"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #4

Bangku yang Tak Pernah membuatnya betah

BAB 4


Tahun-tahun berlalu begitu cepat.

Anak kecil yang dahulu selalu digendong kakak-kakaknya kini mulai mengenakan seragam merah putih yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Celana pendeknya masih sering kedodoran, sementara tas kain pemberian ibunya tergantung longgar di pundaknya.

Pagi itu, Sarni berjongkok di hadapan Arpan.

Dengan sabar ia merapikan kerah baju sekolah putranya, menyisir rambut lurusnya yang selalu sulit diatur, lalu mengusap pipinya pelan.

"Belajar yang rajin ya, Pan."

Arpan hanya mengangguk.

Baginya, sekolah bukan sesuatu yang istimewa.

Yang membuatnya bersemangat hanyalah berjalan kaki bersama teman-teman melewati pematang sawah.

Perjalanan menuju sekolah memakan waktu cukup lama. Jalan setapak yang membelah persawahan menjadi jalur yang setiap hari mereka lalui. Kadang mereka berhenti sejenak untuk menangkap capung, memetik bunga liar, atau sekadar melihat ikan-ikan kecil berenang di saluran irigasi.

Sering kali, mereka sampai di sekolah dengan kaki penuh lumpur.

Guru-guru sudah mengenal tingkah anak-anak kampung itu.

"Sepatunya dicuci dulu sebelum masuk kelas."

Arpan hanya tersenyum kecil.

"Iya, Bu Guru."

Hari pertama sekolah tidak membuat Arpan jatuh cinta pada pelajaran.

Huruf-huruf di papan tulis terasa membosankan.

Angka-angka membuatnya cepat menguap.

Sementara dari jendela kelas, ia bisa melihat pepohonan yang bergoyang ditiup angin.

Burung-burung beterbangan.

Teman-temannya di kelas sebelah sedang berolahraga.

Pikirannya selalu terbang ke mana-mana.

"Arpan."

Suara guru membuyarkan lamunannya.

"Coba baca yang di papan."

Arpan berdiri.

Ia menatap tulisan itu cukup lama.

Beberapa huruf berhasil dibacanya.

Sebagian lagi hilang begitu saja dari ingatannya.

Teman-temannya mulai terkikik.

Guru itu tidak memarahinya.

Beliau hanya tersenyum.

"Kamu sebenarnya bisa, Pan."

"Tapi kamu harus lebih banyak memperhatikan."

Arpan mengangguk.

Namun esok harinya, ia kembali mengulangi hal yang sama.

Bapak Taol selalu menanyakan sekolah setiap malam.

"Belajar apa hari ini?"

Arpan menggaruk kepala.

"Banyak, Yah."

"Banyak apa?"

"Banyak kali."

Jawaban itu membuat kakak-kakaknya tertawa.

Bapak Taol ikut tersenyum.

Beliau tidak pernah memaksa.

Beliau hanya berkata,

"Ilmu itu bekal hidup, Pan. Sawah bisa habis. Harta bisa hilang. Tapi ilmu akan ikut ke mana pun kamu pergi."

Kalimat itu terus diulang berkali-kali sepanjang masa kecil Arpan.

Sayangnya, Arpan belum benar-benar memahami maknanya.

Meski tidak menyukai pelajaran di kelas, Arpan memiliki satu kelebihan yang membuat guru-gurunya sering geleng kepala.

Ia hampir tidak pernah kehabisan tenaga.

Saat jam olahraga dimulai, Arpan selalu menjadi yang paling bersemangat.

Ia berlari paling cepat mengejar bola.

Melompat paling tinggi saat bermain voli sederhana dengan bola anyaman.

Tak jarang ia juga membantu teman yang terjatuh tanpa diminta.

Guru olahraga pernah berkata kepada Bapak Taol saat pembagian rapor,

"Pak Taol, anak ini sebenarnya punya semangat yang luar biasa."

"Hanya saja..."

Beliau tersenyum.

"Semangatnya lebih banyak dipakai di luar kelas daripada di dalam kelas."

Bapak Taol tertawa kecil.

"Itu memang Arpan."

Sore hari selepas sekolah, buku-buku Arpan hampir selalu langsung diletakkan di atas lemari.

Belum sempat Sarni menyuruhnya berganti pakaian, Arpan sudah berlari keluar rumah.

Kadang menuju lapangan.

Kadang ke sungai.

Kadang mencari teman-temannya.

Kalau matahari mulai tenggelam dan Arpan belum juga pulang, Sarni tahu harus mencarinya ke mana.

Bukan ke rumah tetangga.

Melainkan ke sungai.

Atau ke lapangan tempat anak-anak bermain bola.

Lihat selengkapnya