asap tipis mengepul dari dapur.
Suara kayu yang terbakar berpadu dengan aroma nasi yang baru matang memenuhi setiap sudut rumah.
Di dapur, Sarni telah sibuk sejak sebelum azan Subuh berkumandang. Dengan cekatan ia menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Sesekali ia meniup tungku kayu agar api kembali menyala, lalu mengaduk sayur yang sedang dimasak di dalam periuk tanah.
Sementara itu, dari ruang depan terdengar suara lembut Bapak Taol melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an selepas salat Subuh. Suaranya tenang, mengalir pelan, menghadirkan rasa damai yang seolah telah menjadi bagian dari rumah itu sejak lama.
Begitulah setiap pagi dimulai.
Sederhana.
Namun penuh kehangatan.
Bapak Taol bukan hanya dikenal sebagai imam masjid dan ustadz di kampung. Ia juga seorang pedagang beras yang ulet. Gudang kecil di samping rumah hampir selalu dipenuhi karung-karung padi hasil panen sendiri maupun titipan warga. Di belakang rumah terbentang kebun yang cukup luas, sementara beberapa ekor sapi dan kerbau menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga mereka.
Meski hidup berkecukupan, Bapak Taol tidak pernah membiarkan anak-anaknya tumbuh dalam kemewahan.
"Kalau ingin hidup berkah," katanya suatu pagi sambil memanggul cangkul, "jangan pernah malu berkeringat."
Kalimat itu diucapkannya tanpa nada menggurui.
Ia lebih suka memberi contoh daripada memerintah.
Setiap selesai sarapan, anak-anaknya telah memiliki tugas masing-masing.
Ada yang membantu ibunya di dapur.
Ada yang membersihkan halaman.
Ada yang memberi makan ayam.
Ada pula yang membantu ayahnya di sawah.
Tak ada pekerjaan yang dianggap terlalu kecil.
Semua dilakukan bersama.
Delapan bersaudara itu tumbuh seperti batang-batang padi di satu petak sawah yang sama. Kadang saling berselisih, kadang berebut lauk ketika makan bersama dalam satu talam besar, tetapi sebelum matahari tenggelam mereka kembali bercanda seolah tak pernah bertengkar.
Di rumah itu, kebersamaan bukan sesuatu yang diajarkan.
Ia tumbuh dengan sendirinya.
Sebagai anak keempat, Arpan berada di tengah-tengah. Ia bukan anak sulung yang dibebani tanggung jawab besar, juga bukan anak bungsu yang selalu dimanja. Mungkin karena itulah ia sering berusaha menarik perhatian dengan caranya sendiri.
Meski demikian, Arpan tumbuh dikelilingi kasih sayang.
Kakak-kakaknya hampir tak pernah membiarkannya bermain sendirian. Mereka bergantian menggendongnya saat masih kecil, mengajaknya berlari di pematang sawah, mengajari menangkap ikan kecil di parit, hingga melindunginya ketika anak-anak lain mulai mengganggunya.
Hubungan Arpan dengan adik bungsunya bahkan lebih istimewa.
Perbedaan usia tidak membuat mereka berjauhan. Justru sejak kecil Arpan senang mengusili adiknya. Kadang ia menyembunyikan sandal, kadang membawa lari mainan, lalu tertawa melihat adiknya mengejar sambil menangis.
Namun siapa pun tahu, tak ada seorang pun yang boleh mengganggu adiknya selain dirinya.
Jika ada anak lain yang membuat adiknya menangis, Arpan akan menjadi orang pertama yang berdiri di depannya.
Begitulah cara Arpan menyayangi.
Usil.
Tetapi melindungi.
Sarni sering hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah anak-anaknya.
"Rumah ini ramai sekali," katanya suatu sore.
Bapak Taol menatap anak-anaknya yang sedang berlarian di halaman. Wajahnya dipenuhi rasa syukur.
"Rumah yang ramai," jawabnya pelan, "adalah tanda Allah menitipkan banyak kebahagiaan."
Tak ada yang menyangka bahwa kebahagiaan itu kelak akan diuji oleh waktu.
Seiring bertambahnya usia, sifat asli Arpan mulai terlihat.
Ia bukan anak yang betah diam.
Saat kakak-kakaknya membantu menggembala sapi ke padang rumput, Arpan justru lebih tertarik mengejar capung di tepi sawah atau bermain layang-layang bersama teman-temannya.
"Pan... sapinya jangan sampai masuk sawah orang!" teriak salah seorang kakaknya dari kejauhan.
"Iya..." jawab Arpan cepat.
Namun beberapa menit kemudian, ia sudah berlari ke lapangan kecil di ujung kampung, meninggalkan sapi yang berjalan sesuka hati.
Tak jarang kakak-kakaknya harus mencari sapi yang tersesat karena ulah Arpan.
Anehnya, setiap kali pulang, wajah Arpan tetap dipenuhi senyum seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Kalau disuruh menggembala, yang digembala malah dirinya sendiri," celetuk salah satu kakaknya, disambut tawa yang lain.
Bapak Taol tidak pernah membentaknya.
Ia hanya menatap Arpan sambil tersenyum tipis.
"Pan," katanya lembut, "kalau Allah sudah memberi amanah, sekecil apa pun itu, jagalah dengan sungguh-sungguh."
Arpan hanya mengangguk.
Entah benar-benar mengerti atau sekadar ingin percakapan itu segera selesai.
Namun satu hal yang pasti, nasihat ayahnya selalu tinggal lebih lama di hati daripada yang mampu ia akui.
Hari-hari terus berlalu.
Tak ada seorang pun di rumah itu yang tahu bahwa kenakalan kecil yang hari ini hanya mengundang tawa perlahan akan tumbuh menjadi kebiasaan yang membawa Arpan pada persimpangan hidup yang lebih rumit.
Masa kecilnya masih panjang.
Dan dunia, diam-diam, sedang menyiapkan pelajaran yang jauh lebih besar untuknya.
Meski hidup mereka tidak pernah bergelimang kemewahan, rumah itu hampir tak pernah benar-benar kekurangan.
Bapak Taol bekerja tanpa mengenal lelah. Sejak matahari belum terbit hingga senja mulai turun, waktunya dihabiskan di sawah, kebun, atau di gudang beras tempat ia menimbang hasil panen warga. Baginya, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bentuk tanggung jawab kepada keluarga yang telah Allah titipkan.
Sementara itu, Sarni mengurus rumah dengan penuh ketelatenan. Delapan anak bukanlah perkara mudah, tetapi ia hampir tak pernah mengeluh. Baginya, rumah yang dipenuhi suara anak-anak adalah rumah yang dipenuhi berkah.
Sesekali, ketika persediaan beras, gula, atau kebutuhan dapur mulai menipis sebelum musim panen berikutnya tiba, Sarni hanya tersenyum kecil.
"Aku ke rumah Mak sebentar," katanya sambil mengambil selendang.
Rumah orang tuanya berada di kampung sebelah. Jaraknya tidak dekat, tetapi juga bukan sesuatu yang asing untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Jalan setapak yang membelah sawah, kebun karet, dan sungai kecil telah begitu akrab dengan langkahnya sejak kecil.
Tak ada rasa malu.
Tak ada rasa sungkan.
Sarni tahu, rumah itu akan selalu menerimanya.
Begitu tiba di halaman rumah orang tuanya, suara nenek Arpan biasanya sudah terdengar lebih dulu.
"Sarni... sudah datang kau, Nak?"