"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #3

Anak yang Sulit Diam

BAB 3


Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika halaman rumah Bapak Taol mulai ramai oleh aktivitas pagi. Embun yang semalam membasahi rerumputan perlahan menguap, sementara suara lonceng kecil di leher sapi terdengar bersahut-sahutan dari kandang di belakang rumah.

"Pan..."

Suara Bapak Taol terdengar tenang dari arah kandang.

Arpan yang saat itu berusia sekitar delapan tahun sedang asyik membuat pedang dari pelepah pisang bersama beberapa teman sebayanya.

"Pan... ke sini sebentar."

Arpan menoleh sekilas.

"Iya, Yah..."

Namun jawabannya hanya sebatas angin. Tangannya tetap sibuk mengayunkan pelepah pisang sambil tertawa bersama teman-temannya.

Tak lama kemudian, kakak laki-lakinya datang menghampiri.

"Pan, Ayah nyuruh bantu menggembala sapi."

Arpan mengembuskan napas panjang.

"Abang aja lah."

"Kemarin juga aku."

"Kan Abang lebih pandai."

"Pan..."

"Aku sebentar lagi."

Sebentar menurut Arpan sering kali berarti sampai matahari mulai condong ke barat.

Menggembala sapi sebenarnya bukan pekerjaan yang sulit.

Sapi-sapi itu hanya perlu dibawa ke padang rumput di pinggir sawah, diawasi agar tidak masuk ke lahan milik orang lain, lalu dibawa pulang menjelang sore.

Namun bagi Arpan, pekerjaan itu terasa membosankan.

Padang rumput baginya bukan tempat bekerja.

Melainkan tempat bermain.

Baru beberapa menit sapi-sapi itu mulai makan rumput, Arpan sudah berlari mengejar capung.

Tak lama kemudian ia berpindah bermain kelereng.

Lalu ikut teman-temannya membuat bendungan kecil di parit.

Ketika suara tawa anak-anak terdengar, Arpan selalu lupa bahwa ia sedang menjaga ternak.

Sore itu, salah seekor sapi peliharaan keluarga berjalan masuk ke sawah tetangga.

Suara teriakan terdengar dari kejauhan.

"Oi... sapi siapa ini?"

Arpan tersentak.

Ia berlari sekencang mungkin.

Namun semuanya sudah terlambat.

Beberapa batang padi muda telah rebah diinjak sapi.

Dengan wajah pucat, Arpan hanya bisa menundukkan kepala ketika pemilik sawah mengantarkan sapi itu pulang.

Bapak Taol keluar dari rumah.

Beliau mendengarkan penjelasan tetangganya tanpa menyela sedikit pun.

Setelah meminta maaf dan berjanji mengganti kerusakan yang terjadi, beliau mempersilakan tetangganya pulang.

Arpan berdiri mematung.

Ia yakin kali ini ayahnya akan marah besar.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Bapak Taol duduk di beranda.

"Pan."

Arpan mendekat perlahan.

"Duduk."

Arpan menunduk.

"Ayah tidak marah karena padinya rusak."

Arpan mengangkat wajahnya perlahan.

"Ayah sedih karena Ayah sudah percaya sama kamu."

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.

Tak ada hukuman.

Tak ada cubitan.

Tak ada rotan.

Hanya kekecewaan yang diucapkan dengan suara lembut.

Arpan tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bersalah bukan karena membuat masalah, melainkan karena telah mengecewakan ayah yang begitu ia hormati.

Meski demikian, sifat Arpan tidak mudah berubah.

Esok harinya ia kembali berlarian bersama teman-temannya.

Bedanya, kali ini ia memilih membawa sapi lebih dekat ke tempat mereka bermain.

"Kalau sapinya di sini, aku bisa main juga," pikirnya polos.

Teman-temannya tertawa melihat ide itu.

"Pan memang paling banyak akalnya."

Arpan hanya tersenyum bangga.

Ia memang anak yang selalu mencari jalan yang menurutnya paling mudah.

Kadang berhasil.

Kadang justru menimbulkan masalah baru.

Selain menggembala, ada satu kebiasaan lain yang membuat nama Arpan cukup dikenal di kalangan anak-anak kampung.

Pohon mangga milik Pak Jamin.

Pohon itu tumbuh tinggi di pinggir jalan desa.

Buahnya terkenal manis.

Setiap musim panen tiba, ranting-rantingnya dipenuhi mangga yang menggoda siapa saja yang lewat.

"Pan..."

bisik salah seorang temannya suatu siang.

Lihat selengkapnya